
Menginjak tahun yang kesekian kalinya, bertepatan dengan usia Sakha 17 tahun, dan sekarang sudah berada di sekolah menengah atas di akhir semester terakhir. Tinggal menunggu ujian sekolah dan berencana untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya. Semua keluarga pun sangat bangga tanpa terkecuali, terutama Darwish yang begitu menunggu-nunggu Sakha untuk dia bawa ke Amerika kembali meneruskan kuliah di sana.
Dan sesuai janji Jasmine kepada Byan maupun Darwish, dia akan mengatakan kebenaran tentang status Sakha terhadap keluarga Wiratama khususnya Byan, karena mereka memiliki darah yang sama. Sudah bertahun-tahun lamanya, Byan menunggu waktu itu. Tapi sayangnya, dulu sempat tertunda karena Jasmine dan Atha sepakat menunggu Sakha berusia 17 tahun. Dan terpaksa Byan maupun Darwish harus menunggu kembali.
Dan tepat malam ini, semua keluarga sudah berkumpul di kediaman Atha, mereka berada di meja makan sekaligus untuk merayakan ulang tahun Sakha secara tertutup, hanya ada keluarga Wiratama dan Bamantara.
"Selamat ulang tahun, Sakha. Kelak kamu menjadi pengusaha sukses dan menempati posisi pemimpin setelah Kakek, sayang!" Darwish memberi selamat serta menawarkan jabatan untuk Sakha.
Perkataan Darwish membuat semua orang terdiam, Atha dan Jasmine saling pandang. Sedangkan Byan merasa tidak enak hati terhadap Atha karena secara tidak langsung, Darwish seolah menyinggung Atha dengan suasana yang sebenarnya tidak pas untuk kebersamaan mereka.
"Terima kasih Kakek, itu terlalu berlebihan!" sahut Sakha salah tingkah.
Suasana menjadi hening sejenak.
"Ya udah, sekarang kita makan yuk. Keburu laper nih. Dari tadi kalian ngobrol terus," celetuk Ziva yang tidak sabar ingin menikmati makanan yang terlihat lezat di depannya. Ya memang kebetulan ada masakan kesukaannya.
"Ih, kamu ini. Mana kado untuk Kakak? Katanya kamu ingin memberi kejutan spesial untuk Kakak?" tagih Sakha pada Ziva.
"Oh iya, ada kok. Pokoknya nggak nyesel deh Kakak sama kejutan aku. Karena kado dari aku bukan sembarangan kado, loh. Ini tuh orginal. Limited edition, nggak di jual di pasaran atau Mall pokoknya," ujar Ziva mengoceh panjang.
"Kayak manusia aja!" celetuk Sakha asal.
"Lah, emang bener!" sahut Ziva.
"Apa? Maksud kamu apa Ziva?" tanya Sakha bingung.
"Aku ingin ngenalin Kak Sakha sama mbak nya temen aku. Dia seusia Kakak, kok. Orangnya cantik, rajin ibadah dan insya Allah sholehah, deh. Pokoknya nggak nyesel Kakak kalau kenal mbak nya temen aku," kata Ziva menjelaskan.
"No Ziva. Kamu mau jodohin Kakak, hah? Mama dan Papa aja nggak ribet kayak kamu. Sudah, makan sana. Kamu mulai ganjen ya sekarang," bantah Sakha merasa pusing dibuat adiknya yang konyol itu.
"Tapi Kak...," ucap Ziva menggantung.
"Ziva, sssttt ... jangan diteruskan. Ayo makanlah," Jasmine yang kali ini angkat bicara.
"Iya, iya. Huh, nyesel loh Kak Sakha," gumam Ziva masih mengoceh sambil menatap Sakha dengan suara pelan tentunya.
"Zivaaaa," kali ini Atha yang menenangkan anak perempuannya.
"Hehe, iya Papa. Ziva diam nih," Ziva menutup mulutnya dengan gerakan tangannya seolah mengunci mulutnya untuk diam.
Semua orang pun terkekeh melihat tingkah Ziva, membuat suasana menjadi santai, tidak tegang seperti di awal tadi.
Mereka pun semuanya menyantap makanan lezat di hadapan masing-masing sampai makanan di piring mereka tandas.
Ekhem
Darwish mulai mengkode dengan deheman, melirik ke arah Jasmine, Atha bahkan Byan. Bahwa sesi untuk menyatakan kebenaran tentang status Sakha adalah saat ini waktu yang pas.
__ADS_1
Jasmine, Atha bahkan Byan pun saling lempar pandangan satu sama lain, karena mereka tahu apa arti dari kode Darwish itu. Sedangkan Sakha dan Ziva asik memakan makanan penutup.
Atha mengangguk menatap Jasmine, menandakan bahwa dia akan memulai pembicaraan pada Sakha terlebih dulu.
"Emm ... Sakha, ada sesuatu yang kami ingin bicarakan sama kamu," ucap Atha dengan tenang, suara lembut seperti orangnya.
Sakha terlihat bingung hingga mengernyitkan keningnya.
"Ya silahkan," Sakha menatap para orang tua di depannya satu persatu.
"Baiklah, tolong dengarkan Papa baik-baik dan jangan memotong pembicaraan Papa sebelum selesai, oke!" jelas Atha.
Sakha mengangguk paham.
"Kok serius banget sih muka Papa," celetuk Ziva sambil tersenyum.
"Ziva!!!" peringat Jasmine.
"Upsss, iya Ma!" Ziva langsung membungkam mulutnya sendiri.
