
Penyesalan memang selalu datangnya di akhir, memunculkan kenangan yang mungkin tak kan pernah terlupakan. Kebanyakan orang bisa move, tapi ada juga orang yang sulit untuk move.
Bagi orang yang bisa move, dia akan berusaha mengendalikan dirinya dengan aktivitas positif. Tapi bagi orang yang sulit move, dia akan selalu mengingat dan menyalahkan dirinya sendiri bahkan menyalahkan orang lain sehingga dia tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi, sampai akhirnya dia bisa saja menjadi stres bahkan menyakiti dirinya sendiri.
Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah kisah atau cerita kita sendiri bahkan orang lain. Sebuah penyesalan bukan hanya dari seseorang yang menyakiti kita, tapi dari kesalahan kita sendiri lah yang mungkin melukai seseorang.
Sadari atas apa yang pernah kita lakukan. Introspeksi diri dengan melakukan perubahan yang lebih baik lagi untuk kedepannya.
Seperti Byan saat ini, dia selalu sibuk dengan aktivitasnya di perusahaan, terkadang juga sibuk dengan koleksi pistol dan senapannya, dia sering ke halaman belakang hanya sekedar menembak. Halaman yang lumayan besar di rumahnya. Suara tembakkan yang keras dan bidikan yang mengenai sasaran, membuat hatinya lega dan menghilangkan stres.
Byan melakukan itu semua karena merasa dirinya sudah melakukan kesalahan besar yang dia sadari sehingga ingin melupakan kenangan yang mungkin sudah tidak akan pernah kembali lagi. Itu adalah keputusannya dan sekarang Byan harus melewati hari-harinya tanpa bayangan kenangan masa lalu.
Dorrrr
"Ahhh shitttt," umpat Byan dengan kesal saat bidikannnya tiba-tiba meleset.
Byan melayangkan pukulan tangannya ke udara, dia merasa suasana hatinya buruk.
"Sudah hentikan, kau terlihat sangat lelah!" ucap seseorang pria dari arah belakang Byan.
Tanpa menoleh ke belakang, Byan sudah tahu suara pria yang tiba-tiba datang setelah melihat aksi tembakkannya tak mengenai sasaran.
Byan tak mempedulikan pria itu, dia malah sibuk membidik sasaran lainnya di depan matanya.
Dorrr
"Aghhh shitttt," teriak Byan.
__ADS_1
Lagi-lagi bidikkannya tidak mengenai sasaran, padahal Byan begitu pandai menembak setiap kali dia beradu dengan senapannya, tapi hari ini tembakkan yang dia targetkan malah meleset ke arah lain.
"Huhhh...," Byan membuang nafasnya kasar.
Orang yang dari arah belakang itu pun tertawa kecil melihat Byan yang terlihat kesal.
"Percuma menembak jika kamu sedang tidak fokus. Kamu hanya membuang-buang tenagamu, Abyan!" suara pria itu semakin mendekat ke arah Byan.
Byan memejamkan matanya sejenak lalu berbalik ke arah belakang dimana suara itu berada.
Abyan menatap wajah pria itu dengan tatapan malas.
"Sepertinya kau ada masalah, benar tidak?" tanya pria itu yang sudah berada tepat dihadapan Byan.
"Semenjak kau pulang dari Indonesia, kau tidak pernah menampakkan wajah ceriamu itu padaku. Kau mengacuhkan aku, kau juga jarang mengobrol denganku akhir-akhir ini. Apa kau ingin menjadi anak durhaka?" kata pria itu menjelaskan sekaligus bertanya pada Byan.
Sampai saat ini Darwish Putra Wiratama adalah pimpinan perusahaan besar juga terkenal yang berpusat di Cupertino, California, Amerika yaitu Galaxy Inc. Sebuah perusahaan teknologi yang terkemuka juga terkenal. Memiliki beberapa cabang di berbagai negara, Eropa, Australia bahkan Asia, salah satunya ada di Indonesia.
"Katakan, sebenarnya apa yang terjadi di Indonesia? Apa kau bertengkar dengan saudaramu itu?" Darwish tak berhenti bertanya.
Abyan mendengus kesal.
"Tidak ada yang terjadi. Semuanya aman terkendali," sahut Byan malas.
"Syukurlah, tapi kenapa kau...," ucap Darwish yang belum terselesaikan.
"Lusa aku pergi ke Paris!" seru Byan memotong perkataan Darwish.
__ADS_1
"What? Kau baru pulang dari Indonesia, lalu kau ingin pergi lagi ke Paris? Kau tidak pernah berubah. Ini yang membedakan kamu dengan saudaramu itu. Kau ketinggalan jauh dari saudaramu itu. Beruntung kita mempunyai perusahaan turun temurun, tapi kau tidak bisa seenaknya saja berpindah-pindah tempat perusahaan semau kamu, Abyan! Papi nggak akan izinkan kamu pergi," Darwish marah dan melotot tajam ke arah Byan.
"Terserah, Byan sudah besar. Tidak perlu lagi mendapatkan izin pada Papi," bantah Byan sekenanya.
Byan dengan santai mengambil handuk yang telah disiapkan oleh pelayannya untuk membasuh keringatnya. Dia tidak mempedulikan Darwish sama sekali.
Abyan tidak pernah standby di satu perusahaan peninggalan keluarga Putra Wiratama. Abyan dengan sesuka hatinya selalu bolak balik ke negara satu ke negara lainnya hanya untuk melihat pergerakan perusahaan cabangnya. Anak itu tidak pernah bisa diam di satu negara apalagi di perusahan pusat tempat Darwish memimpin, alasannya karena dia tidak betah tinggal bersama Darwish.
Abyan seenaknya saja jika sudah berada di perusahaan cabangnya. Maka dia akan bergaya seolah dia CEO di sana. Lain halnya jika di Indonesia, maka Byan akan memperhatikan, belajar bahkan tunduk layaknya seekor kucing yang tenang jika diberi makan. Abyan cukup patuh pada saudaranya yang menjadi CEO di perusahaan cabang Indonesia.
"Kau sama sekali tidak pernah membanggakan aku, Abyan!" tekan Darwish.
"Ya, karena aku bukan tipe orang yang serakah karena harta!" bantah Byan menekan sekaligus menyinggung.
Darwish semakin kesal hingga mengepalkan kedua tangannya menahan amarah pada Abyan.
"Kau tidak akan pernah sukses seperti dia. Kau akan kalah darinyaaa!" teriak Darwish kali ini.
Abyan hanya memandang nanar perkataan Darwis. Byan bahkan melangkah pergi meninggalkan Darwish.
"Kau anak bodoh yang tidak bisa apa-apa. Jika kau tidak bisa merebut posisinya, maka Papi yang akan merebutnya. Kita lihat saja nanti, anak bodohhhh!" lagi-lagi Darwish berteriak berharap Abyan menghentikan langkahnya dan mau mendengarkan nasihatnya.
Tapi nyatanya Byan sama sekali tidak mempedulikan perkataan Darwish walaupun papinya itu menyingung dirinya berkali-kali. Namun Byan tetap dengan pendiriannya. Sungguh Byan keras kepala.
"Arghhhh, kapan aku bahagia! Aku sudah muak! Hidupku bahkan sudah hancur," Byan menjerit histeris setelah berada di kamarnya. Byan tampak sedih.
Sejenak Byan mengingat Jasmine, dia menyadari bahwa Jasmine lah wanita yang ternyata telah membuat hidupnya bahagia.
__ADS_1
"Kau ... apakah bahagia tanpaku?" gumam Byan dengan tatapan kosong seolah bertanya pada Jasmine.