Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Meminta


__ADS_3

Kerinduan terkadang membuat orang lupa diri. Jika orang yang lemah, dia akan selalu memikirkan dan terbayang-bayang dengan wajah seseorang yang dirindukan, sampai lupa segala-galanya. Lupa makan, pekerjaan terbengkalai. Itu adalah perbuatan yang menyakiti dirinya sendiri, dia bisa sakit dan bisa menjadi gila. Kita harus menjauhi perbuatan yang buruk itu.


Bila orang yang kuat dan mengerti tentang sebuah kerinduan yang begitu menyakitkan, maka dia akan menyibukkan dirinya dengan aktivitas-aktivitas yang membuat dirinya lupa akan seseorang itu, misalnya dengan bekerja, membaca sebuah novel yang berisi tentang pembelajaran hidup.


Bisa juga kita menyibukkan diri kita dengan aktivitas yang membuat kita mendapatkan pahala, dengan cara mengaji dan sholat. Minta petunjuk kepada sang Maha Pencipta. Dengan begitu insya Allah kerinduan kita terhadap seseorang itu akan sedikit berkurang dan kita tidak merasakan sakit mengingatnya. Disaat kita merindukan seseorang maka ingatlah Allah sang Maha Cinta dan Maha Pemberi Jalan Terbaik bagi hambanya.


Kembali ke rumah sakit tempat Jasmine dirawat.


Hatinya bagaikan hampa, tubuhnya lemah dan pikirannya tidak tenang. Dia menangis tiada henti. Ada dua yang menjadi pertanyaan. Tagisannya itu adalah tangisan ketakutannya saat melahirkan atau ketakutannya jika dia menginginkan Atha berada di dekatnya? Bukan karena rindu saja, tapi dia megingikan lelaki itu persis seperti dalam mimpinya beberapa waktu lalu.


Suara pintu terbuka, dengan langkah kaki yang dibuat pelan. Seseorang melihat dua wanita dihadapannya yang saling berpegangan tangan.


"Bibi, aku benar-benar takut, hiks...hiks...!" ucap Jasmine yang masih menangis.


Tiba-tiba ada suara seseorang yang berada dibelakang Jasmine dan bi Narti.


"APA YANG MEMBUATMU TAKUT, JASMINE?" tanya seseorang itu jelas terdengar.


Jasmine dan bi Narti mengedarkan pandangan mereka ke sumber suara.


Dan kali ini suara yang sangat khas begitu dikenal oleh Jasmine. Seketika mata Jasmine berbinar kala mendengar suaranya dan melihat wajahnya.


"Atha," gumam Jasmine pelan.


Nyatanya seseorang itu adalah Atha. Lelaki itu telah kembali ke Indonesia tanpa sepengetahuan siapa pun. Atha merasa gelisah saat berada di Amerika, pikirannya tidak tenang sehingga dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia sebelum waktu yang ditentukan oleh sang paman.


Dan ketika Atha tiba di Jakarta, di kediamannya tampak sepi, dan ketika pelayan yang lain memberitahukan tentang keberadaan Jasmine dan bi Narti, kemudian Atha langsung bergegas melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat Jasmine ditangani.


Dengan begitu terjawab sudah kegelisahan dia selama di Amerika karena keadaan Jasmine yang sedikit memburuk. Apalagi saat ini Jasmine akan segera melahirkan. Jadi kehadiran Atha membuat Jasmine merasa lebih baik.


Atha mendekat ke arah ranjang Jasmine.


"Apa yang membuatmu takut? Kau tidak perlu takut, karena ada Allah yang akan selalu melindungi kamu dan calon anakmu yang akan lahir," ujar Atha dengan mata yang membuat Jasmine begitu teduh.


Jasmine tersenyum bahagia sembari mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.


"Kenapa kau baru pulang? Kenapa begitu lama? Aku...," ucap Jasmine menggantung.

__ADS_1


Atha menaikan alisnya, berharap Jasmine menyelesaikan ucapannya.


"Aku...?" tanya Atha.


"Aku merindukanmu, Atha!" batin Jasmine dalam hati.


"Hallo, Jasmine?" Atha membangunkan lamunan Jasmine.


Namun tiba-tiba Jasmine merasakan sakit kembali diperutnya.


"Akhhhh," rintih Jasmine mengelus perutnya.


"Kenapa? Kau merasa sakit?" panik Atha sigap.