Suasana hening sejenak.
"Begini, sebenarnya ... dari dulu Papa maupun Mama telah sepakat akan mengatakan sesuatu sama kamu. Dan hari ini adalah waktu yang tepat, jadi....," kata Atha menjeda dan menggantungkan kalimatnya.
Sakha bertambah tidak mengerti dengan ucapan sang papa.
"Papiiii," serobot Byan pula tak suka dengan sikap Darwish yang memotong perkataan Atha.
Atha kehabisan kata-kata, sebenarnya dia tidak sanggup untuk memberikan kejelasan pada Sakha. Dia takut akan terjadi hal yang buruk. Tapi sebisa mungkin Atha harus optimis dan berharap yang terbaik untuk kedepannya bagi keluarganya terutama Sakha.
"Jadi, selama ini ... kami telah merahasiakan sesuatu yang besar dari kamu Sakha," kata Atha, dia masih bersikap tenang tapi terlalu berasa basi.
"Lalu?" tanya Sakha santai.
Keempat orang tua di sana pada tegang, tapi Sakha tampak terlihat tenang.
"Papa harap kamu tidak kecewa dan membenci siapapun dari kami," sahut Atha berharap.
"Ya, lalu?" ulang Sakha kembali.
"Sebenarnya ... Papa bukanlah Papa kandung kamu," ucap Atha setegar mungkin.
Duarrr
"Apaaaaa???" bukannya Sakha, malah Ziva yang berteriak kaget tidak percaya.
Suasana hening sejenak.
__ADS_1
"Lalu?" ulang Sakha kembali dengan kalimat yang sama. Sakha masih terlihat sangat tenang.
Semua orang yang di sana menjadi bingung.
"Ayah kandung kamu sebenarnya adalah Om Abi, Nak!" kali ini Darwish angkat bicara, dia tidak sabar karena melihat Sakha yang begitu tidak merespon apapun dengan perkataan Atha.
"What the hell???" teriak Ziva kembali.
"Zivaaa!!" ucap Jasmine membuat Ziva tutup mulut.
Semua mata memandang ke arah Sakha. Apalagi Byan, dia ingin sekali melihat bagaimana reaksi Sakha mengetahui bahwa dia adalah anak kandungnya.
Sakha menghela nafasnya pelan, dia menundukkan pandangannya. Berat, memang dirasakan oleh Sakha. Tapi dia bingung mau mengatakan apa dan memulainya dari mana.
"Sakha, are you oke?" tanya Atha khawatir.
Sakha hanya mengangguk. Lalu dia melihat jam di tangannya. Dia seakan ingin melarikan diri dari suasana yang tampak tegang itu. Bukannya kecewa atau benci tapi dia tidak ingin membuat air matanya tumpah, karena sekarang ini Jasmine terlihat begitu sedih.
"Sakha, jawab sayang? Mama minta maaf karena selama ini telah merahasiakan status kamu yang sebenarnya," dan benar, Jasmine tengah menangis sambil menggenggam tangan Sakha.
"Ma, please Sakha nggak mau melihat kesedihan pada Mama. Sakha nggak marah kok sama Mama ataupun Papa. Sakha terima semua yang telah digariskan oleh Allah untuk Sakha," Sakha menenangkan Jasmine sembari mengusap air mata ibunya lalu memeluknya.
Byan menciut, dia bingung dengan situasi ini. Bahkan dia tidak tahu perasaan Sakha terhadapnya, apakah kecewa atau bahkan membencinya.
"Sekarang Sakha anter Mama ke kamar ya?" Sakha hendak bangkit, dia begitu terlihat biasa saja dengan suasana saat ini.
"Sakha, kamu paham kan yang barusan Papa dan Kakek katakan? Kenapa kamu seolah tidak merespon apa-apa? Sikapmu yang seperti ini membuat kami bingung," tanya Jasmine curiga.
Sakha menghela nafasnya berat lalu memejamkan matanya sejenak kemudian menatap wajah ibunya dengan teduh.
"Sakha, apa kamu sudah mengetahui sebelumnya?" tanya Atha yang penasaran. Karena dia tahu sifat Sakha sedari kecil yang memang suka menyembunyikan sesuatu.
"Ya, Sakha tahu semuanya!" seru Sakha dengan tegar.
Deg
"Ka-kapan kamu tahu?" tanya Jasmine gugup.
"Saat kalian berdebat untuk kepindahan Sakha ke Amerika. Saat itu Sakha nggak sengaja mendengar semua yang kalian katakan. Maaf, nggak seharusnya Sakha menyembunyikan hal ini dari kalian semua," ungkap Sakha dengan jelas.
Jasmine mendekati Sakha dan memeluknya.
"Sakha maafkan Mama, sayang. Hiks...hiks...hiks!!" Jasmine menangis.
Sakha sekuat tenaga menahan tangisnya, karena sejatinya dia juga ingin menangis. Apalagi, sekarang hatinya sudah lega dengan kebenaran yang selama ini memang dia tunggu-tunggu dibicarakan dengan keluarganya.
Sakha melempar pandang ke wajah Byan, ada guratan kesedihan dari ayah kandungnya. Entah apa yang akan Sakha lakukan setelah kejadian ini. Bahkan Sakha merasa tidak adil bila harus memanggil sang ayah kandung dengan sebutan 'Om'. Lalu apakah dia akan mengganti panggilan itu menjadi ayah, papa, papi atau Daddy?
__ADS_1