
Setelah terjadi malam yang indah bagi Jasmine dan Atha, kini mereka sudah saling terbuka dengan perasaan mereka masing-masing, melawati hari-hari dengan tenang dan nyaman, tidak ada lagi perasaan yang mengganjal di hati keduanya. Mereka pun sering melakukan malam kenikmatan setelah memastikan Sakha tertidur.
Sungguh melegakan bagi Atha karena itu memang adalah hak yang harus dilakukan dan dijalankan dengan baik oleh pasangan suami istri dalam hal kebutuhan. Dengan begitu, lengkap sudah Atha menafkahi Jasmine secara lahir juga batin.
Dari usaha dan juga do'a, tentunya. Atha dan Jasmine yang menginginkan seorang anak kembali membuahkan hasil. Di saat Sakha berusia 2 tahun, lahirlah kembali bayi mungil di keluarga Bamantara. Kali ini seorang bayi perempuan yang cantik mirip seperti Jasmine. Dia diberi nama Ziva Azkadina. Sakha begitu senang mendapatkan adik baru.
"Mama ... adik ... nangis!" ucap Sakha dengan kalimatnya yang masih belepotan.
"Iya, sayang adek Ziva nya pipis," jawab Jasmine yang kala itu hendak menggantikan popok Ziva.
Sakha memperhatikan Jasmine yang tengah menggantikan popok untuk Ziva. Sakha begitu tenang sekali bahkan dia sesekali mengelus kepala adiknya pelan.
"Hei, Sakha sayang nggak sama adik Ziva?" tanya Atha yang baru saja ke luar dari kamar mandi.
"Sayang," jawab Sakha mengangguk.
__ADS_1
"Pinter, nanti Sakha harus jaga adik Ziva kalau udah gede, ya?" ucap Atha sembari melangkah dan duduk mendekati Sakha di ranjang.
"Iya," lagi-lagi Sakha mengangguk.
Atha dan Jasmine pun tertawa melihat Sakha, lalu Atha pun mengelus rambut Sakha penuh sayang.
Atha beralih menatap Jasmine dengan raut wajah kekhawatiran.
"Jes," sapa Atha.
"Sakha sudah mulai besar, dan tak menutup kemungkinan bahwa Ziva pun juga seperti Sakha. Aku tidak bisa terlalu lama menyembunyikan statusku pada keluargaku bahwa aku sudah menikah dan mempunyai anak," Atha menatap Jasmine seakan meminta pendapatnya.
Jasmine terlihat cemas dan bingung untuk mengatakan sesuatu.
"Sebenarnya aku takut nanti keluargamu tidak menyukaiku," ucap Jasmine lirih.
__ADS_1
"Itu tidak penting, mereka menyukaimu atau tidak. Toh mereka tidak pernah peduli padaku. Yang ingin aku tanyakan padamu adalah ... apa kau sudah siap bertemu dengan pamanku jika dia berkunjung ke rumah ini?" tanya Atha dengan wajah serius menatap Jasmine.
Jasmine menundukkan pandangannya, serasa dia ingin mengatakan 'tidak' tapi itu tidak mungkin. Karena cepat atau lambat dia akan bertemu dengan keluarga Atha. Itu pasti akan terjadi.
"Ya, aku siap!" jawab mantap Jasmine. Menganggukan kepalanya dan perlahan menatap wajah Atha.
Atha pun melemparkan senyuman kepada Jasmine.
"Syukurlah," Atha merasa lega.
Tak terasa waktu pun berlalu, kini Ziva sudah berusia 3 tahun, dia tumbuh menjadi anak kecil yang cantik dan imut. Bahkan Sakha suka sekali mencubit pipi adiknya dengan gemas karena terlihat chuby.
Tak kalah dengan Sakha yang sekarang berusia 5 tahun, dia cerdas dan wajahnya pun juga tampan dan imut. Apalagi dia sudah berada di sekolah taman kanak-kanak yang membutnya semakin bertambah aura pemberaninya.
"Lihatlah, anak-anak kita sudah tumbuh besar. Berarti kita perlu menyiapkan sambutan untuk paman, nanti. Tunggu saja waktunya," ujar Atha kepada Jasmine dengan tersenyum sambil memandang Sakha dan Ziva yang sedang bermain bersama pelayan.
__ADS_1
"Baiklah," ucap tenang Jasmine tersenyum.