Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Bukan Pelayan


__ADS_3

Langkah demi langkah Atha memasuki rumahnya diikuti oleh Billy. Atha berjalan tenang sambil memakai kacamata hitamnya yang terlihat keren, padahal alasan dibalik dia memakai kacamata hitam adalah menutupi wajahnya dari para penghuni di kediamannya, terutama pada Jasmine.


Gayanya begitu tenang tapi sebenarnya suasana hati Atha begitu kacau. Masalah perusahaannya yang menguras pikirannya dan tenaganya ditambah dengan kehadiran Jasmine yang berada dalam satu rumah dengannya adalah beban untuknya. Bukan beban materi yang harus dia keluarkan melainkan beban pikirannya yang selalu was-was jika suatu hari nanti orang lain tahu bahwa dia membawa wanita muda yang sedang hamil sehingga orang menganggap dia telah menghamilinya.


Atha menghela nafasnya pelan untuk menetralkan suasana hatinya agar tetap tenang.


"Selamat datang, Tuan Atha!" sapa bi Narti menyambut Atha tepat di depan pintu masuk.


"Ya, Assalamu'alaikum," ucap Atha dan langsung mengucapkan salam ketika melangkahkan memasuki rumahnya.


"Wa'alaikumussalam, Tuan," sahut bi Narti menjawab salam dari Atha.


Atha berhenti sejenak, lalu melihat sekeliling rumah yang selama 3 hari dia tinggalkan.


"Mana yang lain?" tanya Atha.


"Pelayan yang lain sedang ada di dapur, Tuan."


Bi Narti bisa dibilang sebagai kepala pelayan di kediaman Atha. Sengaja Atha memberikan tanggung jawab penuh pada bi Narti karena wanita paruh baya itu sudah lama bekerja di keluarga Bamantara menggantikan ibunya yang sejak dulu pernah mengabdi pada keluarga Bamantara. Jadi jelas hanya bi Narti yang bisa melayani Atha sebagai asisten rumah tangga dengan baik.


"Bi, buatkan kopi dua cangkir dan bawa ke ruang kerja saya!" Titah Atha.


"Baik Tuan."


Atha melanjutkan langkahnya hendak menuju tangga di atas di ruang kerjanya, dan sang asistennya mengekori kemana bosnya tuju.


Tapi langkah Atha tiba-tiba berhenti membuat Billy kaget, membuat keningnya terpentok di bahu Atha.


"Hemm, hati-hati Billy! Santai jangan kaku dong!" seru Atha jahil.


"Hah, Ma-maf Tuan!" jawab Billy gugup.


Atha mengalihkan pandangannya ke arah bi Narti, nyatanya wanita paru baya itu berjalan menuju dapur.


"Bi Narti, kemari sebentar!" panggil Atha sedikit teriak.


Bi Narti pun berbalik dan segera menuju tuannya, Atha.


"Ada apa, Tuan?" tanya bi Narti saat sudah berada di depan Atha.

__ADS_1


"Emm ... Jasmine bagaimana keadaannya?" tanya Atha sedikit canggung.


"Non Jasmine ... di-dia keadaannya baik kok, Tuan!" ucap bi Narti ragu, sebenarnya bi Narti ingin mengatakan bahwa Jasmine hampir saja terjatuh tapi niatnya diurungkan.


Atha mengernyit dan sedikit menaruh curiga pada bi Narti yang raut wajahnya sedikit aneh, tapi pada akhirnya Atha mempercayai ucapan bi Narti.


"Hem, baguslah!" gumam Atha lalu melanjutkan langkahnya kembali sembari membuka kaca mata hitamnya saat sudah sampai di depan pintu ruang kerjanya bersama Billy.


Malam pun tiba, saat Atha dan Billy telah melaksanakan sholat magrib, mereka berdua pun turun ke bawah menuju ruang makan. Mereka pun telah duduk untuk bersiap menyantap makanan yang dihidangkan oleh bi Narti dan satu pelayan lainnya. Kedua pria itu pun menyantap makanan dengan santai dan sesekali berbicara seperlunya mengenai perusahaan.


Saat suasana mulai tenang, hanya ada dentingan suara sendok dan piring. Namun tiba-tiba saja ada suara yang membuat kedua laki-laki tersebut kaget.


"Selamat malam, Tuan!" sapa Jasmine yang tiba-tiba tepat berada di samping Atha.


