Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Terungkap sudah Kebenaran


__ADS_3

"Mama ... Papa...," sapa Sakha kembali saat dia mendapati orangtuanya berada di depan.


Bergegas Jasmine dan Atha langsung mendekati Sakha yang memanggil mereka. Saat itu Byan masih mematung di depan pintu.


"Kamu sudah bangun, sayang? Mana yang sakit, Hem?" sambil bertanya, Jasmine menggenggam tangan Sakha dengan deraian air mata bahagia.


Sakha hanya menggeleng pelan.


"Jangan menangis, Ma. Maafin Sakha sudah buat Mama dan Papa khawatir," ucap Sakha dengan suara yang masih terlihat lemah.


"Mulai sekarang Sakha harus nurut sama Papa dan Mama, ya. Nggak boleh buat Mama sedih lagi. Sekarang istirahatlah, sayang!" Atha mengelus rambut Sakha dengan lembut.


Lalu dari arah belakang tampaklah Byan dan juga Darwish serta Wandi dengan Jane masuk ke ruangan Sakha berurutan.


"Om Abi," ujar Sakha saat melihat Byan berjalan sangat pelan hendak mendekati Sakha.


Atha sontak menoleh ke belakang dengan tatapan datar. Sedangkan Byan yang ditatap seperti itu langsung berhenti berjalan. Jasmine, wanita itu hanya menatap putranya dengan iba.


"Sakha, Papa keluar sebentar untuk menemui dokter, ya!" ujar Atha beralasan.


Sakha mengangguk mengiyakan.


Atha pun berbalik melangkah lalu berhenti tepat di depan Byan, kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Aku perlu penjelasan dari kalian berdua, aku tunggu di parkiran," bisik Atha pelan, dengan yang di maksudkan 'kalian' adalah Byan dan Jasmine.


Atha pun melangkah keluar tanpa berpamitan pada istrinya. Jasmine hanya mendengar langkah kaki suaminya menjauh.


"Mas Atha!" panggil Jasmine sedikit berteriak tapi nyatanya Atha sudah melewati pintu kamar inap itu.


"Sakha Mama keluar nyusul papa sebentar saja, ya!" ucap Jasmine sedikit terlihat panik.


"Jangan lama-lama ya, Ma!" pinta Sakha.


"Ya sayang," Jasmine pun melangkah sembari membuang muka pada Byan saat melewati lelaki itu. Lalu mengejar Atha.


Byan hanya memandang kepergian Jasmine dengan rasa penyesalan dan marah.


"Om Abi," panggil Sakha.


Byan mendekati Sakha disusul dengan Darwish dan Wandi serta Jane.


"Sakha, maafin Om karena tidak pamit pulang ke Amerika sama kamu sayang," Byan mengelus kepala Sakha dengan penuh rasa sayang.

__ADS_1


"Sakha kangen sama Om. Sakha ingin Om tinggal di sini, jadi kita bisa bertemu terus," ucap Sakha masih dengan suara lemahnya.


Byan hanya tersenyum tulus mendengar perkataan dari Sakha tanpa menjawabnya.


Kini Byan baru mengerti kenapa Sakha mirip dengannya dan selama ini dia maupun Sakha begitu sulit untuk berpisah, karena ternyata memang mereka berdua memiliki ikatan darah yang kental, yakni sebagai anak dan ayah.


"Selesaikanlah urusanmu dengan Atha dan Jasmine. Beritahukan yang sebenarnya tentang kebenarannya. Nanti Sakha biar Papi yang jaga di sini," kata Darwish pada Byan.


"Baiklah," ujar Byan.


"Abyan, aku ikut. Kau juga harus menjelaskannya padaku," Jane penasaran bercampur kesal.


"Tunggu di sini. Nanti aku jelaskan setelah urusanku dan mereka berdua selesai, oke!" cegah Byan pada Jane, dia tidak ingin Jane bergabung dalam penyelesaian masalah keluarganya walaupun Jane merupakan tunangannya.


