
Akhirnya, setelah cukup lama berpikir dalam mengambil keputusan, Sakha sengaja mengadakan pertemuan untuk acara makan malam dengan keluarga besarnya di rumah utama keluarga Wiratama sesuai dengan janjinya. Mereka terdiri dari Jasmine, Atha, Byan, Darwish, Ziva dan tentunya termasuk Sakha sendiri.
Awalnya semua anggota keluarga penasaran dengan acara yang diatas namakan Sakha. Suasana pun tak kalah tegangnya. Hingga kemudian Sakha mengumumkan tentang dirinya yang ternyata mendapatkan beasiswa masuk ke salah satu universitas terkemuka di Amerika atas kecerdasan yang dimilikinya.
Mereka pun bangga akan hal itu, termasuk Jasmine. Walau Jasmine sangat berat untuk memberikan izin, tapi dia bukanlah seorang ibu yang egois untuk menahan kesuksesan anaknya menempuh pendidikan tinggi. Bukan hanya itu saja, Jasmine juga harus berdamai dengan hatinya lantaran merelakan Byan kembali bersama Sakha.
Seminggu kemudian, sore hari di kediaman utama Wiratama. Sakha mencari-cari keberadaan Byan yang berakhir di kamar atas.
"Daddy ... Daddy ... Daddy!!!" sapa Sakha berkali-kali.
"Hem, a-ada apa Sakha?" tanya Byan tidak fokus, matanya yang tadi melihat ke arah depan kini beralih menatap nanar Sakha.
Sakha melihat dimana arah mata Byan tadi terfokus. Sakha tersenyum kecil. Sedangkan Byan menjadi salah tingkah sambil memegang tengkuknya.
"Daddy memandang mama dari sini?" tanya Sakha, walaupun mustahil rasanya melihat dari kejauhan.
"Eng-enggak kok, Daddy lihatin bunga itu saja," Byan menunjuk ke arah bunga mawar yang memang ada di taman, di mana Jasmine, Atha, Darwish serta Ziva sedang duduk santai di sana.
"Ya benar, memang bunga sih. Tapi bunga yang dimaksud Daddy itu mama kan?" Sakha mendesak agar Byan berkata jujur.
Byan terdiam, dia kembali memandang Jasmine dari atas kamarnya.
"Daddy masih punya rasa terhadap mama?" tanya Sakha ingin tahu.
Byan kembali terdiam, lalu di detik ke lima, Byan mulai mengarahkan pandangannya ke Sakha.
"Apa kamu setuju jika Daddy dan mama bersatu kembali?" tanya Byan, dia penasaran dengan jawaban dari anaknya itu.
__ADS_1
Sakha menatap lekat wajah papanya. Tersirat mata yang tulus dari Byan menginginkan mamanya. Seolah berharap kembali bersama dengan mamanya. Tapi Sakha bukan anak yang egois. Dia begitu memikirkan nasib keluarganya yang lain, yakni Jasmine, Atha dan Ziva yang sudah sangat bahagia.
Apalagi kebahagiaan Jasmine bersama Atha sudah jelas. Walaupun Sakha masih ragu bila mungkin ada sedikit rasa suka Jasmine terhadap Byan. Bagaimanapun, tidak ada yang boleh tersakiti atau menyakiti lagi. Sudah cukup penderitaan yang selama ini ditutupi oleh keluarganya. Dan sekarang saatnya untuk merajut kebahagiaan bersama-sama.
"Setuju sih, tapi bukankah sekarang sudah ada papa Atha yang menemani mama? Mama sangat bahagia dengan papa. Ada Ziva juga yang mengisi hari-hari mereka," jawab Sakha, itulah adanya.
Byan tersenyum hambar, rasa hancur saat mendengar Sakha yang ternyata tidak memihak harapannya. Tapi satu sisi, dia juga sadar bahwa dirinya tidak akan pernah kembali dengan Jasmine.
"Lupakan mama, Dad. Relakan mama bahagia bersama papa. Kita tidak boleh merusak kebahagiaan Ziva yang mempunyai mereka. Biarkan mama ada di masa lalu Daddy saja. Bukankah sekarang ada Sakha yang akan menemani Daddy?" kata Sakha dengan bijak.
Byan mengangguk lemas dan menghela nafasnya pelan lalu tersenyum kecil.
"Ya, mulai sekarang Daddy akan belajar merelakan, karena melupakan seseorang yang kita cintai itu tidak mudah, apalagi ada rasa penyesalan di dalamnya," ungkap Byan tersenyum pasrah.
