Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Amarah


__ADS_3

Di Amerika, California seorang pria menggebrak meja kerjanya setelah mendapatkan informasi dari asistennya. Dia begitu sangat marah hingga mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dia berteriak sekuat tenaganya seperti guntur yang dahsyat. Untung saja ruangan kerjanya itu kedap suara, kalau tidak pasti sudah terdengar sampai ke luar dimana beberapa keryawannya sedang bekerja.


"Arghhhhh, anak kurang ajar. Apa dia sudah tidak menghormatiku lagi sebagai orang yang lebih tua darinya!" umpat pria paruh baya itu dengan sangat marah.


Seketika, asisten yang berada di ruangan kerjanya pun menjadi kaget dan merasakan ketakutan.


Pria paruh baya itu menoleh ke arah asitennya yang sedang berdiri di depannya.


"Martin, kau pesankan aku tiket penerbangan ke Jakarta besok pagi, cepatttt!" pinta pria paruh baya itu sedikit kasar.


"Ba-baik, Tuan!" gugup Martin kemudian berbalik dan bergegas pergi sesuai dengan apa yang diperintahkan bosnya itu.


Setelah melihat Martin pergi dari hadapannya, pria paruh baya itu dengan bebasnya mengacak-acak barang yang ada di meja kerjanya hingga ruangan itu berantakan.


"Sialan, berani-beraninya dia menganggapku tidak ada, arghhhhh!" teriaknya dengan lantang, hingga berhenti bersuara ketika kepalanya merasakan sakit tiba-tiba.


"Akhhh, sepertinya darah tinggiku kambuh!" gumamnya merintih sambil memijit-mijit kepalanya yang sakit.


"Ini gara-gara anak kurang ajar itu," umpatnya yang kali ini menahan amarahnya.


Di kota lain, Paris. Seperti biasanya, Byan sedang bersenang-senang dengan wanitanya. Tapi kali ini wanita itu bukan Jane, melainkan kekasihnya yang lain, tepatnya adalah selingkuhannya.


Dert dert dertttt


Terdengar suara ponsel berdering dari atas nakas sebelah tempat tidurnya. Tapi Byan tidak mempedulikan bunyi ponsel tersebut. Ya, Byan paling tidak suka diganggu jika aktivitasnya atau kesenangan dirinya diganggu.


Dert dert dertttt


Untuk yang kedua kalinya dering ponsel berbunyi, tapi masih saja Byan tidak mempedulikannya. Hingga bunyi deringan yang ketiga, keempat dan seterusnya Byan masih saja tidak peduli. Malah bunyi ponselnya itu, dia jadikan irama sebagai alat tambahan pada kesenangannya bersama kekasihnya itu. Sungguh keterlaluan Byan.


Setegah jam kemudian, kedua sejoli itu telah menyelesaikan kepuasan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang. Kamu yang terbaik dari semua wanita yang kukencani," ucap Byan sembari mengecup bibir kekasihnya itu.


Sungguh perkataan Byan selalu membuat hati setiap wanita yang dia kencani menjadi meleleh. Bagaimana tidak, Byan selalu memberikan pujian-pujian yang luar biasa terhadap kekasihnya.


Tak lama kemudian, Byan pun bangkit dari ranjang dengan dadanya yang masih polos. Dia meraih ponselnya di atas nakas lalu melihat panggilan tak terjawab di layar ponsel tersebut.


"Cih, ada apalagi pengganggu ini? Selalu merusak kesenanganku saja!" gumam Byan terlihat cuek seolah tidak mempedulikan panggilan yang ternyata dari sahabatnya, Wandi.


Byan menaruh ponselnya kembali di atas nakas, lalu berjalan hendak memasuki kamar mandi.


Tapi sebelum itu ada ketukan pintu dari luar kamar.


Tokkkk tokkkk tokkkk


"Woi, Pria mesum ... buka pintunya," teriak Wandi dengan lantang.


Byan menghentikan langkahnya dan menghela nafasnya dengan kesal.


"Cari masalah apalagi, anak brengsek itu," gumam Byan berdecak kesal.


"Ahhh, bodoh amat. GUE NGGAK PEDULI," teriak Byan menekan kalimatnya dari dalam kamarnya.


Byan masih tak peduli sehingga dia melangkah ke kamar mandi. Sedangkan kekasihnya, dia hanya menutup dirinya dengan selimut mendengar keributan dua sahabat itu.


"Ini berita yang sangat penting, Byan. Buka woiiii, atau gue dobrak nih pintu!"


Dorrr dorrr dorrr


Kali ini pintu kamar Byan diketuk oleh Wandi dengan sangat keras.


"Astaga, gila nih anak. Dasar brengsek sialan!" umpat Byan yang sangat merasa terganggu.

__ADS_1


Dengan sangat terpaksa, Byan ke luar dari dalam kamar mandi dan membuka pintu kamarnya.


Ceklek


"Ada apa, sialan?" bentak Byan bertanya.


Wandi pun tersenyum lega melihat Byan membuka pintunya.


"Sini ikut gue," Wandi menarik tangan Byan ke ruang tamu.


"Lepas, apaan sih ahhh!" Byan marah dan kesal.


"Bokap loe besok berangkat ke Jakarta, gue denger dari salah satu karyawan di kantor," ujar Wandi.


"Apa? Nggak mungkin, loe salah dengar kali," bantah Byan tidak percaya.


Wandi menggelengkan kepalanya dan menunjuk jari tangannya ke arah Byan dengan diayunkannya.


"Hem, nggak percaya banget loe!" seru Wandi.


Byan masih tidak percaya dengan perkataan Wandi. Karena setahunya, papinya sudah beberapa tahun ini tidak pernah menginjakkan kakinya ke Indonesia karena satu hal.


"Loe mau tahu apa yang menjadi alasan bokap loe pergi ke Jakarta?" tanya Wandi.


Byan menggelengkan kepalanya merasa tidak tahu sama sekali.


"Alasannya karena dia akan menghadiri pernikahan seseorang," ungkap Wandi yang sok tahu.


Byan sontak kaget.


"Apa? Pernikahan? Emang siapa?" Byan bertanya-tanya.

__ADS_1


Wandi hanya mengedikkan bahunya.


"Apa jangan-jangan...," gumam Byan dengan sangkaannya menduga-duga.


__ADS_2