
Setelah acara makan malam di kediaman Wiratama bersama Atha dan keluarganya, kini tak ada alasan bagi Darwish untuk menolak kehadiran Sakha kembali di rumah keluarga besar Wiratama, karena sejak kedatangan Darwish begitu dinantikan oleh Sakha seperti teman-temannya yang lain yang mempunyai kakek.
Pukul 2 siang, Darwish kedatangan seseorang yang tidak disangka-sangka olehnya di kala dia memang sedang luang, tidak melakukan aktivitas seperti biasanya di Amerika.
"Apa yang membuatmu datang kemari, Sakha?" tanya Darwish ketika Sakha mengunjungi dirinya untuk kedua kalinya.
Sakha tersenyum dengan lebar sekali menampakkan gigi-giginya.
"Aku merindukan Kakek," jawab Sakha dengan polosnya.
"Oh ya?" ujar Darwish.
Sakha mengangguk sambil tersenyum.
"Dan rumah ini," sambung Sakha.
Darwish mengernyit heran.
"Rumah ini?" Darwish melihat sekeliling rumahnya.
"Iya, Kek. Rumah ini besar dan halamannya juga besar, tidak seperti di rumahku. Kalau di sini Sakha bisa main sepuasnya," ucap Sakha sambil memperlihatkan mobil mainannya dengan remot kontrol.
Darwish menghela nafasnya, lalu terkekeh kecil mendengar ucapan polos dari bocah seperti Sakha yang bisa dimakluminya. Dia kira Sakha terlalu cepat merindukan sosok dirinya yang baru beberapa kali bertemu, tapi nyatanya ada alasan lain dibalik bocah kecil itu mengunjungi dirinya, yaitu menginginkan bermain di halaman rumahnya.
"Baiklah, kau boleh main sesukamu. Tapi ingat, jangan pergi kemana-mana, hanya di sekitar area rumah ini saja!" ujar Darwish mengingatkan.
"Siap, Kakek!" Sakha pun langsung berlari ke arah halaman rumah yang menurutnya halaman yang besar di sana. Pelayan pengasuhnya pun mengawasi Sakha bermain.
__ADS_1
Darwish tersenyum melihat sikap Sakha. Sudah lama pula Darwish tidak merasakah keberadaan anak kecil di rumahnya. Dia sangat merindukan seorang cucu di keluarga Wiratama.
"Kapan aku mempunyai cucu dari anakku? Bahkan Abyan saja belum mau menikah sampai sekarang," gumam Darwish lirih dan menghela nafanya berat.
Tak lama kemudian, setelah dia mengucapkan kata itu. Tanpa sepengetahuannya, tiba-tiba seseorang yang Darwish bicarakan muncul di hadapannya.
"Papi," sapa Byan agak malas.
Darwish kaget saat Byan datang kepadanya setelah sekian lama tidak bertemu. Sebenarnya Byan tidak ingin mengunjunginya, tetapi Byan sadar bahwa dia mempunyai seorang ayah. Maka dari itu, keberuntungan yang membawa Darwish dan dirinya berada di kota yang sama, jadi sebagai seorang anak, setidaknya Byan harus menunjukkan rasa baktinya pada Darwish.
"Kau...," ucap Darwish melongo.
"Sejak kapan kau datang ke Jakarta?" tanya Darwish masih tak percaya.
"Semalam bareng sama Wandi," jawab Byan.
"Hem, baguslah kau datang. Pasti kau kemari ada alasan tertentu, bukan?" tanya Darwish memastikan.
Byan berjalan pelan sambil melihat sekeliling ruangan tempat dia berada. Betapa rindunya dia dengan suasana rumah yang telah lama dia tinggalkan itu, rumah masa kecilnya.
"Ya, Papi sempat nggak percaya dan marah padanya tapi mau bagaimana lagi, dia menikah tanpa sepengetahuan Papi karena ada alasannya," jelas Darwish.
Atha menatap lekat Darwish.
"Jadi rumor jika mas Atha sudah menikah dan punya anak itu adalah benar?" tanya Atha memastikan dan masih tak menyangka.
"Ya, tuh ... ada Atha junior sedang main di luar," ujar Darwish menunjuk arah kepalanya ke arah halaman luar rumahnya.
__ADS_1
Byan pun mengernyit saat mendengarnya.
"Kau tahu, anaknya mirip sekali denganmu. Awalnya Papi sempat kaget. Dia lebih cocok sebagai anakmu," ujar Darwish.
"Oh ya, aku penasaran!" ujar Byan, seketika dia berjalan menuju halaman luar di mana Sakha berada.
Tak jauh dari tempat Sakha berada, Byan dari sana diam-diam memperhatikan Sakha dengan seksama. Seketika Byan teringat wajahnya seolah Sakha adalah bayangan dirinya sewaktu Byan masih kecil dulu.
"Hei, bocah kecil. Mau Om temani bermain?" Byan menghampiri Sakha ditengah menjalankan mobil-mobilannya.
Sakha berhenti sejenak lalu memandang Byan.
"Om siapa?" tanya Sakha.
"Perkenalkan, saya adalah Om Abi anaknya kakek tua yang bernama Darwish," ujar Byan sembari dengan candaannya.
"Hussss, nggak boleh kurang ajar sama orang tua, Om. Dosa loh," ujar Sakha menggurui.
"Oh ya, nggak apa-apa mumpung orangnya nggak dengar!" bisik Byan bersuara pelan.
"Hihihihiiiii," Byan dan Sakha tertawa bersama.
Tak terasa kebersamaan Byan dan Sakha begitu cepat berlalu. Byan melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tetapi Sakha masih saja belum terasa lelah dengan permainannya.
"Sakha, Om anter kamu pulang yuk. Ini udah sore, sekalian Om mau ketemu sama papa kamu, ayo!" ucap Byan mengakhiri permainan Sakha.
"Yahhh, Sakha masih mau di sini, Om!" Sakha terlihat kecewa.
__ADS_1
"Besok kamu lanjut lagi mainnya di sini, ok. Let's go!" Byan menggenggam tangan Sakha melangkah masuk ke dalam rumah.
Mereka berdua saling bergandeng tangan, begitu terlihat sangat serasi sebagai ayah dan anak.