Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Time is Over


__ADS_3

Jasmine begitu kecewa saat Byan mengatakan hal tentang sebuah kenangan yang mereka ciptakan setelah semua hari-hari yang dilewati bersama penuh kehangatan, namun kenangan itu harus dia lupakan begitu saja seolah Byan tidak peduli dan mempermainkan keberadaannya.


Jasmine merutuki dirinya sendiri, betapa bodoh dirinya telah menggantungkan dirinya pada Byan. Padahal dia sudah mengetahui dari awal bahwa usia pernikahan mereka tidak akan bertahan lama apalagi Byan adalah seorang lelaki misterius.


Tetapi kenapa masih saja Jasmine berharap Byan akan selalu bersamanya? Apa hanya karena perlakuan Byan terhadap Jasmine begitu berlebihan, maka Jasmine menganggap itu sebuah ketertarikan dari Byan padanya? Sungguh Jasmine telah menjerumuskan dirinya terlalu jauh hingga pada akhirnya dirinya terluka.


Byan melihat jam di tangannya yang kesekian kalinya.


"Gue tidak punya banyak waktu. Gue harus pergi sekarang. Apa ada sesuatu yang akan loe katakan pada gue, Jasmine?" tanya Byan setelah memperingatkan keberangkatannya untuk pergi ke bandara.


Seketika Jasmine menggelengkan kepalanya begitu saja.


"Pergilah, nanti loe ketinggalan pesawat. Lagian gue juga mau siap-siap meninggalkan apartemen ini. Pergilah, semoga loe bahagia di tempat loe yang baru, good bye!" ucap Jasmine bernada pasrah dan juga cuek seolah dia tidak peduli pada Byan.


Sebenarnya, Jasmine sedang resah dan pikirannya kacau, saat ini hatinya sedang tidak baik tapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja terhadap kepergian Byan, padahal hatinya sangat terluka.


"Pergilah, tunggu apa lagi?" ketus Jasmine dengan kesal.


Jasmine pun berbalik hendak melangkah masuk ke dalam apartemen.


"Jasmine!" Byan langsung menarik tangan Jasmine begitu saja.


Cup


Byan langsung meraih wajah Jasmine lalu menciumnya sekilas.


Jasmine mematung dengan tatapan kosong sedangkan Byan menatap wajah Jasmine begitu lekat.


Tak lama kemudian, Byan mencium kembali bibir Jasmine dan kali ini Byan memeluk dan menciumnya dengan penuh penghayatan dan kerinduan. Byan tidak akan membiarkan moment terakhirnya bersama Jasmine hilang dengan sia-sia.


Sementara Jasmine hanya pasrah dengan apa yang terjadi. Jasmine begitu senang tapi Jasmine juga merasa sedih. Apa yang telah dikatakan oleh Byan untuk melupakan kenangan mereka, nyatanya malah Byan menambah kenangan itu dan membiarkan kenangan itu teringat jelas dibenaknya.

__ADS_1


Tapi Jasmine mulai tersadar, dia tidak bisa membiarkan dirinya terlalu jauh menjatuhkan dirinya dalam dekapan Byan. Maka dari itu, Jasmine berontak melepaskan dirinya dari Byan dengan paksa.


"Berhenti mencium gue, Byan. Pergilah, jangan berikan kenangan yang baru untuk kita!" seru Jasmine dengan tegas sedikit membentak.


Byan mundur beberapa langkah karena dorongan Jasmine. Byan menelan ludahnya dengan kesal.


Byan kembali menarik Jasmine yang kali ini masuk ke dalam pelukannya.


"Satu menit saja, biarkan gue menyimpan kenangan terakhir ini untuk gue sendiri. Gue tidak akan pernah memaksa loe mengingat kejadian ini, biar gue saja dan loe jangan!" ujar Byan lirih, dia semakin mempererat pelukannya pada Jasmine.


Sementara Jasmine hanya meringis dan sedikit sulit bernafas karena eratnya pelukan dari Byan. Sedangkan Byan tidak mempedulikan kesakitan Jasmine. Byan hanya mempedulikan dirinya sendiri. Bukan karena egois, tapi dia menikmati setiap kehangatan dan aroma tubuh Jasmine dalam kerinduan.


"Ini lebih dari satu menit, Byan!" ucap Jasmine mengingatkan.


