Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Buruk Sangka


__ADS_3

Byan membalas pelukan Jasmine dengan erat. Dia begitu senang bahwa Jasmine ternyata merindukannya. Apa yang Byan rasakan nyatanya dirasakan juga oleh Jasmine. Byan tersenyum dan sangat bersyukur. Entah mengapa, Byan merasa bahwa Jasmine adalah sosok wanita yang jauh berbeda dari wanita-wanita di luar sana yang pernah ditemui oleh Byan.


Bagi Byan, wanita seperti Jasmine ini adalah keberuntungan. Jasmine yang menurut Byan begitu polos tapi nyatanya wanita yang sekarang menjadi istri sirinya itu tidak lain memiliki sifat yang hampir sama seperti dirinya. Dia cerdik, licik juga pandai memutar balikan fakta hingga menjebak Byan yang juga seorang penipu berpengalaman.


"Maaf karena sudah buat loe menunggu lama. Gue banyak kerjaan di kantor. Maaf nggak bisa nepati janji," ujar Byan pada Jasmine sambil mengelus rambut wanita itu dengan lembut.


"Gue nggak nyangka jika loe menginginkan permainan kita yang tertunda kemarin. Gue senang mendengarnya," ujar Byan kembali.


Dan kali ini, saat Byan mengatakan kalimat terakhirnya, Jasmine mulai tersadar. Dia mengingat-ingat sesuatu dari awal dia menunggu kepulangan Byan hingga tertidur di ranjang. Dia juga mulai menyadari pelukannya yang menyatu dengan seseorang.


Jasmine juga menyadari ucapan yang dia layangkan pada Byan saat lelaki itu memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat dirinya terbangun.


Bergegas Jasmine melepaskan pelukannya pada Byan. Jasmine menatap lekat wajah Byan, lalu Jasmine mengucek-ngucek matanya seolah tak percaya pada apa yang dilihat di depannya.


"Astaga, ini benar Byan!" batin Jasmine merasa malu.


Jasmine pun mengalihkan pandangan matanya ke arah lain dan tak ingin menatap lama lelaki yang menjadi suaminya itu.


"Jasmine, are you ok?" tanya Byan heran saat melihat Jasmine yang menjadi kikuk tak seperti pertama kali wanita itu terbangun lalu menyentuh wajahnya dan memeluknya.


Jasmine tak menjawab. Jasmine hanya memperlihatkan muka masamnya pada Byan.


"Hei, ada apa Jasmine?" tanya Byan kembali.


"Kamu sakit?" Byan mengecek suhu tubuh Jasmine dengan menaruh tangan kanannya di kening Jasmine.


Jasmine menepis tangan Byan dengan muka kesalnya.


"Hei, ada apa sih? Kok loe jadi jutek gini? Ada apa?" tanya Byan yang terlihat cemas.


Jasmine beralih menatap jam di dinding. Dia pun bertambah kesal saat jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari.

__ADS_1


"Jawab pertanyaan gue, Jasmine. Gue paling benci dengan diamnya loe saat gue bertanya," Byan mengingatkan.


Jasmine menatap Byan tajam.


"Pergilah, gue mau tidur!" ucap Jasmine ketus.


Jasmine hendak membaringkan tubuhnya di ranjang kembali.


"Gue temenin loe tidur, ya?" ujar Byan.


"Nggak usah. Gue mau tidur sendiri," tolak Jasmine, lalu dia membaringkan tubuhnya tanpa menatap Byan.


"Gue kangen sama loe, Jasmine!" ucap Byan tak mau kalah.


Byan ikut berbaring pula di samping Jasmine dan memeluknya tapi tak lama setelah itu Jasmine melepaskan pelukan Byan dari tubuhnya.


"Jasmine, loe kenapa sih? Katanya tadi kangen gue, sekarang kok jual mahal? Aneh banget deh," tanya Byan bingung dengan kelakuan Jasmine yang jutek.


Byan menyeringai bahagia, dia tahu bahwa Jasmine hanya menutupi rasa malu padanya.


"Tapi nyatanya bukan mimpi, kan? Berarti loe kangen beneran sama gue."


"Bilang saja kalau loe ketagihan dengan permainan gue saat malam pertama kita, kan? Karena gue melakukannya hanya satu ronde, itu pun gue terpaksa menyudahinya karena loe menangis waktu itu. Jujur gue kecewa sama tangisan loe!" Byan memeluk kembali tubuh Jasmine dan mencium pundak Jasmine berkali-kali.


Jasmine sedikit menegang dan dia tidak ingin Byan tahu bahwa dirinya memang menginginkan Byan malam ini. Tapi ego Jasmine menguasai dirinya. Dia marah karena Byan telah mengecewakannya dengan pulang terlambat.


"Hentikan, gue ingin sendiri malam ini. Bukannya loe sudah bermain dengan wanita diluar sana?" Jasmine bangkit duduk dan menuduh Byan dengan perkataannya.


"Wanita diluar?" Byan ikut bangkit duduk pula.


"Iya, apa artinya jika suami pulang malam selain bercinta dengan seorang wanita," Jasmine menuduh Byan kembali.

__ADS_1


"Owh, jadi loe pikir gue pulang dini hari karena gue bermain dengan wanita lain, gitu?" tanya Byan sambil terkekeh.


"Ya iya lah, mana ada pulang ngantor jam segini. Biasa suami suami tukang selingkuh alasannya ada kerja lembur," protes Jasmine berburuk sangka.


"Selingkuh? Hei, loe ingat kan bahwa status pernikahan kita hanya sebatas keterpaksaan dan saling membutuhkan? Walaupun siri dan sah menjadi suami istri, tapi tetap pernikahan kita tidak akan bertahan lama. Jadi nggak apa-apa jika di antara kita saling selingkuh," ujar Byan mengingatkan dengan tawa kecilnya.


Jasmine hanya diam tak menanggapi ucapan Byan. Dia tersentak atas ucapan Byan. Dia merasa hatinya terluka. Tapi Jasmine mengakui bahwa apa yang telah diucapkan Byan adalah benar dan semuanya atas ulah dirinya sendiri telah menjebak Byan.


"Lalu, kenapa loe marah jika gue selingkuh? Apa jangan-jangan loe cemburu?" Byan tersenyum sembari menyentil lengan Jasmine menggoda.


"Tidak, siapa yang cemburu. Gue ... cuma takut, mungkin saja ... ada ratusan wanita yang udah loe pake!" sangkal Jasmine berujung prasangka buruk.


"Wihhhh, ratusan? Loe kira gue ini wafer tango? Dan loe nggak perlu takut, karena gue selalu bermain dengan aman, kok!" ungkap Byan.


"Lalu kenapa malam itu loe bermain dengan gue nggak pake pengaman?" tanya Jasmine mulai panik.


Byan sekilas menggaruk-garuk pelipisnya kemudian menatap Jasmine kembali.


"Ya, karena loe istri gue dan beruntungnya karena loe masih virgin jadi loe aman buat gue," Byan menyeringai puas.


"Kalau gue hamil gimana? Bukannya loe bilang nggak mau punya anak?" tanya Jasmine dengan cemas.


"Gampang ... tinggal gugurin aja, beres deh!" ucap Byan begitu mudah.


"Jadi loe mau gugurin anak kita?" tanya Jasmine tak terima.


Deg


Byan kaget dan seketika menegang, matanya menajam ke arah Jasmine.


"Apa loe hamil anak gue?" tanya Byan begitu panik.

__ADS_1


__ADS_2