
Setelah Jasmine masuk ke dalam rumah kediaman keluarga Bamantara. Atha bertekad tidak untuk memasuki rumahnya selama 3 hari ini. Dia sangat bingung dan merasa cemas, karena selama hidupnya rumahnya tidak ada yang pernah dimasuki oleh seorang gadis ataupun wanita muda.
Lain halnya dengan pelayan yang ada di rumah Atha, semuanya Atha memperkerjakan wanita paru baya yang statusnya sudah menikah. Tapi lain dengan Jasmine, wanita itu bahkan Atha tidak mengenalnya dengan baik, apalagi status Jasmine tidak jelas, sedang hamil tapi tidak mempunyai suami. Bahkan Atha tak mempercayai ucapan Jasmine.
Itulah membuat Atha menjadi khawatir. Apalagi Atha memegang teguh prinsipnya dan perintah agama yang telah dia pelajari. Lalu sekarang Atha terpaksa harus menginap di apartemen miliknya untuk sementara waktu. Dia ingin menenangkan pikirannya sejenak, bukan mengenai Jasmine saja tetapi juga masalah lain mengenai perusahaan yang masih dikuasai oleh pamannya itu.
Di apartemen, pukul 17.00 setelah pulang dari kantornya dan diantar langsung oleh Billy, asisten pribadinya. Atha begitu tampak lelah dan banyak pikiran. Billy selalu memperhatikan betapa kusutnya wajah Atha saat bosnya itu duduk di sofa dengan menyandarkan langsung kepalanya ke belakang sambil memejamkan matanya.
"Tuan, sebaiknya Tuan kembali ke rumah saja, Tuan kelihatan lelah sekali, apalagi ada pelayan yang bisa mengurus kebutuhan Tuan," ujar Billy yang begitu perhatian pada bosnya.
Billy tahu betul jika bosnya itu berada berhari-hari di apartemen berarti lelaki itu sedang dalam mood yang buruk, ya bisa dibilang ada suatu masalah yang dihadapi Atha.
"Justru aku menghindari diri dari Jasmine," ujar Atha.
"Memangnya kenapa dengan wanita itu, Tuan?" tanya Atha heran.
"Dia memaksa untuk tinggal di rumah saya dengan alasan kakinya yang masih cidera dan dia juga mengatakan bahwa saya masih harus bertanggung jawab atas kesembuhannya," kata Atha sekedar memberi informasi supaya Billy mengetahui secara fakta agar tidak ada kesalahpahaman.
__ADS_1
Tapi nyatanya justru Billy terbelalak kaget mendengar ucapan bosnya. Dia malah berpikir yang macam-macam tentang Jasmine.
"Bagaimana kalau dia mencoba untuk mendapatkan hati Tuan agar Tuan menikahinya? Secara Tuan adalah orang kaya dan bisa jadi dia ingin menguasai hartamu, Tuan. Di luar sana banyak wanita modus loh, Tuan!"
"Kamu apaan sih, Bil. Ngawur saja! Kamu kebanyakan nonton drama, deh!" Atha sedikit terkekeh.
"Loh saya beneran, Tuan. Banyak ceritanya yang sudah saya lihat," ujar Billy sedikit ngotot.
Atha menggelengkan kepalanya sembari terkekeh kecil melihat ekspresi dari Billy yang begitu mencemaskannya.
"I-iya sih, Tuan. Tapi takutnya nanti bisa terjadi sama Tuan, gimana? Apalagi kehamilan nona Jasmine itu tidak jelas. Apa wanita itu hamil diluar nikah, ya Tuan?" ujar Billy dengan tuduhannya.
Atha langsung menatap seksama wajah Billy dengan tegas.
"Astagfirullahal'adzim, jangan berkata yang tidak-tidak sebelum tahu faktanya, Bil. Kalau yang saya dengar dari Jasmine sendiri, bahwa dia memiliki suami, tapi sekarang sudah bercerai. Tapi entahlah itu fakta atau kebohongan. Saya berharap membawa Jasmine ke rumah saya adalah pilihan terbaik untuk dia saat ini, tentunya!" kata Atha bijak.
"Bagaimana kalau kita cari tahu saja tentang nona Jasmine, Tuan?" ujar Billy berpendapat.
__ADS_1
"Jangan, saya nggak mau mengetahui profil orang lain tanpa sepengetahuannya. Itu tidak benar. Biarkan seperti ini dulu, kita lihat saja nanti bagaimana selanjutnya," tolak Atha dengan cepat.
Billy pun mengangguk setuju, dan ucapan Atha ada benarnya, bahwa bosnya itu paling pantang mengetahui seluk beluk tentang pribadi seseorang.
"Maaf Tuan, saya begitu penasaran saja dengan wanita seperti Jasmine itu," ucap Billy dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Ya, tidak apa-apa. Saya tahu jika kamu tidak ingin saya dimanfaatkan orang lain lagi, kamu begitu peduli pada bosmu ini, iya kan?" ujar Atha tersenyum nyengir menatap Billy.
"I-iya Tuan," sahut Billy kikuk. Padahal apa yang dikatakan oleh Atha itu benar.
Billy sangat setia pada Atha, sang bos yang sudah memberinya pekerjaan tetap dan berbaik hati pada Billy, mana mungkin Billy tidak peduli serta perhatian pada Atha. Atasan yang tidak pernah banyak ulah karena pribadinya yang sopan dan rajin beribadah, Billy selalu dituntun ke arah kebaikan oleh sang bos hingga sekarang Billy begitu nyaman mempunyai pimpinan yang berbudi pekerti baik seperti Atha.
"Ya sudah, sekarang mending kamu ikut saya pulang ke rumah. Saya butuh kamu sebagai teman ngobrol. Kamu juga bisa mengobrol sama Jasmine sekaligus basa basi menanyakan sesuatu yang buat kamu penasaran tentangnya. Sesuai kata kata kamu tadi. Benar tidak, Billy?" Atha sedikit menjahili Billy.
"Benar Tuan, eh tidak seperti itu, Tuan!" Billy menjadi salah tingkah.
Atha merasa terhibur hingga tertawa atas tingkah Billy. Lalu mereka pun bersiap-siap hendak pulang ke rumah besar Atha Bamantara.
__ADS_1