Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Mirip Banget atau Sedikit?


__ADS_3

Mendengar suara yang tak asing dia dengar, Jasmine mempertajam matanya agar bisa melihat dengan jelas siapa seseorang yang berani menjawab sapaannya itu. Jasmine berharap bukan orang yang dia khawatirkan keberadaannya akhir-akhir ini.


Seperti yang dia duga, suara itu adalah suara lelaki yang saat ini tidak ingin dia temui. Ya, siapa lagi kalau bukan Byan. Jasmine langsung mengalihkan pandangannya ke arah Sakha yang tertidur digendongan Byan. Tapi kenapa harus Byan? Seharusnya Atha yang membawa Sakha ke kamarnya.


"Kaget jika yang datang aku, bukannya mas Atha? Dan panggilan sayang itu...," ujar Byan menggantungkan kalimatnya.


"Panggilanku untuk Sakha, bukan kamu!" dengan cepat Jasmine memotong ucapan Byan.


Byan mendecih dengan senyuman kecil.


"Baringkan Sakha di sana, setelah itu kau pergilah dari sini," pinta Jasmine menunjuk ke arah ranjang, dia tak mau basa-basi.


"Baiklah kakak ipar," tekan Byan dengan kata-katanya menuruti perintah Jasmine dengan membaringkan Sakha di ranjang sebelah Ziva.


Jasmine langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh Sakha.


"Kenapa masih di sini, pergilah. Dan jangan membawa Sakha pulang malam seperti ini lagi. Aku tidak suka kau membawa anakku sesuka hatimu," ketus Jasmine sambil memperingati.


Byan masih berdiri sambil memasukan tangannya ke saku celana. Dia masih memandang Jasmine yang telihat tak nyaman dengan kehadirannya. Terbesit dibenak Byan untuk berlama-lama di sana.


"Kau tahu, aku suka sekali saat jalan-jalan dengan Sakha tadi, banyak orang mengira bahwa kami adalah ayah dan anak. Secara wajah kami sangat mirip," ujar Byan sedikit bercerita.


Jasmine tak mempedulikan ucapan Byan. Dia hanya pura-pura tak mendengar padahal hatinya sangat was-was.


"Sungguh aneh, aku akui mas Atha dan aku saudara sepupu dan wajah kami juga ada kemiripan sedikit, hanya sedikit. Tapi Sakha malah lebih mirip denganku. Fotoku masih kecil pun sangat mirip dengan Sakha. Sepertinya Sakha cocok menjadi anakku, deh!" Jahil Byan sambil menatap Sakha yang tertidur sekaligus melihat reaksi Jasmine.


Mendengar itu sontak Jasmine membulatkan matanya dan tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Byan.


"Sakha anakku bukan anakmu!" bantah Jasmine bernada tinggi.


Byan menarik sudut bibirnya mendengar kalimat yang diucapkan Jasmine.


"Siapa bilang Sakha anakku? Aku tahu Sakha anak mas Atha. Kan aku hanya bilang COCOK MENJADI ANAKKU. Jadi jangan ngegas dong ngomongnya, santai, rilex aja!" tekan Byan menjelaskan.


Byan mengerutkan keningnya, dia heran dengan Jasmine yang tangannya gemetaran karena dia meremas kedua tangannya.


"Apa Sakha memang anakku? Kau terlihat seperti orang ketakutan?" Byan mendekatkan tubuhnya ke arah Jasmine, dia ingin melihat ekspresi wanita itu dengan jelas.


"Berhenti membual, Byan. Jika aku memiliki anak darimu, maka aku akan ... menggugurkannya. Bukankah itu yang kau inginkan dulu? Sekarang pergilah dari kamarku!" bentak Jasmine dengan suara bergetar terang-terangan mengusir Byan.


Deg


Byan terkejut, dia sadar bahwa pernah mengatakan kalimat yang barusan Jasmine ungkapkan. Byan seakan frustasi dengan kenyataan itu. Dia sadar betapa egoisnya dia dulu hingga tak ingin mempunyai anak. Tapi entah sekarang kebalikannya, Byan malah ingin sekali memiliki seorang anak sejak dia bertemu Sakha. Seakan dia melihat Sakha dalam dirinya.

__ADS_1


"Tapi bukan berarti kamu pernah hamil anakku lalu kau menggugurkannya?" tanya Byan dengan panik.


Jasmine menyeringai sinis.


"Jangan mimpi. Itu tidak pernah terjadi," ketus Jasmine.


Sakit, itulah yang dirasakan oleh Byan. Kenapa baru sekarang dia merasakan sakit yang luar biasa dihatinya mendengar Jasmine seolah tidak menginginkan dirinya apalagi anak darinya.


"Pergilah, tunggu apalagi? Tidak baik jika kita berdua di dalam kamar ini," usir Jasmine yang kali ini bernada pelan.


Byan membuang nafasnya kasar lalu berbalik dan melangkah meninggalkan kamar itu dengan menutup pintu cukup kuat.


BRAKKK


Jasmine sampai kaget, tapi beruntung Sakha dan Ziva tidak bangun saking lelapnya mereka berdua tidur.


