
Di paris, setelah beberapa bulan berlalu, tampaknya lelaki yang beberapa bulan itu menetap di sana akhirnya bisa berbahagia dan melupakan masa lalunya. Abyan Wiratama, nyatanya sangat mudah baginya melupakan seseorang di dalam hidupnya. Ya mungkin saja.
Seperti sekarang ini, lelaki itu bisa mengembalikan kebiasaannya yang dulu dengan bersenang-senang bersama wanita-wanita pilihannya lagi. Tak hanya itu, Byan begitu berani memacari beberapa wanita-wanita cantik dan seksi di sana. Sungguh Byan telah mampu melupakan mantan istrinya yang pernah dia nikahi secara sirih dengan kesepakatan, yakni Jasmine Noreen.
Apakah Byan memang sudah bisa melupakan wanita itu, dari wajahnya beserta namanya? Ya, mungkin saja itu bisa terjadi. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh Byan, lelaki liar serta licik yang bisa mengelabui siapa saja apalagi para wanita incarannya. Sukanya dengan kebebasan dan kesenangan untuk dirinya sendiri.
"Sayang, good morning?" sapa Jane, salah satu wanita yang berstatus kekasih Byan.
Jane menghamburkan pelukannya saat Byan ke luar dari kamar mandi dengan rambut yang sedikit basah terkena air. Ternyata Byan baru saja selesai dari mandinya dan dia pun masih memakai handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
"Hei, Jane ... morning juga sayang! Kau kenapa pagi-pagi sudah kemari, hah?" tanya Byan yang sempat kaget kala Jane tiba-tiba datang memeluknya begitu saja. Nyatanya Jane sudah cukup lama berada di kamar Byan saat Byan sedang mandi.
"Aku merindukanmu, sayang!" ucap Jane yang beralih memainkan dada Byan dengan jari-jari nakalnya.
Byan tersenyum dan membalas pelukan dari Jane sambil mengecup puncak kepala Jane.
"Sayang, luangkan waktumu untukku. Aku ingin berdua denganmu saja tanpa ada gangguan. Kau tahu jika lusa aku akan ke Italia untuk pemotretan. Aku pasti akan sangat sangat merindukanmu, Byan!" Jane merengek dengan manja meminta Byan untuk menuruti permintaannya.
Byan yang mendengar itu menjadi semangat, karena dia tahu apa yang diinginkan oleh Jane, kekasihnya itu.
Siapa yang tak kenal dengan Jane Verhoeven, wanita cantik yang merupakan seorang model terkenal di Indonesia. Pertemuan Jane dengan Byan adalah sebuah keberuntungan bagi Byan, yang mana awal mereka bertemu saat Byan menghadiri fashion show di Paris, dan Jane sebagai modelnya.
Dari sana jugalah, Byan mengambil kesempatan untuk mendekati Jane dan memacarinya. Awalnya hanya untuk menghindari pertanyaan yang setiap kali diperdebatkan oleh papinya yang menginginkan Byan menikah. Selain itu juga Byan ingin melupakan masa lalunya dan Jane sebagai pelampiasan saja. Sungguh Byan begitu keterlaluan.
"Emm ... baiklah, apa yang kamu inginkan sekarang, hah?" Byan bertanya seakan-akan dia menginginkan Jane yang mengatakannya langsung.
__ADS_1
Jane pun mendongak menatap mata Byan intens, menyentuh wajahnya lembut dengan sedikit memainkan jari-jari nakalnya memberi sentuhan yang membuat Byan merinding. Apalagi tubuh Byan yang saat ini cukup dingin dan mengeluarkan aroma wewangian sabun yang memabukan yang masih melekat di tubuhnya, membuat Jane berlama-lama menghirup aroma itu sampai ke leher Byan dan menggigitnya.
"Akhhh, Jane kau nakal. Apa kau menginginkannya, hah?" Byan menarik kedua tangan Jane dan menghadapkannya ke arahnya sangat dekat.
