Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Bahagianya Jalan-jalan


__ADS_3

Sakha begitu senang kala dia ke luar dari kelasnya, dia mendapati Byan yang sudah berdiri di samping mobilnya, memakai kaca mata hitam dan berpenampilan rapi dengan blouse navy warna favoritnya.


Sakha menghampiri Byan dengan berlari pelan karena tas yang dia dukung di belakangnya bergerak ke kanan dan kiri, membuat kakinya cukup berat melangkah.


"Om Abiiiii," teriak Sakha yang langsung memeluk Byan begitu saja.


"Segitu kangennya kamu sama Om ya!" seru Byan.


"Kangen banget malah," sahut Sakha.


Sakha seolah tak ingin melepaskan Byan, hingga anak kecil itu memeluk lelaki yang dipanggilnya om itu dengan sangat erat, sampai-sampai Byan sedikit meringis kesakitan.


"Jadi nggak nih jalan-jalan? Dari tadi nggak mau lepas aja nih pelukan," ucap Byan mengingatkan Sakha.


"Sakha kangen, kangen, kangen bangettttt sama, Om!" Sakha mendongak menatap Byan dalam. Ada kerinduan yang begitu besar oleh Sakha untuk Byan.


Sedangkan Byan, tiba-tiba saja merasakan debaran yang aneh. Dia terharu mendengar pengakuan Sakha yang merindukannya, hingga matanya berkaca-kaca. Byan pun sangat menyayangi Sakha lebih dari keponakannya.


Dia menyadari betapa berartinya seorang anak baginya. Dia menginginkan seorang anak. Dia menginginkan Sakha menjadi anaknya. Jika waktu bisa diputar kembali, Byan menginginkan seorang anak dari wanita yang dicintainya, yakni Jasmine.


"Now, let's go! Naiklah ke mobil. Kita ke mall sekarang, main bom bom car!" ujar Byan sedikit bergetar menahan air matanya agar tak jatuh.


"Yeayyy, let's go!" Sakha begitu senang. Dia pun memasuki mobil.


Setelah sampai di sebuah mall, Sakha tak pernah lepas dari senyumnya dan juga genggaman dari tangan Byan. Hatinya senang bagaikan mendapat uang yang banyak. Dia menatap Byan dengan terus tersenyum seolah berterima kasih padanya karena sudah mengajaknya jalan-jalan.


"Kau senang?" tanya Byan memastikan.


"Senang banget, Om!" seru Sakha.

__ADS_1


"Papa juga suka ngajak Sakha ke sini pasti, kan?" tanya Byan lagi.


"Jarang, Om. Papa sibuk terus sama kerjaannya. Mama juga nggak pernah mau temenin Sakha setiap kali Sakha ajak ke mall. Sekali ke mall cuma sebentar, pake kaca mata hitam sama masker, biar nggak ada yang negenalin kayak selebritis. Pokoknya nyebelin!" sewot Sakha dengan mengerucutkan bibirnya.


Byan terpikir sesuatu saat Sakha menerangkan sesuatu tentang Jasmine.


"Cih, pasti Jasmine menghindari dirinya dari Felix," batin Byan menaikan sudut bibirnya.


Bocah kecil itu sangat senang sekali saat melihat anak-anak seusianya bermain mobil-mobilan listrik disana. Dia tak sabar untuk menaikinya. Tapi sebelum itu mereka makan terlebih dulu di restoran dalam mall tersebut, setelah itu mereka berdua bermain bom bom car dilanjutkan dengan berbelanja mainan untuk Sakha.


Tak terasa hari sudah sore, bila sudah berada di luar untuk bermain, maka Sakha suka lupa diri untuk pulang. Tapi bocah kecil itu tidak pernah melewatkan kewajibannya, dia selalu ingat menunaikan shalat karena didikan dari Atha, ayah sambungnya.


Dert dert derttttt


Ponsel Byan bergetar, dia pun segera melihat dan menjawab panggilan dari Atha yang tampil di layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Bi. Bawa pulang Sakha sekarang. Istriku sudah mencemaskan anak lelakinya," ucap Atha yang memulai dengan salam.


Panggilan pun terputus. Byan menghela nafasnya kasar.


"Mencemaskan anak lelakinya? Setakut itukah Jasmine bila Sakha berada bersamaku? Cih, benar-benar wanita itu," gumam Byan pelan dengan kesal merutuki Jasmine.


Byan mengalihkan pandangannya pada Sakha yang tengah memilih-milih mainan di salah satu toko.


"Sakha, pilih mainannya dengan cepat. Setelah itu kita pulang," ujar Byan.


Setelah yakin dengan mainan yang dipilih oleh Sakha, mereka pun ke meja kasir. Kemudian Byan membayarnya. Setelah itu mereka pulang.


Mereka telah sampai di rumah kediaman Atha. Hari sudah hampir magrib, Byan hanya berdiri di luar hanya untuk mengantar Sakha. Byan pun berniat untuk pulang ke apartemennya. Tapi sayangnya, Sakha malah menarik tangan Byan agar lelaki itu masuk ke rumahnya.

__ADS_1


"Ayo, Om masuk dulu. Kita sholat bareng habis itu kita makan bareng, lalu boleh deh Om Abi pulang. Ya, ya please!" pinta Sakha merengek sambil memelas tak mau melepaskan tangan Byan.


Entah kenapa tingkah Sakha begitu manja pada Byan akhir-akhir ini, bocah itu lengket banget seperti perangko. Nggak mau lepas dari Byan.


"Baiklah," pasrah Byan.


Terpaksa Byan menuruti keinginan Sakha, padahal dirinya malas sekali harus bertemu dengan Jasmine. Dirinya masih kecewa pada wanita itu.


Malam pun tiba, saat ini mereka berlima sudah berada di meja makan, yakni Byan, Sakha, Atha, Jasmine dan tak lupa Ziva yang duduk di samping Jasmine.


"Sakha seneng deh hari ini bisa jalan-jalan sama Om Abi. Nanti kita ke Ancol ya, Om. Jangan ke mall terus, bosen dong!" seru Sakha meminta sambil sedikit mengunyah makanannya di mulut.


Atha dan juga Byan terkekeh mendengar perkataan Sakha. Sedangkan Jasmine tidak ada respon dengan wajah datarnya. Sedari tadi Jasmine hanya diam dan canggung dengan keberadaan Byan.


"Sejak ada Om Abi, sekarang Papa dan Mama di nomor duakan sama Sakha. Ya kan, sayang?" protes Atha pada Sakha sekaligus melemparkan pertanyaan pada Jasmine.


Jasmine terperanjat, dia kaget.


"I-iya Mas," gugup Jasmine sembari melirik Byan sekilas.


Jasmine masih merasa tidak enak dan bersalah pada Byan karena kebohongannya.


Byan pun melirik Jasmine sekilas dengan rasa kesalnya. Tak ada senyum sedikit pun di antara Jasmine dan Byan.


Kemudian Byan beralih mengambil air minum di depannya lalu meneguknya pelan, setelah itu matanya dia arahkan ke Sakha.


"Eum ... maaf Sakha. Om tidak bisa mengajakmu jalan-jalan lagi. Karena Om Abi ... lusa akan balik ke Amerika," ujar Byan dengan merangkai kalimatnya cukup pelan tapi jelas.


Brakkk

__ADS_1


Sakha mengebrak meja makan dengan sendok di tangannya. Netranya membulat dan tak lama terlihat berkaca-kaca.


"Nooooo!!" teriak Sakha lantang.


__ADS_2