
Setelah hujan maka akan ada pelangi. Setelah kesedihan maka akan ada keceriaan. Semua sudah ada ukuran dan batasan. Karena setiap kesusahan pasti ada kemudahan. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan kita sendiri dan akan menguji kita dengan batas kemampuan kita. Maka dari itu kita harus selalu berbaik sangka kepada-Nya.
Anak manusia yang cantik, menggunakan baju pink selutut dengan gaya imutnya. Dia memantulkan dirinya di cermin sambil tersenyum bahagia. Begitu banyak perubahan yang lebih baik darinya. Dulu wajahnya sering dihiasi dengan kesedihan tapi sekarang telah berganti keceriaan.
Ya, dia adalah Jasmine. Wanita pemberani dan suka mengambil keuntungan dengan cara menjebak atau berbohong pada seseorang. Ya, itu pun secara terpaksa. Menurutnya resiko yang akan dia ambil itu adalah urusan belakangan, yang penting dia harus bersembunyi dari seseorang yang mencarinya, apalagi sekarang dia akan menjaga calon bayinya sampai suasana benar-benar aman.
"Yes, I am happy!" ujar Jasmine penuh semangat, dia berbalik dengan merentangkan tangannya berjalan ke arah jendela kamar menghiup udara segar.
"Aku bersyukur bisa berkumpul dengan orang-orang yang baik dan peduli padaku. Ya setidaknya aku harus membesarkan anakku, di sini, di rumah ini. Tapi...," gumam Jasmine yang beralih mengelus perutnya tiba-tiba saja menggantungkan ucapannya.
Jasmine perlahan menghela nafasnya dalam-dalam. Wajahnya seketika berubah menjadi murung. Seketika dia mengingat seseorang saat dia mengucapkan kata 'anak'.
"Tapi bagaimana jika nanti anak ini lahir? Dia akan bertanya siapa ayahnya? Ahhh, dasar menyebalkan. Aku harus menjawab apa?" Jasmine menjadi kesal kala dia mengingat ayah dari calon anaknya yang masih dalam kandungannya, yakni Byan.
"Byan, si cowok licik, misterius dan aneh yang sudah menghamili aku. Suami apaan seperti dia? Dia hanya meninggalkan uang yang banyak, setelah itu pergi begitu saja. Tapi itu nggak ada apa-apanya dibanding aku yang sekarang mengandung anaknya," oceh Jasmine dengan kesal.
"Dasar cowok sialan! Pasti dia sekarang sedang asik-asikan dengan wanita-wanita cantik. Modal tampang doang tapi suka nipu," umpat Jasmine mengeluarkan segala unek-uneknya.
Jasmine tak henti-hentinya memaki-maki dengan kekesalannya. Dia mengumpat Byan sesuka hatinya padahal dia juga sama halnya dengan Byan. Sama-sama mengambil keuntungan di antara hubungan mereka dulu. Sungguh, suasana hati Jasmine sedang buruk saat ini. Ya, diakui memang mood seorang wanita yang sedang hamil terkadang naik turun.
"Tuh modus Byan aja yang awalnya membantu gue, tapi ujung-ujungnya minta imbalan yang nggak masuk akal. Enak di dia nggak enak di gue," ujar Jasmine menambahkan.
__ADS_1
"Parah loe Byan ngajak anak orang cuma hanya puasin nafsu loe doang. Dasar bejat loe!" maki Jasmine seolah dia berhadapan dengan Byan.
Pikirannya masih melayang pada Byan yang sudah menjadi mantan suaminya. Pernikahan siri yang terpaksa itu akhirnya terpisah karena sebuah kesepakatan mereka di awal.
Saling mencintai dalam diam di antara keduanya, membuat mereka tersiksa, itu ternyata hal yang paling menyakitkan bagi mereka, hingga akhirnya berpisah dengan membawa penyesalan.
"Loe pernah bilang jika loe nggak akan mau punya anak, wajar saja karena loe laki-laki yang nggak bertanggung jawab. Tapi lihatlah sekarang, bahkan gue mengandung anak loe," ucap Jasmine lirih menahan air mata yang hendak menetes di pipinya.