Byan membenarkan perkataan Sakha. Dia akan merelakan Jasmine demi kebahagiaan ibu dari anaknya. Toh, ada Sakha yang akan mengisi hari-harinya, buah hati dari cinta yang pernah tumbuh di antara dirinya dan Jasmine di masa lalu.
"Nah gitu dong, senyum. Besok kita akan terbang ke Amerika tanpa beban apapun, Daddy!" Sakha tersenyum pula, dia bahagia karena Byan berusaha untuk merelakan sesuatu yang memang bukan takdirnya.
Malam hari di kediaman Atha.
Sedari tadi, Jasmine memandang wajah suaminya yang sedang membaca buku dengan santai sambil duduk menyandar di atas kasur. Jasmine sangat beruntung memiliki Atha, suami yang baik dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya terlebih dengan Sakha yang bukan anak kandungnya.
Jasmine telah bulat bertekad tidak akan pernah melepaskan suami seperti Atha. Dimatanya Atha sosok suami yang sempurna, walau dia tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Jadi Jasmine tidak akan pernah mengulang kembali kesalahan yang pernah dia buat seperti merahasiakan kebenaran dari suaminya itu. Jasmine tidak akan lagi membuat kecewa suaminya.
"Jangan menatapku seperti itu. Tidurlah, sudah malam. Ingat, besok kita akan mengantarkan Sakha ke bandara," ucap Atha.
Jasmine yang melamun akhirnya sadar, dia masih menatap lembut wajah Atha.
__ADS_1
"Mas, apa kamu menyayangi Sakha?" tanya Jasmine sedikit ragu.
Atha menarik kacamatanya, lalu beralih pandang ke arah Jasmine.
"Ya, Sakha anakku!" jawab Atha mantap.
"Sakha masih tetap berada di Kartu Keluarga kita, kan?" tanya Jasmine.
"Jelas, sampai kapanpun aku adalah ayahnya secara hukum," Atha menatap Jasmine dengan kebingungan. Ada guratan keresahan di wajah istrinya itu.
Atha menarik Jasmine ke dalam pelukannya lalu mencium keningnya. Rasa hangat dan tentram membuat Atha menjadi lebih damai. Atha memang sangat kecewa pada Jasmine, tapi itu dulu. Dan sekarang Atha sudah bisa membuka hatinya kembali untuk bisa merelakan apa yang telah terjadi. Karena dia manusia yang harus bisa memaafkan kesalahan orang lain apalagi istrinya sendiri.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu dan Sakha apabila kalian memang ingin tetap bersamaku. Tapi jika kalian lebih memilih pergi bersama dengan Abyan, maka aku akan merelakan kalian," ujar Atha.
Jasmine menjadi bingung, dia mendongak menatap Atha.
"Bukan karena aku tidak mempertahankan, tapi karena aku bukan lelaki egois yang memaksakan kehendak seseorang bila seseorang itu tidak ingin tinggal bersamaku," lanjut Atha dengan nada yang tenang.
Mata Jasmine berbinar, dia pun mempererat pelukan dirinya kepada Atha. Dia menangis di dada bidang suaminya, dengan begitu hatinya menjadi tenang dan damai.
"Mas, aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau adalah cahaya hidupku. Aku tidak akan pernah menyesal memilikimu. Hatiku yang pernah tersesat ini, sudah menjadi milikmu seutuhnya, Mas!" dengan jujur Jasmine mengungkapkan isi hatinya kepada Atha yang sesungguhnya, tidak dibuat-buat.
Atha tersenyum sambil menciumi pucuk kepala Jasmine. Dia pun demikian, hatinya telah dimiliki oleh sang istri.
"Terima kasih, aku juga mencintaimu sayang. Aku akan tetap berusaha membimbingmu. Teruslah Istiqomah di jalan yang benar dan menjadi istri yang sholehah. Kelak kita dipersatukan dalam surganya Allah," sungguh lembut kata-kata yang terucap dari mulut Atha hingga membuat Jasmine terharu.
Mereka berdua larut dalam pelukan damai. Saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Begitu indah cinta mereka.
__ADS_1
Pada kenyataannya, hanya Allah SWT yang mengetahui dan berhak menentukannya. Maka, jodoh sebenarnya bukanlah pilihan, melainkan takdir yang telah tercatat dengan jelas dan tegas di Lauhul Mahfudz.
***TAMAT***