
Merindukan seseorang yang jauh dari kita begitu menyakitkan. Sedih dan emosi terkadang merasuki hati hingga membuat pikiran jadi tak tenang. Banyak orang yang bilang jika rindu itu indah, ya memang benar. Tapi lama kelamaan rindu begitu menyiksa.
Rindu terhadap seseorang itu wajar karena kita sebagai manusia memiliki rasa kasih sayang. Bisa jadi, orang yang kita rindukan dapat merasakannya.
Di California, Amerika. Atha sejak tadi uring-uringan, tidak tenang. Akhir-akhir ini pikirannya tertuju pada tempat tinggalnya, tapi bukan karena itu saja entah kenapa dia gelisah mengingat Jasmine. Pikirannya kacau.
Dalam situasi seperi itu, Atha tak pernah ketinggalan dengan sholat tahajud. Dia meminta permohonan dan pertolongan pada Allah yang Maha Kuasa.
"Ya Allah, jagalah semua keluargaku dan orang-orang terdekatku dan orang-orang yang mendo'akan aku dalam kebaikan. Aamiin," Atha tak pernah putus mendo'akan semua keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Hati Atha kembali membaik kala dia menuntaskan sholatnya. Kemudian Atha mengambil Al-Qur'an hendak membacanya, namun tiba-tiba dia mengingat orang-orang yang berada di kediamannya, terutama Jasmine.
"Mudah-mudahan kondisi semua orang di rumah baik-baik saja. Jasmine, apa dia sudah lebih baik mendengar rekamanku mengaji? Semoga saja," gumam Atha berharap. Kemudian Atha melanjutkan apa yang akan dia kerjakan, yaitu membaca Al-Qur'an.
Sudah hampir dua bulan, Atha berada di Amerika. Dia terpaksa harus menunda kepulangannya ke Indonesia karena suatu hal yang membuatnya harus tinggal di sana, apalagi urusan perusahaan yang sedang banyak masalah tentang perpindahan jabatan.
Atha harus banyak bersabar, karena pamannya masih berkuasa menduduki jabatan tertinggi yang sebenarnya Atha miliki. Atha selalu mengalah karena pamannya. Atha sengaja melakukan itu karena dia tidak ingin memperebutkan hak waris sampai bermusuhan, itu tidak diperbolehkan.
Semakin hari semakin tak tenang hati dan pikiran Atha. Dia tidak fokus memikirkan sesuatu. Hatinya gundah gulana dan gelisah, persis apa yang dirasakan oleh Jasmine.
"Astagfirullahal'adzim. Tenangkanlah hatiku Ya Allah," ucap Atha sambil berzdikir menyebut nama Tuhannya tak henti.
Di Jakarta, Indonesia.
Kini usia kandungan Jasmine sudah memasuki 9 bulan. Dia terlihat lemah di atas ranjang. Hanya sedikit asupan yang masuk ke tubuhnya. Dia sering teringat tentang mimpinya ketika dia sedang tidur. Di dalam mimpinya dia selalu ditemani Atha sampai dia melahirkan.
"Bisakan mimpi itu menjadi nyata? Aku sangat menginginkan dia. Dia yang selalu membuatku tenang dan nyaman berada di dekatnya," gumam Jasmine lirih.
Jasmine bangkit dari ranjangnya sangat pelan. Dia ingin berjalan ke luar menanti kepulangan Atha yang tidak tahu kepastiannya. Jasmine selalu berharap ada keajaiban datang seperti kepulangan Atha yang memberi kejutan, tapi nyatanya itu hanya angan-angan.
Saat Jasmine menampakkan kakinya melewati pintu, tiba-tiba sakit di perutnya mulai ia rasakan. Jasmine meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ah, kenapa perutku? Ya Allah, perutku sakit. Apa aku akan melahirkan?" Jasmine merasa tak kuat lagi.
"Bibi ... Bi Narti ... tolonggggg!" teriak Jasmine semampunya.
Beruntungnya, Jasmine berada di lantai bawah saat ini, jadi suaranya menggema di sekeliling rumah itu.