Tubuh Jasmine bergetar menahan tangisnya.
"Aku akui bahwa aku begitu kuat karena anak kita, Byan. Hiks...hiks...hiks... Ya Tuhan, kenapa aku merindukan lelaki misterius itu?"
Nyatanya, kali ini air mata Jasmine telah menetes membahasi pipinya untuk kesekian kali menangisi seorang Byan.
Ya, terkadang jika dilihat dari luar, seseorang terlihat kuat dan tegar hingga bisa tertawa. Tapi pada kenyataannya di lubuk hatinya ada kesedihan yang menyelimuti dirinya. Dia akan menangis dengan sembunyi-sembunyi, hingga menangis ketika dia sharing kepada sahabat atau keluarga hingga bahkan orang kepercayaannya.
"Awalnya aku takut saat dinyatakan hamil dan takut jika anak ini lahir, hingga aku mogok makan beberapa hari, ingin rasanya aku lenyap saja dari dunia ini. Tapi seseorang menyadarkan aku bahwa anak yang aku kandung ini sama sekali tidak bersalah," tiba-tiba Jasmine tersenyum saat mengingat seseorang.
"Atha, dia lelaki yang menyadarkan aku dari kesulitan hidup. Dia orang yang baik dan tulus membantuku dan calon anakku. Dia sama sekali tidak pernah meminta imbalan apapun dari kebaikannya padaku."
Jasmine tersenyum simpul mengenang pertama kali dia bertemu dengan Atha. Tidak dia sangka, di awal pertemuannya dengan Atha bahkan dia menyalahkan lelaki itu karena sebuah kecelakaan yang pada dasarnya Jasmine juga bersalah dalam kecelakaan tersebut.
__ADS_1
Tapi setelah beberapa hari Jasmine berada di rumah sakit, Atha menyadarkannya dari keterpurukan saat Jasmine kehilangan semangat untuk hidup. Dan sekarang Jasmine sadar bahwa Atha adalah lelaki yang baik yang bisa membantunya bangkit seperti sedia kala.
"Atha tidak seperti Byan. Mereka dua orang yang berbeda tapi ... wajah mereka sama-sama tampan dan ... sedikit ada kemiripan," ujar Jasmine membandingkan.
Jasmine geleng-geleng kepala tidak percaya.
"Cih, awalnya aku sangka Atha adalah bayangan Byan, tapi nyatanya bukan!"
Jasmine tersenyum kecut.
"Aghhh, aku harus melupakan Byan. Tidak ada lagi di hati dan otakku orang yang bernama Byan, Byan dan Byan ... titik!"
Jasmine mengepalkan tangannya kuat. Dia marah, kesal dan geram saat mengingat wajah Byan. Dia ingin melupakan Byan dari hidupnya.
"Lihat saja Byan, kau tidak akan pernah bahagia karena keangkuhan kamu yang tak menginginkan seorang anak!" ancam Jasmine.
Jasmine mengingat betul dengan perkataan Byan yang mengatakan bahwa dia tidak menginginkan seorang anak. Menurut Byan, kelak anaknya akan menjadi liar. Ya, mungkin takut sama seperti dirinya. Walaupun begitu, Jasmine belum tahu pasti alasan dibalik Byan berkata seperti itu.
"Jika anak ini lahir, maka dia adalah anakku, milikku. Tidak akan pernah kubiarkan kau mengambilnya dariku," ucap Jasmine bersungguh-sungguh.
"Dan kau harus ingat, Byan. Sesuai dengan permintaanmu sendiri, bahwa kita akan menjadi orang asing bila suatu saat kita bertemu kembali," ancam Jasmine dengan suara bergetar.
__ADS_1
Jasmine kembali menghirup udara segar dan menikmatinya. Jasmine mengusap sisa air mata di pipinya. Lalu dia melirik ke arah perutnya dengan perasaan bahagia dan penuh semangat.
"Tenang saja, nak. Mama pasti akan melindungimu. Kita akan hidup bahagia berdua, sayang!" gumam Jasmine masih menatap perutnya sembari mengelusnya dengan kelembutan.