Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Bertemu Kakek


__ADS_3

"Paman, Atha tahu ini terlambat, tapi tolong restuin Atha dan Jasmine agar menjadi pasangan yang sakinah mawaddah warahmah," ujar Atha meminta restu pada Darwish.


Darwish hanya diam menatap wajah Atha dengan penuh kecewa, marah dan kesal. Tanpa menjawab perkataan Atha, lelaki paruh baya itu melangkah pergi begitu saja melewati Atha.


Atha menatap kepergian Darwish sembari menghela nafasnya cukup berat.


"Maafkan aku, Paman!" gumam Atha lirih sembari melihat kepergian Darwish yang sebentar lagi akan menghilang dari pandangannya.


Tapi di saat yang bersamaan, ketika Darwish akan melangkah ke luar dari pintu rumah Atha, tiba-tiba saja Sakha berlari-lari kecil yang diikuti oleh pelayan pengasuhnya. Ternyata Sakha baru pulang dari mini market membeli permen kesukaannya.


Bukkk


Sakha menabrak Darwish cukup kencang sehingga Sakha terjatuh di lantai bersama dengan beberapa permen yang berserakan.


"Aduhhh sakit," ringis Sakha sambil memegang pantatnya.


Darwish pun membantunya untuk berdiri. Sontak Darwish kaget saat melihat Sakha yang belum diketahuinya itu. Darwish pun mengerutkan keningnya bertanya-tanya.


"Siapa anak ini? Wajahnya hampir mirip dengan Abi," batin Darwish penasaran.


Di dalam rumah, mendengar ada suara dari Sakha, Atha pun melangkah ke arah depan.


"Ada apa?" tanya Atha spontan.


"Ini Tuan, tadi Sakha bertabrakan dengan Bapak ini," ujar pelayan pengasuh Sakha angkat bicara, dan nyatanya pelayan ini belum mengenal Darwish.


Atha melihat Darwish yang seolah bingung dengan melihat Sakha. Akhirnya, Atha memperkenalkan Sakha kepada pamannya itu.


"Dia Sakha, anak pertamaku. Umurnya 5 tahun. Dia sekolah di taman kanak-kanak," ucap Atha menjelaskan.


Mendengar itu, Darwish menjadi kaget. Dia kira hanya Ziva, rupanya ada Sakha juga merupakan anak Atha yang sudah besar.


"Kau benar-benar keterlalun, Atha!" umpat Darwish sangatlah kesal.


Atha hanya tersenyum mendengar perkataan pamannya itu.

__ADS_1


"Ayo Sakha, beri salam pada Kakek Darwish!" pinta Atha pada Sakha.


Sakha pun menatap Darwish lekat.


"Dia Kakek?" tanya Sakha beralih menatap Atha.


Sakha masih belum percaya, karena selama ini dia belum pernah mengetahui Darwish sebagai kakeknya.


"Iya, sayang!" Atha mengangguk.


Sakha langsung menarik tangan Darwish, lalu menciumnya.


"Assalamu'alaikum, Kakek. Namaku Sakha. Senang bertemu denganmu, Kakek!" ucap Sakha memberi salam sambil tersenyum manis.


Darwish salah tingkah. Sebenarnya dia kesal dan kecewa tapi tidak mungkin meluapkan suasana buruknya pada bocah sekecil Sakha.


"Kenapa Kakek diam, ayo jawab salam Sakha. Tidak baik loh jika tidak menjawab salam dari orang yang memberi kita salam," ujar Sakha menjelaskan. Memang Sakha termasuk anak yang cerdas.


"Hah, ahhh iya ... wa'alaikumussalam," jawab Darwish sedikit canggung.


"Ayo Kek, kita masuk!" ajak Sakha.


"Tidak, a-aku tidak bisa. Lain kali saja. Aku ada urusan yang penting," tolak Darwish sedikit kaku berhadapan dengan bocah seperti Sakha.


"Yahhh, padahal Sakha ingin main sama Kakek," gumam Sakha kecewa.


Atha mencoba memberi pengertian pada Sakha.


"Kakek ada urusan dengan teman lamanya, sayang. Nanti kita akan bertemu lagi dengan Kakek Darwish, ok!" ucap Atha meyakinkan Sakha.


"Bener ya, Kek. Kalau gitu Sakha akan menunggu!" seru Sakha kembali ceria.


Atha memberi kode anggukan kepala pada Darwish.


"Baiklah," sahut Darwish bernada datar.

__ADS_1


Darwish pun langsung melangkah pergi memasuki mobilnya, kemudian Martin yang sudah duduk di kursi kemudi, melajukan mobil itu.


Sepanjang perjalan, Darwish tak lepas dari memikirkan tentang Atha dan juga keluarganya termasuk Sakha yang selalu membayanginya dengan wajah seseorang.


***********


"Ah, lagian kenapa aku tidak bisa jauh dari lelaki jomlo sialan itu. Kami seperti seorang kekasih saja kalau seperti ini," gumam Byan mengumpat kesal.


Byan berjalan dengan malas sambil membawa kopernya.


"Woi, tungguin gue! Seharusnya loe berjalan di belakang gue, bukannya gue di belakang elu. Kebalik tau!" Teriak Byan yang kali ini berjalan lebih cepat untuk beralih ke bagian depan.


"Woi, berhenti. Nggak denger apa gue manggil dari tadi?" kesal Byan menghadap orang itu.


"Astaga Wandi, sejak kapan loe pakai itu?" kaget Byan kecewa.


Nyatanya Wandi sedang memakai headset di kedua telinganya. Wajar saja Wandi tidak mendengar perkataan Byan yang sedari tadi mengoceh.


Wandi pun berhenti seketika dengan mukanya yang tak bersahabat.


"Apaan sih? Nggak usah buat rusuh deh, loe!" kesal Wandi pula.


"Gue nggak pernah maksa loe untuk ikut gue ke Jakarta. Jadi mending loe diem dan ikutin gue aja, ok!" sambung Wandi sok angkuh.


Byan terbelalak dengan penuturan Wandi. Sahabatnya itu belagak seperti di atas langit.


Wandi berjalan santai melewati Byan. Ya, saat ini Byan tidak bisa berkata-kata seolah dia kali ini mengikuti sahabatnya sekaligus asistennya itu. Byan tidak bisa jauh dari Wandi karena lelaki itu merasa dirinya sudah sangat dekat seperti saudara dengan Wandi.


Jadi saat Wandi berencana pergi ke Indonesia, Byan pun terpaksa mengikutinya walaupun dia tidak ingin menginjakkan kakinya ke Jakarta, karena akan mengingatkan dia tentang luka hatinya karena perpisahannya dengan Jasmine.


"Wandi sialan, loe. Gue boss dan loe asisten, mengerti?" bantah Byan.


"Bodoh amat, emang gue pikirin!" ucap Wandi santai sambil berjalan lurus ke arah pesawat, karena sebentar lagi pesawat akan take off.


"Hei, loe berani-beraninya sama gue!" kesal Byan sepanjangan.

__ADS_1


__ADS_2