
Setelah dokter yang dipanggil Atha memasuki ruang rawat Jasmine, seketika itu dokter tak lagi menunda-nunda perkataannya mengenai keadaan Jasmine yang sebenarnya, yakni tentang kandungannya. Terlalu lama rahasia kehamilan Jasmine ditutupi terutama oleh Atha.
Seperti ketakutan yang Atha perkirakan sebelumnya, seperti saat ini Jasmine menangis tiada henti, entah tangisan bahagia ataukah tangisan kesedihan. Tapi jika dilihat dari wajah Jasmine menampakan wajah tangis kesedihan.
Biasanya seorang wanita yang baru saja mendengar bahwa dia hamil pasti akan bahagia, tapi nyatanya tidak dengan Jasmine. Wanita itu langsung menangis dan tertunduk lesu dengan melipatkan kedua kakinya menutupi mukanya. Dia menangis mengerang dengan pilu.
"Jangan terlalu bersedih, tidak baik untuk kandunganmu," ujar dokter memberi peringatan.
Seketika tangisan Jasmine berkurang, setelah itu dokter pun pergi dari ruang rawat inap Jasmine.
Sedangkan Atha yang sedari tadi melihat Jasmine menjadi khawatir begitupun dengan bi Narti.
"Aku tidak tahu arti dari kesedihanmu itu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jaga baik-baik calon anakmu yang akan lahir ke dunia," ujar Atha menasihati.
Jasmine mulai mendongak ke atas dan menghadap Atha, karena apa yang dikatakan oleh Atha sangatlah benar, pikir Jasmine. Tak hanya itu, kali ini Jasmine menelisik wajah Atha dengan seksama. Seketika pikirannya terbayang dengan sosok seseorang.
"Byan, kenapa wajah lelaki ini hampir mirip dengan Byan? Oh, tidak, tidak, tidak mungkin, kenapa aku selalu mengingat Byan si lelaki misterius itu," batin Jasmine sambil memegang kedua telinganya dengan tangan.
Jasmine baru ini melihat jelas wajah Atha dari dekat dan cukup lama. Dia pun menyadari bahwa sosok Atha ternyata sedikit memiliki kemiripan dengan wajah Byan.
Atha dan bi Narti pun menjadi panik dan ketakutan melihat Jasmine yang tingkahnya sangatlah aneh.
"Non Jasmine kenapa? Ada apa, Non?" tanya bi Narti saat dia mendekati Jasmine dan menyentuh tangan Jasmine.
Jasmine tersadar dengan sentuhan lembut bi Narti lalu dia melepaskan kedua tangannya dari telinganya.
Jasmine hanya menggelengkan kepalanya menandakan bahwa dia baik-baik saja.
__ADS_1
Kemudian Jasmine menatap Atha dengan tajam dan sekali lagi ingin memastikan wajah Atha dengan penasaran.
Atha yang merasa dilihat wajahnya oleh Jasmine menjadi bingung.
"Ada apa? Apa kau ingin sesuatu?" tanya Atha yang menurutnya mungkin Jasmine membutuhkan bantuannya.
Bukannya dijawab oleh Jasmine, tapi Jasmine malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Entah kenapa Jasmine sedikit kesal melihat wajah Atha.
Atha mengerutkan dahinya bingung dengan tingkah Jasmine yang menurutnya berubah-ubah.
Dengan cepat bi Narti membujuk Jasmine dengan perkataan yang lembut.
"Non Jasmine sekarang makan dan minum obat biar kandungannya sehat dan kuat ya? Bi Narti suapin ya, Non!" ujar bi Narti dengan perhatian.
Bi Narti mulai menyuapkan bubur ke mulut Jasmine. Dan akhirnya Jasmine mau mendengar apa yang dikatakan oleh bi Narti.
"Saya keluar dulu, kalau ada apa-apa hubungi saya saja. Saya percayakan Jasmine pada Bi Narti," ucap Atha pada bi Narti kemudian berlalu pergi.
Lima hari berlalu, kondisi kesehatan Jasmine dan kandungannya juga sehat, namun tidak dengan kaki Jasmine. Dia begitu sibuk memikirkan calon anaknya hingga melupakan kondisi kakinya yang jarang dia latih untuk berjalan. Sehingga sudah lebih dari satu minggu Jasmine berada di rumah sakit tapi kaki Jasmine belum menunjukkan hasil baik.
Dan saat ini juga, Jasmine sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter. Atha lagi-lagi menemui Jasmine untuk mempertanyakan alamat rumah Jasmine.
"Hari ini kamu boleh pulang, dan sekali lagi aku minta maaf atas kecelakaan ini. Lalu selanjutnya bagaimana dengan kamu setelah keluar dari rumah sakit ini?" tanya Atha dengan sedikit ragu.
"Masalah uang administrasi selama aku dirawat, biar aku yang bayar. Tenang saja, aku punya uang kok," ujar Jasmine dengan cepat dan datar.
Jasmine tidak punya masalah dengan uang karena dia mempunyai banyak uang dari pemberian Byan beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"No, aku tidak meminta ganti uang itu. Tapi maksudku adalah tentang tempat tinggalmu, di mana alamat rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang," tanya Atha.
Jasmine menjadi bingung, dia telah salah paham hingga bimbang menjawab pertanyaan Atha.
"Sudah aku bilang bahwa aku tidak punya tempat tinggal sekarang dan ... a-aku juga tidak mau pulang ke rumahku yang dulu," jawab Jasmine dengan nada keras di awal kemudian berubah pelan di akhir kalimat.
Atha menghela nafasnya dengan berat, dia benar-benar sudah kehilangan akal pikirnya saat berbicara pada Jasmine.
"Lalu kau akan tinggal di mana jika keadaan kakimu sekarang masih dalam perawatan apalagi kau sedang mengandung. Setidaknya kau pulang pada suamimu atau keluargamu," ucap Atha yang langsung keintinya, karena dia sudah tidak bisa mengerti apa yang dimaksud oleh ucapan Jasmine.
"Aku tidak punya keluarga ataupun suami, paham!" tegas Jasmine dengan suara bergetar.
Atha sangat kaget dan tak percaya dengan ucapan Jasmine.
"Apa? Kalau tidak bersuami, lalu apakah dia hamil di luar nikah? Astaga mikir apa aku ini," batin Atha yang telah berpikir buruk.
"Hiks hiks hiks," Jasmine kemudian menangis pilu dan sesegukan. Atha pun merasa bersalah dan menjadi iba.
"Maafkan aku, sungguh aku tidak ingin mencampuri urusanmu. Aku hanya peduli pada kandunganmu," ucap Atha dengan lembut.
"Emm ... jadi kau akan tinggal di mana setelah ini?" tanya Atha begitu pelan dan prihatin, dia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Jasmine terutama pada kandungannya.
Jasmine hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa aku harus meminta tolong padanya saja, sekaligus agar aku aman dari kejaran kakak? Ya Tuhan maafkan aku," batin Jasmine bimbang.
Kemudian muncul ide Jasmine dengan sesuatu yang pernah dia lakukan seperti bersama dengan Byan dulu. Terpaksa Jasmine harus memanfaatkan moment saat ini. Karena Jasmine tak ingin jika saat dia berada di luar maka akan bertemu dengan kakak tirinya.
__ADS_1
"Boleh aku tinggal sementara di rumahmu?" tanya Jasmine pada Atha tanpa rasa malu.