Sungguh Byan tidak bisa dipegang omongannya, buktinya saja ada di depan mata. Dia meminta pelukan satu menit tapi nyatanya lebih dari apa yang dia ucapkan. Dia bahkan meminta melupakan kenangan yang mereka lalui bersama tapi Byan malah menciptakan kenangan baru kembali. Itulah Byan, dia tidak akan pernah menyerah sebelum apa yang dia inginkan belum didapatkan.


"Tuan, satu jam lagi pesawat kita akan berangkat. Kita harus segera ke bandara, takut di jalanan macet, Tuan!" ujar Wandi datang dari arah belakang memberitahukan keberangkatan mereka pada Byan.


"Sekarang hubungan di antara kita sudah tidak ada lagi, gue harap hidup loe bahagia setelah ini," ucap Byan lembut dan lirih.


"Jaga diri baik-baik, dan jangan mengulang kesalahan yang sama dengan menikahi lelaki asing hanya karena membutuhkan tempat tinggal. Loe bisa beli rumah dengan uang yang gue kasih," ujar Byan memperingatkan padahal hatinya belum rela melepaskan Jasmine.


Jasmine terlihat kesal atas perkataan yang diucapkan oleh Byan, karena secara langsung Byan seolah melarang Jasmine untuk menikah kembali. Jasmine mengalihkan pandangan ke arah lain, dia tak ingin menatap Byan.


"Asal loe tahu, diluar sana tidak banyak lelaki yang baik seperti gue, mengerti?" Byan memuji dirinya dengan percaya diri.


Jasmine kali ini beralih menatap dan mendengar jelas Byan dengan seksama. Sedikit ada rasa senang bahwa Byan masih peduli padanya tapi disatu sisi Byan masih saja memerintah sesuka hatinya padahal jelas-jelas mereka akan berpisah.


"Dasar sombong!" gumam Jasmine kesal.


"Ini demi loe, sayang ... eh maksud gue Jasmine!" Byan sedikit gugup karena panggilan yang dia tujukan ke Jasmine mengalir begitu saja.

__ADS_1


"Pergilah, gue juga mau siap-siap pergi dari sini," Jasmine berbalik dan melangkah memasuki apartemen, tapi lagi-lagi Byan menarik tangan Jasmine kembali.


"Apalagi Byan?" tanya Jasmine kesal.


"Apa ada yang ingin loe sampaikan ke gue?" tanya Byan lagi dengan gelisah.


Jasmine pun bingung dan sangat resah. Ingin sekali dia mengatakan sesuatu yang ada di hatinya tapi dia ragu dan tidak mampu mengatakannya. Karena dia tahu posisinya saat ini dan bahkan dirinya pikir tidak layak bersama dengan seorang Byan.


"Tidak ada ... tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Semua sudah jelas. TIME IS OVER!" seru Jasmine dengan tegas padahal hatinya rapuh.


Byan secepat kilat mengecup kening Jasmine dengan penghayatannya, cukup lama dan dia menikmatinya. Kemudian Byan pun beralih mengecup lagi bibir Jasmine sekilas. Tak ingin berlama-lama mencium Jasmine karena dirinya tak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Jasmine.


"I-tu tan-da te-rakhir perpisahan kita," ucap Byan lirih dan terbata selepas dia melepaskan kecupan bibirnya pada Jasmine.


Jasmine hanya diam seribu bahasa, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Semakin lama Byan berada di dekatnya, maka semakin besar pula harapannya untuk memiliki Byan. Tapi itu tidak mungkin.


Sementara, Byan tak ingin membuang-buang waktunya terbuang sia-sia. Karena semakin lama Jasmine bersama dirinya, maka semakin sulit pula dirinya untuk pergi dari Jasmine.


Byan menggenggam tangan Jasmine untuk terakhir kalinya.


"Gue pergi, good bye Jasmine!" ujar Byan lirih dan perlahan tangan mereka lama kelamaan terlepas.


"Byan," gumam Jasmine pelan, dirinya begitu sedih.


Jasmine menatap kosong pandangan ke arah Byan yang semakin lama semakin menjauh pergi.


"Jasmine," gumam Byan pelan dengan lirih pula.


Sesekali Byan berhenti dengan ragu dan rasa ingin berbalik melihat ke arah Jasmine, tapi niatnya diurungkan hingga kemudian dia melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Jasmine.


Kali ini Byan dan Jasmine benar-benar berpisah, di antara mereka berdua sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Kisah mereka pun sirna, sementara kenangan yang mereka ciptakan entah akan mereka ingat atau tidak, hanya mereka lah yang bisa melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2