
Pagi hari, setelah malam yang dilewati oleh Byan dengan Jasmine di malam pertama mereka, membuat Byan berakhir kecewa. Karena apa yang telah Byan rencanakan gagal total untuk membalas dendam ke Jasmine pada permainan mereka.
Byan telah memakai pakaian rapi dengan setelan jas mahal sembari memakai jam ditangannya sambil menatap Jasmine yang masih tertidur pulas dengan sprei yang berantakan hingga noda darah yang telah mengering. Byan tersenyum puas dengan apa yang telah dilihatnya itu.
"Gue beruntung dapetin loe, Jasmine. Baru kali ini gue dapat yang fresh seperti loe," gumam Byan dengan senyuman lebarnya.
"Walaupun gue kecewa, setidaknya gue puas!" gumamnya kembali.
Byan duduk di tepi ranjang dekat Jasmine, lalu dia membelai wajah Jasmine sekaligus membangunkan wanita itu sebelum dia pergi keluar.
"Cantik, tapi sayang ... loe licik seperti kancil," gumam Byan tersenyum pahit.
Jasmine pun mengerjapkan matanya karena sentuhan yang diberikan Byan padanya membuatnya geli.
Jasmine menatap Byan dengan jelas berada di depannya. Seketika itu Jasmine memasukkan dirinya dengan selimut sampai kepala yang menutupinya.
Byan terkekeh kecil saat melihat tingkah Jasmine yang menurutnya menggemaskan.
"Hei, bangunlah Jasmine! Jangan menghindari gue. Loe sudah menjadi istri gue sekarang. Ayo bangun ... mandilah dan bereskan tempat tidur loe yang berantakan, lalu cuci sprei yang bernoda merah itu, paham?" perintah Byan sekaligus memberi peringatan dengan bangganya.
Namun Jasmine hanya diam, tapi Byan tak peduli soal itu. Byan hanya ingin mengatakan sesuatu pada Jasmine.
"Gue mau pergi. Jika loe ingin sarapan, makanlah makanan di dapur. Gue sudah memesannya untuk loe."
__ADS_1
"Mungkin gue hari ini pulang malam, jadi jika loe lapar, loe masak saja makanan dengan bahan makanan yang ada. Jika loe tidak bisa memasak, pesan saja makanan online."
"Dan satu lagi, jangan coba-coba kabur dari sini. Ada anak buah gue yang bakal jagain loe di depan pintu."
Byan semakin mendekat ke arah Jamine dan berbisik padanya di balik selimut yang menutupi tubuh Jasmine.
"Gue beruntung dapat loe yang masih virgin, masih sempit, masih belum berpengalaman. Persiapkan diri loe nanti, gue ingin yang hot malam ini."
"Dan gue minta, jangan menangis lagi saat gue melakukan PERMAINAN KITA," tegas Byan penuh penekanan.
Tubuh Jasmine menegang dan ketakutan mendengar perkataan Byan. Semalam saja Jasmine merasakan sakit yang luar biasa atas permainan Byan dan perihnya saja masih menguasai tubuhnya. Bagaimana bisa Byan bilang ingin melakukan permainannya lagi nanti malam, yang hot pula? Jasmine benar-benar tidak sanggup melaksanakan permintaan Byan.
Byan akhirnya pergi meninggalkan Jasmine sendiri di kamar. Setelah itu dia menitipkan Jasmine pada anak buahnya.
"Baik Tuan!" jawab pengawal dengan patuh.
Byan pun melangkah dengan gagahnya sembari memakai kaca mata hitam membuatnya begitu berkharisma, dia berjalan menuju parkiran lalu melajukan mobilnya dengan senyuman bahagia yang diiringi musik pop barat dan kepalanya juga ikut mengangguk-angguk mengikuti irama musik.
Byan tak hentinya tersenyum sambil mengingat Jasmine dengan imajinasinya. Byan sangat tidak menyangka bila dia akan mendapatkan seorang gadis yang masih virgin, dan itu membuatnya tambah bersemangat untuk terus bermain dengan Jasmine. Apalagi Jasmine wanita yang cantik dan menggemaskan menurutnya.
Selama ini Byan selalu bermain dengan wanita-wanita yang dia bayar untuk kesenangannya. Dia tahu bahwa tidak mudah untuk mendapatkan yang virgin mengingat wanita-wanita malam itu sering juga dipakai oleh lelaki hidung belang lainnya yang membayar mereka. Makanya Byan selalu bermain aman dengan mereka. Byan juga tidak akan pernah meninggalkan jejak di rahim wanita-wanita yang ditidurinya. Itu tidak akan pernah terjadi.
Beda halnya dengan Jasmine, wanita yang baru dikenalnya. Saking ingin membalaskan dendamnya pada Jasmine, pada malam pertama mereka, Byan lupa menggunakan pengaman. Karena Byan pikir dia sudah menikah dan tidak perlu lagi untuk memakai pengaman seperti dia bermain dengan wanita bayarannya.
__ADS_1
Walaupun Byan terkenal dengan lelaki liar, tidak dipungkiri bahwa Byan pun tahu tentang hukum agama sebagaimana dia melakukannya dengan istri yang sudah halal. Maka dia tenang untuk bermain tanpa menggunakan pengaman. Itu juga yang membuat Byan bertambah leluasa dan membuatnya candu meminta lagi, lagi dan lagi.
Tapi ada yang tidak disadari oleh Byan, bahkan dia lupa dengan prinsipnya. Byan lebih mementingkan pembalasan dendamnya pada Jasmine di malam pertamanya dan berujung dengan permainannya yang memberikan dia kepuasan. Bisa jadi pada kepuasannya itu Byan telah memberikan calon keturunannya di rahim Jasmine. Ya, mungkin saja.
"Jasmine, permainan kita belum selesai, sayang!" gumam Byan dengan membayangkan rencana permainan selanjutnya yang akan dia lakukan bersama Jasmine nanti malam tanpa memberinya celah.
Sibuknya Byan dengan imajinasi nakalnya terhadap Jasmine, sampai-sampai dia baru menyadari ada panggilan telepon dari seseorang.
Derttt derttt derttt
Byan menepikan mobilnya sejenak untuk menjawab telepon seseorang.
"Hallo, Wandi ada apa? kamu ganggu imajinasi saya, tau!" kesal Byan pada Wandi sang asisten pribadinya.
Byan mendengar dengan seksama perkataan Wandi yang tiada henti berbicara. Seketika Byan mengepalkan tangannya dengan kuat menahan emosinya.
"Apa? Baiklah ... saya akan segera kesana secepatnya. Tolong kau gantikan aku dulu sementara," ucap Byan dan langsung menutup teleponnya.
Bergegas Byan melajukan mobilnya dengan cepat hingga menyalip-nyalip kendaraan yang ada di depannya ke samping kanan dan kiri sembari membunyikan klakson mobilnya dengan panjang berkali-kali.
Tinnn tinnn tinnn
"Arghhhh sialannnn!" teriak Byan memukul-mukul setir mobilnya dengan kesal.
__ADS_1