Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Hadiah dari Kakek


__ADS_3

Setelah mengetahui tentang status Sakha, kini Darwish begitu semangat dan perhatian pada cucunya itu. Rasanya ingin sekali dia memeluk Sakha dan bercerita banyak hal padanya. Tapi, dia terlihat cemas karena semenjak dirinya begitu peduli pada Sakha, serasa Atha dan Jasmine selalu saja mengalihkan perhatian mereka yang berlebihan pada cucunya, maka itu membuatnya merasa tidak nyaman. Dan Darwish memutuskan untuk pulang ke Amerika terlebih dahulu dari Byan.


Sedangkan Byan begitu sangat resah, apalagi Jane yang terus menerus mengajaknya untuk pulang ke Amerika. Namun Byan merasa berat untuk meninggalkan Sakha apalagi dia telah mengetahui kebenaran tentang Sakha.


Akhirnya, tiga hari setelah Sakha di rawat di rumah sakit, anak itu diperbolehkan pulang ke rumah. Barulah Byan lega untuk meninggalkan Sakha dengan keadaannya yang sudah terlihat membaik.


"Sakha, Om Abi sudah terlalu lama di sini dan menemani Sakha sampai sehat. Jadi Om Abi pamit pulang ke Amerika, ya. Jangan nakal, jadi anak yang baik," pesan Byan pada Sakha berpamitan.


Sakha merasa kecewa mendengar kepulangan Byan. Tetapi dia tersenyum saat mengingat Byan yang telah setia menemani dirinya di rumah sakit setiap hari walaupun sudah ada Jasmine maupun Atha yang menunggu.


"Makasih ya, Om sudah menemani Sakha hingga saat ini. Cepat kembali ya, Om!" ujar Sakha yang kelihatannya sudah bisa merelakan Byan berangkat ke Amerika.


"Pasti sayang. Om Abi akan selalu ada untuk Sakha."


"Sakha sayang Om Abi," ungkap Sakha sembari memeluk Byan.


"Om Abi juga sayang Sakha," balas Byan memeluk Sakha.


Byan mencoba menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca. Tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya saat ini sangat menginginkan Sakha, ingin selalu bersamanya. Tapi, sepertinya itu hanya mimpi.


Atha yang melihat itu menjadi terharu. Dia sebenarnya tidak tega melihat Byan disebut 'Om' oleh Sakha. Sejatinya mereka adalah dua orang yang terikat tali darah yang sama.


Sedangkan Jasmine, dia merasa jika kedekatan Sakha dan Byan akan berdampak buruk untuknya, mungkin suatu saat Byan bisa merebut Sakha darinya, pikir Jasmine.


*******


Tiga bulan kemudian, kini Sakha sudah bisa bermain kembali dengan teman-temannya di sekolah setelah kemarin dia kontrol ke dokter yang menangani operasinya dulu. Itu adalah jadwal kontrol yang terakhir. Sakha sangat senang sekali, bisa bermain seperti biasa.


Kedatangan Byan dan Darwish pun sama-sama kembali ke Jakarta untuk menemui Sakha.


"Hallo Sakha, cucu kakek semangat sekali sekarang. Apa kabar mu, sayang?" Darwish menghamburkan pelukannya pada Sakha lalu menggendongnya.


"Kakek kangen sekali sama kamu Sakha," ungkap Darwish begitu bahagia.


Cup


Cup

__ADS_1


Darwish mencium kedua pipi Sakha di kanan dan kiri. Sakha merasa geli dicium seperti itu karena kumis sang kakek yang mengenai pipinya.


"Hihihi, Sakha juga kangen sama Kakek!" seru Sakha tertawa sembari mengusap pipinya yang masih terasa menggelikan.


"Kakek punya hadiah untuk Sakha. Tuh lihatlah, bagus bukan?" Darwish menunjukkan tangannya ke arah motor mini cross untuk Sakha.


Sakha langsung turun dari gendongan Darwish dan menghampiri motor mini itu. Memang dari dulu Sakha menginginkan motor mini itu, tapi Atha belum mau membelikannya dan belum mengizinkan untuk Sakha memiliki motor mini itu dengan alasan Sakha belum genap berusia 10 tahun.


"Om Abi," teriak Sakha menghambur ke pelukan Byan.


"Kau menyukainya?" tanya Byan.


"Suka banget," seru Sakha yang kemudian hendak mencoba motor mini cross itu.