Jane terlihat kesal, tapi dia mencoba untuk bersabar menghadapi Byan. Sebenarnya dia takut jika memang kebenarannya Sakha adalah anaknya, maka dia akan menjadi ibu tiri. Dan status itu rasanya tidak ingin melekat padanya yang seorang model terkenal, pikir Jane.


"Sakha, Om Abi nyusul mama dan papa dulu di luar, oke!" pamit Byan pada Sakha.


Sakha pun mengangguk, dan tidak lepas pandangannya tertuju pada Byan sampai tubuhnya tak terlihat lagi.


"Kenapa semua orang pergi meninggalkan Sakha, padahal Sakha masih sakit," gumam Sakha bingung dan terlihat murung.


Darwish mendekati Sakha dan menarik tangannya untuk dia genggam. Antara senang dan kecewa pada Byan saat mendengar jika Sakha adalah cucunya. Tapi yang pasti Darwish begitu bersyukur mempunyai pewaris dari Byan. Dia sempat takut bila Byan hanya akan bermain-main dengan dunianya seenaknya sehingga Sampai saat ini belum menikah. Tapi nyatanya semua itu tertutup oleh rahasia besar dari Byan dan Jasmine.


*******


Saat ini Byan mencari keberadaan Jasmine dan Atha di tempat parkir rumah sakit. Setelah ketemu, Byan pun memasuki mobil Atha yang sudah bersama Jasmine, mereka duduk di depan bersebelahan. Tampak wajah Atha yang menahan amarah. Sedangkan Jasmine terlihat sedih seperti sedang menangis tanpa bersuara.


Sekarang sudah lengkap bertiga yang ada di mobil itu. Byan yang duduk di belakang Atha, tampak bingung ingin mengatakan apa dari awal. Akhirnya hening selama satu menit.


"Katakan, bagaimana bisa kalian berdua membodohi ku, pura-pura tidak saling mengenal, tapi nyatanya kalian mempunyai rahasia yang hanya kalian tahu berdua," Atha mencoba bersuara santai tapi hatinya begitu sakit menahan amarah yang sepertinya ingin meledak. Tapi sebisa mungkin dia bersikap sabar dengan cara mengingat Allah untuk meminta dikuatkan hatinya.


"Mas ... aku ... aku sebenarnya...," ucap Byan terbata. Dia takut akan melukai perasaan saudaranya itu, apalagi tentang masa lalunya dan Jasmine saat itu.


"Katakan dengan benar, aku tidak ingin ada kebohongan lagi oleh kalian berdua," tegas Atha.


Byan melirik Jasmine yang hanya tertunduk sedih sambil menghapus air matanya dengan tisu. Dengan begitu tidak ada cara lain selain Byan akan berterus terang tanpa persetujuan dari Jasmine.


"Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya," pasrah Byan di awal hendak memberikan penjelasan.


Byan pun akhirnya bercerita panjang lebar kepada Atha. Jasmine hanya diam dan membiarkan Byan yang bercerita sendiri kepada Atha. Tidak ada cerita yang terlewat satupun. Semua persis seperti beberapa tahun lalu ketika dirinya dan Byan menikah siri. Hanya satu yang terlewat oleh Byan, yaitu tentang perasaan dirinya kepada Jasmine yang saling mencintai, hanya itu saja yang tak di ceritakan oleh Byan. Dan itu membuat Jasmine merasa lega. Setidaknya Byan merahasiakan tentang perasaan di antara mereka.


"Kejadian sebesar ini kalian rahasiakan dariku, bahkan selama ini? Hingga Sakha ada di dalam kandungan sampai lahir ke dunia ini. Aku seperti orang bodoh di mata kalian," ucap Atha menaikan satu sudut bibirnya dengan perasaan kecewa.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas. Sungguh aku baru saja tahu jika Sakha adalah anakku, itupun dari kediaman Jasmine," ujar Byan dengan jujur.


Atha melirik ke arah Jasmine. Sejak tadi Jasmine hanya diam tanpa bergeming. Itu artinya semua yang dikatakan oleh Byan adalah benar adanya.