"Uhuk uhuk uhukkkk, ka-kamu Jasmine ... uhuk uhukkk!" seketika Atha kaget hingga tersedak makanannya.


"Ini minum dulu, Tuan!" Dengan cepat Jasmine meraih minuman dan memberikan minum itu kepada Atha.


Secepat kilat Atha menyambar minuman dari tangan Jasmine dengan repleks dan Atha pun meminumnya sampai air dalam gelas itu kosong.


Glegek


Glegek


"Maafkan aku, Tuan!" ucap Atha.


Atha menatap Jasmine sekilas lalu mengarahkan matanya ke arah tisu di depannya, kemudian mengambilnya dan mengelapnya ke mulutnya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Atha pada Jasmine, tetapi pandangan mata Atha masih ke arah depan.


"Emm ... a-aku hanya ingin latihan berjalan saja, kok. Maaf sudah buat makan anda terganggu," ucap Jasmine beralasan dengan raut wajah menyesalnya.


"Ini sudah malam, kau seharusnya istirahat di kamar saja. Jangan banyak bergerak. Jika ingin latihan, cukup di pagi hari, siang hari atau sore hari dan minta temani bi Narti," ujar Atha memberi nasihat. Perhatian tapi gaya bicaranya sedikit dingin.


Jasmine mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Atha seakan ada orang yang begitu perhatian padanya.


Jasmine masih saja berdiri di samping Atha, sepertinya Jasmine sedang melamun hingga dia menyeringai sendiri membuat Atha dan Billy menjadi heran.


"Ekhem ... kamu sudah makan?" tanya Atha basa basi pada Jasmine.

__ADS_1


"Hah, emm belum!" sahut Jasmine sedikit kaget.


Atha menarik nafasnya pelan.


"Kenapa belum makan? Ibu hamil harus makan dengan tepat waktu," ucap Atha datar.


"Sengaja aku mau menunggu Tuan makan terlebih dulu," ujar Jasmine santai, tapi malah dianggap lain oleh Atha juga Billy.


Billy sedikit tercengang mendengar penuturan Jasmine, secepat itu pula Atha menatap tajam ke arah Billy sehingga Billy menundukkan pandangan matanya seketika.


"Ke-napa kau menungguku?" tanya Atha mulai canggung.


"Se-benarnya a-ku ingin melayanimu, Tuan!" ujar Jasmine ragu.


Billy tersenyum kecil menahan tawanya yang kali ini menutupi mulutnya dengan tangannya. Sungguh perkataan Jasmine membuat urat geli Billy bermunculan, sedangkan Atha benar-benar terkejut mendengar pernyataan Jasmine.


"Tidak perlu, di sini banyak pelayan yang melayaniku. Aku tegaskan sekali lagi, bahwa kamu itu korban kecelakaan yang butuh tanggung jawabku dan BUKAN PELAYAN di sini. Kamu paham sekarang?" Tekan Atha dengan tegas tetapi bernada pelan sekaligus mengingatkan Jasmine dengan pandangan nanar melirik kanan kiri tak menentu.


"Iya, tapi Tuan...," sahut Jasmine menggangtung.


"Sekarang duduklah dan makanlah di sini bersama Billy!" perintah Atha yang telah menyudahi makannya.


Billy kaget begitu Atha memberikan perintahnya.


"Tapi makanan Tuan Atha belum habis, loh!" seru Billy seolah menyuruh bosnya itu tetap tinggal menemaninya.


"Saya kenyang! Temani saja Jasmine sampai selesai makannya!" titah Atha kembali.


"Tapi Tuan...," Billy ingin berontak tapi tidak berani membantah Atha.


"Jika kau sudah selesai makan, temui saya di kamar pribadi saya!" ujar Atha mengingatkan.


"Ba-baik Tuan," sahut Billy pasrah.


Atha pun bangkit berdiri kemudian melangkah menaiki tangga menuju kamar pribadinya.


Jasmine bengong ketika bersama Billy dihadapannya itu, namun Jasmine menuruti perkataan Atha.


Sedangkan Billy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung akan memulai pembicaraan dari mana kepada Jasmine.

__ADS_1


"Aduh, salah gue sih pake ngetawain Tuan Atha, jadi ini hukumannya buat gue, huftttt!" batin Billy lirih dengan salah tingkah sembari melirik-lirik Jasmine yang duduk di depannya.


__ADS_2