Atha yang melihat hadiah pemberian dari Darwish, ternyata kurang suka. Bukan karena iri melainkan pemberian itu menurut Atha sangatlah berlebihan. Karena sama saja dengan memanjakan anak dengan barang-barang yang mewah. Sedangkan Atha mengajarkan anak-anaknya selalu dengan hal-hal yang sederhana dan sewajarnya.


Apalagi dengan barang-barang yang dipikir Atha hanya sia-sia diusia Sakha yang masih anak-anak, karena lambat laun Sakha akan tumbuh menjadi anak remaja, dan tidak mungkin mengendarai motor mini cross itu lagi ketika remaja.


"Aku mau coba motornya, Om!" Sakha sangat antusias ingin mencoba motor itu.


"Aku akan menjaganya, janji tidak akan terjadi apa-apa pada Sakha," ucap Byan meyakinkan Jasmine. Dia merasa kesal karena perlakuan Jasmine yang seolah tidak membolehkan Sakha bermain bersama dengan anaknya sendiri.


"Tapi...," Jasmine beralih menatap Atha untuk sebuah persetujuan.


Atha pun mengangguk mengiyakan.


"Hanya diseputaran halaman rumah ini saja, tidak boleh ke jalanan!" ucap Atha memberi perintah.


"Yeayyy, makasih ya Papa!" Sakha merasa senang diizinkan oleh Atha yang tersenyum kecil ke anak sambungnya itu.


Sungguh sakit rasanya mendengar Sakha mengatakan panggilan 'Papa' pada Atha. Seandainya waktu bisa diputar kembali, dia tidak akan pernah meninggalkan Jasmine dulu sehingga dia bisa mempunyai keluarga yang utuh. Tapi sekarang malah kebalikannya. Sungguh penyesalan yang Byan dapatkan saat ini.


"Ziva mau ikut, Ziva mau ikut!" rengek Ziva berlari menghampiri Sakha, kakaknya.


"Let's go, Ziva!" seru Sakha menggenggam tangan adik manisnya itu.


Darwish menghampiri Atha ketika Byan, Sakha dan Ziva berjalan ke halaman depan.

__ADS_1


"Paman ingin mengajak Sakha tinggal beberapa hari di rumah utama keluarga Wiratama selama Paman di Jakarta," izin Darwish pada Atha to the point.


Atha mengedarkan pandangan ke arah Jasmine.


"Aku serahkan keputusannya pada Jasmine, karena dia adalah ibunya," ujar Atha tak ingin mengambil keputusan hanya sepihak.


Darwish menatap Jasmine penuh tanda tanya, seolah mengkode untuk pertanyaan yang dilayangkan padanya ke Atha. Darwish masih diam dengan tatapannya ke arah Jasmine yang datar.


"Tidak bisa. Aku tidak mengizinkan Sakha menginap di sana," ucap Jasmine dengan lancar.


"Mengapa? Sakha cucuku," protes Darwish.


"Tapi aku ibunya dan aku sangat berhak atas Sakha!" tegas Jasmine.


"Aku juga berhak atas Sakha. Karena Sakha anak dari Abyan," protes Darwish kembali.


"Itu salah. Karena dari awal ayah kandungnya saja tidak menginginkan Sakha lahir ke dunia," ungkap Jasmine dengan suara bergetar.


Deg


Darwish membelalakkan matanya, sungguh dia tidak percaya atas apa yang telah dikatakan oleh Jasmine.


"Dasar Abyan bodoh. Pantas saja wanita ini merahasiakan status Sakha selama ini," batin Darwish kecewa.


Darwish diam tidak ingin berkomentar apa-apa. Dia langsung melangkah keluar menghampiri Byan di halaman depan.


"Abyan, Papi ingin bicara sama kamu," panggil Darwish pada Byan yang tengah mengajari Sakha mengendarai motor mini cross pemberian Darwish.


Byan pun menghampiri Darwish setelah menurunkan Sakha dari motor mini cross itu.


"Apa kau sejak awal memang tidak menginginkan seorang anak?" tanya Darwish sembari melotot tajam ke arah Byan.


Byan terkejut, dia gugup.


"I-itu karena....," ungkap Byan terbata dan belum terselesaikan.


"Apapun alasan kamu, Papi ingin Sakha menjadi cucuku sepenuhnya. Kalau perlu rebut Sakha dari tangan Jasmine dan Atha!" perintah Darwish dengan hati yang menahan amarah.

__ADS_1


__ADS_2