"Bi Nartiiii," teriak Jasmine kembali.
Jasmine tak mampu menopang tubuhnya hingga dia perlahan mendudukan tubuhnya ke lantai.
Bergegas bi Narti dan pelayan lainnya menuju ke lantai bawah tempat Jasmine berada.
"Ya Allah ... Non Jasmine kenapa, Non?" bi Narti terlihat panik bersama pelayan lain.
"Perutku sakit, Bi. Tolong ... aku nggak tahan lagi," ucap Jasmine sambil menangis.
"I-iya, Non tahan sebentar ya?" gugup bi Narti.
"Baik Bi Narti," pelayan itu pun bergegas memanggilkan satpam yang sedang berjaga.
Di samping kepanikan bi Narti, dia pun tak lupa untuk menghubungi tuannya, Atha.
"Aduh, nomor tuan Atha tidak aktif," gumam bi Narti.
"Saya coba telepon mas Billy saja," ujar bi Narti yang menghubungi Billy, asisten Atha.
Pukul 11.00, setelah menempuh waktu cukup lama untuk sampai ke rumah sakit, Jasmine mulai ditangani oleh dokter kandungan yang biasa memeriksa Jasmine.
"Nyonya Jasmine mengalami kontraksi, sekarang baru pembukaan 3, Nyonya Jasmine akan melahirkan. Mohon sabar, ya Nyonya Jasmine," ujar dokter tersebut dengan ramah.
Jasmine hanya mengangguk sambil menahan kontraksi yang dialaminya.
__ADS_1
Bi Narti dengan sabar mengusap lengan Jasmine begitu lembut.
"Non, jangan lupa berdo'a dan berzdikir. Ingat, apa yang pernah diajarkan oleh tuan Atha waktu itu," ucap bi Narti mengingatkan.
Jasmine mengedarkan senyuman pada bi Narti. Jasmine senang akhirnya bi Narti mengingatkannya pada lelaki yang dia rindukan beberapa bulan ini.
"Bi, kapan tuan Atha pulang?" tanya Jasmine dengan suara pelan.
Bi Narti bingung mau menjawab apa, bahkan saat dia menelepon Atha pun nomornya tidak aktif.
"Non Jasmine sekarang fokus untuk lahiran dulu. Urusan tuan Atha, do'akan dia supaya urusan di Amerika cepat selesai agar bisa pulang ke Indonesia," kata bi Narti sembari mengusap lembut tangan Jasmine.
Dua jam telah berlalu, kini Jasmine mengalami kontraksi kembali pada pembukaan ke 7. Sebentar lagi dia akan melahirkan. Tinggal menunggu pembukaan ke 10. Tapi sangat disayangkan, saat dokter mengecek tekanan darah, ternyata Jasmine mengalami hipertesi.
"Maaf, Nyonya Jasmine ... jika tekanan darah anda masih tinggi maka kami akan melakukan tindakan caesar," jelas dokter.
Jasmine menggenggam tangan bi Narti dengan erat.
"Bi, aku takut sendirian. Bibi jangan tinggalin Jasmine. Perutku sakit Bibi, hiks...hiks...," ucap Jasmine menangis.
"Bibi akan selalu menjaga kamu, Nona. Nona yang tenang, ya dan jangan berhenti berzdikir, mudah-mudahan tekanan darah Nona normal," ucap bi Narti menjadi cemas.
Ceklek
Suara pintu terbuka, dengan langkah kaki yang dibuat pelan. Dia melihat dua orang wanita dihadapannya yang saling berpegangan tangan.
"Bibi, aku benar-benar takut, hiks...hiks...!" ucap Jasmine yang masih menangis.
Tiba-tiba ada suara seseorang yang berada dibelakang Jasmine dan bi Narti.
"APA YANG MEMBUATMU TAKUT, JASMINE?" tanya seseorang itu jelas terdengar.
__ADS_1
Jasmine dan bi Narti mengedarkan pandangan mereka ke sumber suara.