Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Tidak Jadi Pulang


__ADS_3

Sepi, sunyi, hampa, begitulah kondisi di kediaman Atha Bamantara saat ini. Sebenarnya, dari awal rumah itu memang sepi karena dihuni oleh Atha seorang. Apalagi Atha hanya anak tunggal dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Beda halnya saat kedua orang tua Atha masih hidup, rumah itu tampak hidup.


Semua pelayan hanya mengurusi pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Jasmine hanya termenung dan tak bersemangat. Dia amat gelisah. Hari-hari pun dilewati oleh Jasmine dengan penantiannya menunggu Atha. Terkadang dia suka berdiri di depan pintu kamar Atha, berharap ada suara lelaki itu mengaji dengan suara merdu. Alangkah menyedihkannya Jasmine.


"Aku pasti sudah gila, hehehe!" gumam Jasmine sambi tersenyum-senyum sendiri di depan pintu kamar Atha.


Bi Narti yang selalu menangkap perlakuan Jasmine setiap hari, semakin sedih melihat kondisi wanita itu.


"Kasihan sekali kamu, non Jasmine. Semoga kondisi kamu nggak drop lagi," gumam bi Narti dengan cemas sambil memperhatikan Jasmine dari kejauhan.


Jasmine kembali ke kamarnya, dia duduk di depan cermin. Dia menempelkan wajahnya di atas meja rias dengan pandangan kosong.


Tak lama kemudian, bi Narti pun masuk ke dalam kamar Jasmine.


"Non, ayo kita makan dulu. Ini sudah siang loh," ujar bi Narti sambil mengelus punggung Jasmine.


"Aku belum lapar Bibi," jawab Jasmine dengan lesu.


"Inget, ada calon anakmu di perutmu. Kamu harus makan, Non Jasmine!" Bi Narti kekeh membujuk Jasmine.


"Nanti saja," bantah Jasmine pelan.


Ada ide yang terpikir oleh bi Narti untuk membangkitkan Jasmine ceria kembali dan membuatnya mau makan.


"Non Jasmine jangan sampai sakit lagi. Kalau Non Jasmine masuk rumah sakit lagi, pasti tuan Atha kecewa. Padahal tuan Atha berharap kalau Non Jasmine baik-baik saja dengan kandungannya," ujar bi Narti mulai memainkan perannya.


Jasmine langsung mensejajarkan kepalanya mendongak ke arah bi Narti.


"Bi, apa bisa aku menelepon tuan Atha? Aku sangat ingin mendengar suaranya," kata Jasmine bertanya.


Bi Narti menghela nafasnya cukup berat.

__ADS_1


"Nggak bisa, Non. Tuan Atha paling pantang jika menelepon wanita kecuali urusan penting dan bisnis pekerjaannya," ungkap bi Narti menjelaskan.


"Padahal aku ingin mendengarkan dia mengaji lagi, Bi. Hatiku sangat tenang jika mendengar tuan Atha melantunkan ayat-ayat suci yang dia baca," ujar Jasmine lirih.


"Emm ... gini saja Non. Nanti Bibi akan meminta tuan Atha mengirimkan rekaman suaranya untuk mengaji, gimana?" tawar bi Narti memberikan saran.


"Benarkah, Bi?" tanya Jasmine yang mulai bersemangat.


"Ya, Non!" sahut bi narti menganggukan kepalanya.


Jasmine mengulum senyumnya, dia tampak senang.


"Bi, sampaikan pesanku pada Atha bahwa aku ... emm ... aku menantikan dia untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur'an lagi," kata Jasmine dengan sedikit keraguan tapi dia merasa lega.


Bi Narti menarik bibirnya tersenyum melihat Jasmine mulai bangkit ceria kembali.


"Pasti, Bibi akan sampaikan pada tuan Atha nanti," bi Narti mengangguk.


Jasmine mengangguk dan bersemangat kembali untuk makan. Bi Narti menjadi senang.


Satu bulan pun sudah terlewati, kini Jasmine menunggu kedatangan Atha. Dia sudah tidak sabar melihat wajah Atha dan mendengar suaranya. Selama ini Jasmine hanya mendengar suara rekaman Atha saat mengaji lewat ponsel yang dikirimkan melalui ponsel bi Narti. Itu saja membuat Jamine bahagia walau sesungguhnya Jasmine ingin sekali video call dengannya tetapi Atha melarangnya.


Namun di satu sisi, bi Narti terlihat gelisah. Dia sungguh bingung dan serba salah. Dia tidak ingin melihat Jasmine bersedih dan kecewa lagi. Apalagi diusia kandungan Jasmine yang sudah berusia 8 bulan. Bi Narti takut kenapa-kenapa pada Jasmine.


Kenyataannya, Atha menunda kepulangannya ke Indonesia. Sungguh bi Narti tidak sanggup untuk mengungkapkan yang sebenarnya pada Jasmine. Lalu dengan alasan apalagi yang akan dikatakan oleh bi Narti kepada Jasmine?


"Bibi, besok jadi kan tuan Atha pulang ke Jakarta?" tanya Jasmine memastikan ketika dia menghampiri bi Narti di dapur. Jangan ditanya soal wajah Jasmine yang sekarang ini begitu sumringah menanti kedatangan Atha Bamantara.


Bi Narti diam, kedua tangannya diremas dengan wajah bingungnya.


"Bibi?" tanya Jasmine memecah keraguan bi Narti.

__ADS_1


"I-iya, Non!" sahut bi Narti gugup.


Jasmine menjadi heran dengan sikap bi Narti.


"Ada apa? Kenapa wajah Bibi terlihat bingung gitu sih?" tanya Jasmine mengerutkan keningnya.


"Tuan Atha beneran pulang besok, kan?" tanya Jasmine kembali memastikan.


"Emm ... anu Non ... begini Non ... tapi...," bi Narti menggangtungkan ucapannya.


"Tapi apa, Bi?" lagi-lagi Jasmine dibuat heran.


"Itu Non ... tuan Atha...," dan lagi-lagi bi Narti menggantungkan ucapannya kembali.


"Apa Bibi?" tanya Jasmine penasaran dan terlihat kesal.


Bi Narti diam kembali, dia kali ini tidak bisa membohongi Jasmine dengan alasan-alasan yang pernah dia lakukan untuk Jasmine.


Jasmine mulai paham dengan kediaman bi Narti.


"Jangan bilang kalau tuan Atha tidak jadi pulang ke Indonesia," ucap Jasmine menduga, karena terlihat dari ekspresi wajah bi Narti seolah bisa ditebak oleh Jasmine.


Bi Narti tetap diam, dia hanya melihat Jasmine dengan iba.


Jasmine sedih hingga menangis dan terkulai lemah hampir terjatuh ke lantai, tapi bi Narti dengan cepat menahan tubuh Jasmine agar tak terjatuh.


"Non Jasmine, tenangkan dirimu. Tuan Atha akan pulang bulan depan. Dia tidak bisa pulang sekarang karena ada masalah penting yang harus beliau selesaikan di kantor pusat. Yakinlah, tuan Atha akan pulang secepatnya," ujar bi Narti mencoba menenangkan Jasmine.


"Tapi aku merindukannya, Bi. Aku ingin mendengar suaranya, hiks...hiks...," Jasmine menangis pilu.


Bi Narti merasa kasihan pada Jasmine. Menurutnya Jasmine memang begitu sangat merindukan Atha dengan tulus.

__ADS_1


"Kasihan sekali kamu, Non Jasmine. Semoga Allah memberimu kebahagiaan kelak," batin bi Narti dengan lirih sambil memeluk Jasmine menenangkannya.


__ADS_2