Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Tanggung Jawab seorang Ayah


__ADS_3

Setelah semua rahasia terungkap, sejak saat itu suasana menjadi tegang. Saling diam tak bertegur sapa. Bukan karena marah atau benci. Namun suasana hati mereka masih belum mereda, apalagi Atha. Dia masih merasa kecewa atas apa yang telah dia dengar dari ungkapan Jasmine dan Byan. Nasi sudah menjadi bubur. Atha berusaha akan menerima apa yang terjadi dengan lapang dada dan pasrah pada ketentuan takdir Allah yang Maha Kuasa.


Setelah 20 menit berlalu, Atha memasuki kamar inap Sakha saat hatinya mulai mereda. Bagaimanapun juga, Sakha adalah tanggung jawabnya sebagai anak. Sampai kapanpun dia tetap menerima Sakha sebagai anaknya. Toh, walaupun Sakha sebenarnya adalah keponakannya tapi dia sudah menyayangi Sakha sebagai anaknya sendiri.


"Sakha simpan dulu ponselnya. Jangan main game terus. Sakha harus istirahat biar cepat sembuh agar bisa pulang ke rumah, oke!" ucap Atha sembari meraih ponsel yang dimainkan oleh Sakha sejak Atha berada di luar.


"Kapan Sakha pulang, Pa?" tanya Sakha terlihat bosan terbaring di ranjang rumah sakit.


"Secepatnya," jawab singkat Atha.


"Benarkah?" Sakha terlihat bahagia.


Atha mengangguk tersenyum pada Sakha dengan perasaan yang gusar, karena sejak tadi ada banyak pasang mata yang memandang dirinya. Membuat Atha menjadi tidak nyaman.


"Atha, Abyan, ke luar sebentar. Aku ingin bicara pada kalian," ajak Darwish yang melangkah ke luar dari kamar inap itu. Dia ingin membahas sesuatu pada anak dan keponakannya itu.

__ADS_1


Atha dan Byan saling pandang sejenak, lalu memalingkan wajahnya bersamaan. Kemudian mengikuti Darwish ke luar dari ruang kamar inap.


"Aku senang sekaligus kecewa hari ini. Aku senang karena akhirnya aku mempunyai keturunan dari Byan. Tapi aku kecewa karena anakku sendiri menyembunyikan pernikahannya dariku, papinya sendiri," ujar Darwish berterus terang.


Hening sejenak, antara Byan dan Atha saling diam. Darwish hanya memandang wajah mereka bergantian. Merasa kesal tidak ada respon sama sekali dari keduanya.


"Paman senang kamu mau menerima Sakha, menyayangi dia seperti anak sendiri dan kamu juga merawat Sakha dengan baik," ucap Darwish menatap Atha.


Atha merasa tidak suka dengan perkataan dari sang paman.


"Itu sudah tugasku sebagai orang tuanya. Aku adalah ayahnya Sakha," ujar Atha dengan tegas.


"Ya, kau memang ayahnya Sakha. Maaf kalau paman menyinggung perasaan kamu," Darwish merasa tidak enak.


Suasana hening kembali.

__ADS_1


"Maaf Pak, keluarga dari pasien Sakha. Mohon tagihan administrasinya di selesaikan secepatnya," seorang perawat tiba-tiba menyerahkan selembar kertas pada Atha.


"Paman akan yang melunasinya," Darwish hendak meraih selembar kertas administrasi dari perawat itu.


Sejurus kemudian, Atha meraih terlebih dahulu tagihan admistrasi dari tangan perawat itu.


"Biar aku saja, karena Sakha tanggung jawabku. Dia adalah anakku!" tegas Atha sedikit menekan.


Setelah mengatakan itu, Atha langsung berbalik dan berjalan menuju tempat pembayaran tagihan admistrasi.


"Atha, biarkan Paman yang....," ucap Darwish terpotong, dia hendak menghampiri Atha.


"Pi, jangan halangi mas Atha. Biarkan dia yang melakukan tugasnya sebagai ayah!" cegat Byan menahan langkah Darwish.


"Tapi Sakha cucuku!" seru Darwish.

__ADS_1


"Tapi mas Atha punya hak atas Sakha. Papi harus ingat itu!" tegas Byan kesal berucap.


Sontak membuat Darwish tercengang dan tak bisa berbuat banyak terhadap sang anak. Darwish menyadari satu hal atas perkataan Byan tersebut.


__ADS_2