"Dia tidak berubah sama sekali. Dasar egois!" gumam Jasmine kesal.


Jasmine hendak menaiki ranjangnya, namun tiba-tiba suara pintu kembali terdengar.


Ceklek


Bunyi suara pintu terbuka. Jasmine pikir itu adalah Byan yang kembali masuk ke kamarnya.


"Kau mengusirku?" tanya Atha bingung.


Jasmine terbelalak kaget melihat sosok dihadapannya.


"Ah, ti-tidak ... aku pikir kamu tadi si Abi. Maaf ya mas," Jasmine merasa bersalah.


Atha mendekat ke ranjangnya lalu merangkul Jasmine.


"Kamu jangan marah-marah gitu sama Abi. Aku sengaja menyuruh dia membawakan Sakha ke sini. Tadi aku sedang mengangkat telepon dari Billy," jelas Atha.


"Iya Mas," Jasmine tersenyum getir.


***********


Di sisi lain, Byan yang tengah galau hingga pikirannya tak karuan. Malam ini dia ditemani oleh Wandi di apartemennya. Dia merasa tidak bisa tidur jika sendirian di sana, apalagi mengingat apartemen itu ada kenangan dirinya bersama Jasmine. Sekuat apapun dia melupakan maka wajah Jasmine yang selalu terbayang.


"Udah deh, mending loe tanya langsung aja sama mas Atha. Beres deh tuh urusan," saran Wandi pada Byan yang sejak tadi hanya melamun sembari mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di ujung sofa.


"Tapi, apa mas Atha nggak curiga saat gue tanya tentang Jasmine? Gue takut dia mikir macem-macem," Byan terlihat bingung.

__ADS_1


"Ya loe basa-basi kek atau apa gitu. Kebanyakan mikir loe. Gue yakin pasti mas Atha menikahi Jasmine karena ada sesuatu," ujar Wandi kian membuat hati Byan dilanda gelisah.


"Sok tau loe ah!" umpat Byan melempar bantal ke arah Wandi.


"Yeee, itu kan pendapat gue. Kalau loe nggak terima, ya udah," ujar Wandi.


Hening sejenak membuat Wandi melihat ke arah Byan yang nyatanya masih terlihat seperti orang bingung.


"Byan," sapa Wandi tapi Byan tak mendengarnya.


Wandi hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang mulai stres, pikirnya.


"Woiiii Byannnn!" teriak Wandi ke telingga Byan.


Sontak Byan terkejut.


"Ah gila loe!" umpat Byan.


"Lagian melamun aja. Nih gara-gara loe ketemu si Jasmine. Bilangnya udah move on, tapi nyatanya masih ada rasa sama mantan. Mau dikemanain tuh cewek loe si Jane? Huh, munafik loe!" ledek Wandi menyingung Byan.


Byan diam tak menanggapi, karena apa yang dikatakan Wandi membuatnya dilema. Byan menghela nafasnya berat.


"Eh, menurut loe ... muka gue sama mas Atha mirip banget atau mirip sedikit, nggak sih?" tanya Byan mengubah posisi menatap serius ke arah Wandi.


"Emm ... mirip tipis alias sedikit, karena loe lebih ke wajah bule ketimbang mas Atha. Emang kenapa sih?" Wandi terlihat penasaran.


"Anaknya mas Atha sama Jasmine mirip banget sama muka gue. Apalagi seusia Sakha yang masih 5 tahun, kayak muka gue waktu kecil, persis banget!" ungkap Byan.


"Wajar dong, loe sepupunya mas Atha. Gue aja mirip banget sama paman gue, pokoknya 11, 12 deh!" sahut Wandi.


Wandi sekilas teringat wajah pamannya yang sekandung dengan ayahnya. Dia tersenyum sendiri kala membayangkan pamannya itu. Tapi sekejab dia mengingat Byan dan Atha.


"Eh, tunggu dulu! Jarang-jarang loh muka anak mirip sama saudara sepupu. Jangan- jangan si Sakha itu anak...," Wandi melotot sempura ke arah Byan.


Byan pun menjadi antusias. Mungkin apa yang dipikirkan oleh Wandi sama dengan pemikirannya.


"Anak gue maksud loe? Gue juga mikir gitu tadinya, tapi nggak mungkinlah," Byan mendorong kepala Wandi menjauhi dirinya dengan jari telunjuknya.


"Ya siapa tau aja, saat kalian berpisah si Jasmine udah hamil duluan," ujar Wandi berpendapat.


"Mana mungkin mas Atha nikahin orang yang udah hamil duluan, bodoh. Mas Atha itu orang yang mengerti agama," lagi-lagi Byan menunjuk kepala Wandi dengan jari telunjuknya.


Wandi menggaruk kepalanya sambil tersenyum getir.

__ADS_1


"Udah ah, gue mau tidur. Tambah ngelantur aja ngomong sama loe!" Byan berjalan masuk ke kamarnya meninggalkan Wandi di ruang tamu sendirian.


__ADS_2