"Kenapa kau menutupi kebenaran soal Sakha pada semua orang termasuk Byan? Selama hampir 7 tahun pernikahan kita, kau tetap merahasiakan sampai saat ini," tanya Atha menatap lekat Jasmine, seakan meminta penjelasan pada istrinya itu.


Hening sejenak. Jasmine menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya perlahan untuk menetralkan suasana hatinya.


"Bagaimana aku mengatakan padamu jika ayah kandungnya saja tidak menginginkan seorang anak, bahkan dia sempat menyuruhku menggugurkan bayi di dalam kandunganku bila aku hamil. Makanya sejak awal aku tidak pernah memberitahu tentang Byan apalagi namanya padamu, karena aku tidak ingin dia tahu jika aku telah melahirkan anak darinya. Apalagi saat aku tahu Byan adalah sepupumu, aku berusaha untuk menjauhkan Sakha dari ayahnya, tapi nyatanya itu tidak bisa dihindari," jelas Jasmine dengan jujur, tidak dibuat-buat.


Byan yang mendengarkan itu sangat terpukul. Dia menyadari bahwa ternyata dulu dirinya begitu egois. Bahkan perkataan dia yang dulu menyuruh Jasmine untuk menggugurkan kandungannya jika wanita itu hamil, malah dirinya begitu sangat menyayangi Sakha. Sungguh Byan menyesali perbuatannya.


"Sakha yang malang. Bahkan dia menjadi korban keegoisan dari perbuatan kedua orang tua kandungnya," ujar Atha semakin pusing telah mengetahui tentang kebenaran yang menusuk hatinya.


Sakit, itulah yang dirasakan Byan saat ini. Mendengar ucapan Atha begitu menusuk hatinya yang semakin yakin bahwa dirinya adalah seorang lelaki pecundang.


"Maaf, aku akui memang saat itu aku memiliki prinsip tidak akan menikah dan punya anak, itu karena ada satu alasan," ungkap Byan dengan suara sedikit bergetar.


"Apa alasannya?" tanya Atha sembari melirik wajah Byan dari kaca spion di depannya.


Byan diam beberapa detik, dia tertunduk lesu.


"Apa alasannya?" tanya Atha kembali.


"Alasannya ... alasannya karena aku tidak ingin Papi memanfaatkan anakku untuk merebut kedudukanmu di perusahaan," ungkap Byan yang terpaksa harus membongkar perbuatan Darwish yang dari awal merebut posisi Atha sebagai pewaris perusahaan utama di pusat.


"Sudah kuduga," gumam Atha pelan. Dia cukup tahu dengan jalan pikiran Byan. Karena memang Atha begitu dekat dengan Byan sejak kecil. Byan pun orang yang baik dan tidak serakah seperti Darwish.


"Sekarang pergilah kalian temui Sakha. Aku ingin sendirian dulu di sini," pinta Atha membuang pandangannya ke arah samping kaca mobilnya sebelah kiri.


"Tapi Sakha membutuhkan dirimu, Mas. Kita masuk sama-sama, ya!" seru Jasmine gusar.


"Bukankah ada Byan sekarang? Jadi temui lah Sakha. Aku akan menyusul," tekan Atha memberi perintah.


"Tapi Mas...," bantah Jasmine.


"Lakukan perintahku, Jasmine!" tekan Atha pelan tapi menusuk hati.


Jasmine diam tak berkutik, lalu dia keluar dari mobil dan melangkah pergi menuju ruang Sakha dirawat.


"Tunggu apa lagi? Keluarlah, dan temui Sakha!" perintah Atha pada Byan.


"Maafkan aku, Mas!" lirih Byan kemudian keluar meninggalkan Atha sendirian di mobil.

__ADS_1


Di antara ketiga manusia itu memiliki pemikiran masing-masing, ada rasa sakit dan kekecewaan dari sebuah kejujuran dan kebenaran yang terungkap, dan itu berdampak pada mereka dengan rasa ketakutan akan kehilangan.


__ADS_2