Jane pun mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya menggoda. Kedua sejoli itu pun saling pandang dan tersenyum lebar. Muncul gejolak yang menginginkan lebih dari sebuah sentuhan.
"Kau telah membangunkan juniorku, Jane!" ujar Byan yang perlahan menurunkan sedikit baju Jane di sisi bahu kanan, karena Jane memakai pakaian yang cukup terbuka.
"Terpaksa, aku harus mandi untuk kedua kalinya nanti," ucap Byan yang dia sudah tidak bisa menahan godaan Jane, kekasihnya yang selalu membuatnya bergairah dan membuatnya melupakan kegalauannya.
Jane menutup matanya perlahan kala Byan mulai menyentuh bibirnya. Lalu Byan mendekatkan wajahnya ke wajah Jane. Kemudian terjadilah ciuman mesra di antara keduanya. Saling merasakan kenikmatan dan setelah itu Byan beralih hendak membuka pakaian Jane.
Namun baru saja Byan ingin membuka pakaian Jane tiba-tiba ada suara yang memecahkan keromantisan mereka.
Dengan cepat Byan menghentikan aktifitasnya itu dan beralih menatap Wandi. Sedangkan Jane membenarkan pakaiannya lalu melangkah duduk di sisi ranjang dengan mukanya ditekuk murung.
"Ah, gila loe ya. Main masuk aja, nggak ketuk pintu dulu. Selalu aja kayak gini, nggak pernah suka lihat gue bahagia!" kesal Byan dengan kedua tangannya ditaruh di kedua sisi pinggangnya.
"Yeee, salah sendiri nggak kunci pintu, lagian nohhhh ... pintu loe kebuka lebar gara-gara si Jeni itu," bantah Wandi kasar.
Jane yang mendengar namanya disebut oleh Wandi dengan salah, dia tidak terima.
"Hei, nama gue JANE bukan JENI. Udah berapa kali gue bilang, ngeselin banget deh!" Jeni marah hingga melotot ke arah Wandi.
"Ah, bodoh amat," sahut Wandi tak peduli.
__ADS_1
Byan pun mempertanyakan kedatangan Wandi yang mengacaukan kesenangannya saat hendak melakukannya bersama Jane.
"Ya udah, sekarang loe ngapain ke kamar gue, hah?" tanya Byan ketus.
Wandi mendekati Byan dengan menunjukkan ponselnya ke arah Byan.
"Nih, puluhan kali bokap loe telepon gue. Jujur gue males banget angkatnya. Dan tadi dia ngirim pesan ke gue, eh malah ngacem gue," ujar Wandi sembari melangkah mengambil ponsel Byan di atas nakas, lalu melihat panggilan telepon yang nyatanya memang benar bahwa Byan telah mengabaikan panggilan telepon dari papinya.
"Jadi mending loe jawab tuh panggilan dari bokap loe. Gue nggak mau jadi sasaran kemarahan bokap loe lagi, paham kan loe!" Wandi melempar ponsel Byan ke arah sahabatnya itu.
Lalu dengan cepat Byan menangkapnya dengan hati was-was.
"Hei, parah loe Wandi," Byan sedikit teriak.
"Bodoh amat ...bye!" Wandi pun melangkah pergi meninggalkan pasangan sejoli yang sedang kecewa berat, pasalnya mengacaukan permainan mereka yang baru saja akan di mulai.
Byan pun beralih menatap Jane dengan pandangan bersalah.
"Maaf Jane, aku harus pergi menyelesaikan pekerjaanku di kantor," ucap Byan penuh sesal.
Mendengar itu, akhirnya Jane pun berdiri dari ranjang dengan muka masam menatap Byan. Wanita itu sangat mengerti dengan apa yang dimaksudkan dari perkataannya Byan itu.
"Dasar menyebalkan!" umpat Jane penuh kesal, dia pun melangkah pergi meninggalkan Byan begitu saja.
Lalu Byan mengacak-acak rambutnya dengan sangat kesal pula, dia begitu kecewa dan frustasi.
__ADS_1