Bi Narti memperhatikan kepanikan majikannya merasa sedikit aneh. Karena baru kali ini dia melihat Atha sepanik itu, apalagi pada seorang wanita yang sedang hamil, seolah Atha adalah suami yang siap siaga pada istrinya yang akan melahirkan.


"Perutku sakit, akhhhhh!" Jasmine kembali merintih.


"Panggil dokter!" Atha mulai panik kembali.


Bi Narti dengan cepat memencet panggilan darurat untuk dokter supaya bergegas datang ke ruangan Jasmine. Hingga dokter pun datang dan memeriksa kondisi Jasmine serta tekanan darah Jasmine.


Sungguh tak disangka, dengan adanya Atha dapat membuat kondisi Jasmine lebih baik. Dan Jasmine bisa melahirkan secara normal dengan tekanan darah yang awalnya tinggi, sekarang sudah normal bagi ibu yang akan melahirkan. Memang benar, jika keberadaan Atha berpengaruh pada kesehatan Jasmine, membawa Jasmine tenang kembali dan merasa lebih baik.


"Tuan bisa menemani istrinya di sini," ujar dokter yang tak tahu status Atha dengan Jasmine.


Atha terbelalak kaget.


"Saya bukan...," ujar Atha yang terpotong.


"Jangan pergi, Atha! Please, jangan pergi lagi. Aku takut jika kau tidak ada didekatku," Jasmine tiba-tiba menarik lengan Atha dengan sebuah permintaan.


Atha melirik lengannya yang disentuh oleh Jasmine. Lalu dengan pelan Atha melepaskan tangan Jasmine dari lengannya.


"Jasmine, ini tidak benar. Aku tidak bisa berada di sini menemanimu karena aku bukan suamimu," jelas Atha.


Jasmine pun menangis dengan pilu.

__ADS_1


"Hei, aku janji tidak akan pergi. Aku akan menunggumu di luar. Percayalah, aku tidak akan ingkar," Atha meyakinkan Jasmine yang kali ini menatap mata Jasmine tapi dengan niatan hanya menenangkan Jasmine, bukan dengan memiliki perasaan yang dalam.


Jasmine tetaplah Jasmine. Dia keras kepala dan tetap tak mau mendengarkan ucapan Atha.


"Kau bohong, aku tidak percaya. Kali ini buat aku percaya bahwa kau akan selalu bersamaku?" Jasmine melontarkan kata-katanya tanpa memikirkannya lebih dulu.


Atha menatap bingung Jasmine.


"Bersama? Maksudnya?" tanya Atha.


"NIKAHI AKU," ucap Jasmine terdengar jelas.


Duarrr


Bagaikan petir di siang hari. Bukan hanya Atha yang kaget, tapi bi Narti bahkan dokter dan para suster memandang Jasmine dan Atha bergantian.


Dokter menjadi bingung dibuat Jasmine. Dia pikir Jasmine seorang ibu hamil yang mempunyai suami tapi nyatanya Jasmine seorang ibu hamil yang single, bahkan sempat mengira bahwa Atha adalah suaminya. Namun sang dokter tak mempermasalahkan tentang privasi Jasmine.


Hening sejenak.


"Astaga, Nyonya Jasmine tolong kondisikan situasinya sekarang. Mengejanlah ... bayinya akan segera keluar. Kalau dibiarkan terlalu lama maka akan berakibat fatal," ujar dokter dengan cemas.


Deg


Semua orang panik, sedangkan Jasmine dan Atha saling diam.


"Non Jasmine, Tuan Atha, tolong selamatkan bayinya," bi Narti angkat bicara. Dia sangat ketakutan.


"Ayo, Nyonya Jasmine tarik nafasnya dan mengejanlah!" pinta dokter terlihat kesal.


Jasmine seakan mati rasa, dia nyatanya menahan rasa sakit di perutnya.


Atha panik setengah mati, dia tidak bisa berpikir dengan tenang saat ini.


"Ayo Jasmine lakukan perintah dokter. Jika kau hanya diam, maka sama saja kau membunuh bayimu!" pinta Atha menyadarkan Jasmine.


Jasmine hanya diam seolah putus asa. Walau mendengar permintaan Atha, tapi Jasmine tetap berkata sesuai keinginan dia saja.

__ADS_1


"Please ... NIKAHI AKU," kedua kalinya Jasmine meminta dengan jelas dan penuh harap.


__ADS_2