
Kini Atha menemui Felix di ruang tamu dengan senyum seadanya yang dia tampilkan, padahal dirinya sekarang ini suasana hatinya sedikit buruk. Entahlah, sejak kejadian kemarin malam di restoran hotel yang mengetahui istrinya ada hubungan keluarga dengan sahabatnya, Felix. Itu membuat hati Atha menjadi bimbang dan gundah.
Felix bangkit dari sofa dan langsung memeluk Atha sekilas.
"Hei, kita ketemu lagi Brother. Apa Abi sudah menemuimu di kantormu?" tanya Atha berbasa-basi agar tidak merasa canggung.
"Oh, ya Abi sudah menemuiku tadi pagi di kantor. Anak itu selalu santai dengan pekerjaannya," ucap Felix dengan sedikit candaan.
"Ya, seperti itulah Abi. Dia memang anak yang manja dan masih ingin bersenang-senang," sahut Atha.
Mereka terkekeh kecil lalu bersamaan duduk di sofa berseberangan.
Hening sejenak.
Felix tampak menatap sekeliling, dia seperti mencari-cari sesuatu. Ingin bertanya pada Atha, tapi dia merasa sungkan. Padahal Atha tahu apa yang sedang dicari oleh sahabatnya itu.
"Jasmine sedang menidurkan Ziva. Nanti sebentar lagi dia turun," ujar Atha beralasan sekaligus membuat Felix merasa lega.
Sebenarnya Atha sengaja menyuruh Jasmine ke kamar, karena sebelum dia mengetahui secara pasti tentang asal usul Jasmine yang jelas dari Felix, maka dia belum bisa percaya sepenuhnya.
Apalagi yang diketahui oleh Atha, bahwa Felix adalah anak tunggal yang mempunyai ibu tiri. Jadi kemungkinan Jasmine itu saudara tirinya. Apalagi Felix selalu merahasiakan keberadaan adiknya itu dari Atha maupun Byan. Disini Atha merasa aneh dengan Felix. Tapi Atha menepis pikiran buruknya itu.
"Baiklah, sembari menunggu ... aku akan berterus terang padamu mengenai Jasmine dan aku. Sebelumnya aku minta maaf karena telah merahasiakan Jasmine dari kalian. Bukan apa-apa, karena aku terlalu protektif padanya, apalagi sejak itu dia masih sekolah," ucap Felix dengan memperjelas kalimatnya dengan hati-hati.
Atha tersenyum kecil.
"Protektif? Apa karena kau takut jika para sahabatmu tertarik pada Jasmine?" tanya Atha seolah menyinggungnya, tapi sebenarnya itulah yang dirasakan oleh Felix.
Felix menatap Atha dengan tawa tertahan kemudian dilepaskannya juga.
"Emm, bukan begitu sih tapi Jasmine itu wanita yang masih polos sejak itu. Tau lah sendiri, aku begitu senang mendapat adik perempuan walau dia hanya saudara tiri," sangkal Felix menjawab dengan setenang mungkin.
Tapi entah kenapa Atha malah mengartikannya dengan berbeda.
__ADS_1
"Ya, aku harap kau tidak menganggap Jasmine lebih dari sekedar adikmu!" seru Atha membuat Felix tercekat.
"Hehehe, aman kok. Tenang saja!" Felix terkekeh untuk melepas kegugupannya.
Setengah jam mereka berdua mengobrol seputar kejelasan hubungan antara Jasmine dan keluarga Felix. Dengan begitu Atha pun mengetahuinya walaupun masih ragu sebelum Jasmine memberitahukannya langsung. Tapi setidaknya Atha mengetahuinya dari Felix terlebih dahulu. Sedangkan Jasmine dia akan memberikan kesempatan untuk menjelaskan dengan sejujurnya, apalagi mengenai Sakha yang belum diketahui anak dari siapa.
"Baiklah, aku akan memanggil Jasmine dulu," Atha bangkit berdiri.
Felix hanya mengangguk dan menghela napasnya cukup berat. Saat ini dia merasa gugup untuk menemui Jasmine, adik yang selama ini dia cari.
Atha lalu melangkah pergi ke kamarnya untuk memanggil Jasmine.
Tak lama kemudian, terlihat Atha turun dari tangga dengan posisi tangannya menggenggam tangan Jasmine dengan erat. Felix merasa tidak suka dengan kemesraan yang ditampilkan pasutri itu.
Atha dan Jasmine telah berada di depan Felix.
"Aku beri kalian berdua untuk mengobrol. Jadi manfaatkan waktu dengan baik sebelum Ziva terbangun," ujar Atha sedikit tersenyum lalu berbalik berjalan menuju kamarnya.
Setelah Atha berlalu, bergegas Felix membuka pembicaraan terlebih dahulu pada Jasmine.
Jasmine yang duduk di seberang sofa itu hanya diam dan menunduk saja, tidak berani menatap Felix.
"Kalau kau menjauhi Kakak gara-gara masa lalu buruk itu, Kakak minta maaf. Sejak saat itu Kakak bahkan selalu menghindar diri darimu, bukan?" sesal Felix dengan tulus, matanya tak henti menatap wajah cantik Jasmine, apalagi setelah memakai jilbab begitu sangat meneduhkan matanya.
Tanpa sadar, Felix bangkit hendak menyentuh kepala Jasmine seperti waktu dia melakukannya saat Jasmine masih sekolah ketika mereka akrab dulu. Tapi tiba-tiba Jasmine menepis tangan Felix dengan kasar tanpa sengaja.
"Ma-maaf Kak, aku sekarang sudah menikah. Kita juga sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi setelah mama dan papa meninggal. Sekarang Kakak tidak punya tanggung jawab lagi padaku," jelas Jasmine dengan suara yang bergetar. Dia tahu bahwa perkataannya begitu menyinggung Felix. Tapi setidaknya Felix sadar akan status mereka sekarang, pikir Jasmine.
"Tidak ada yang berbeda Jasmine. Kau tetap adikku, adik kesayanganku. Papaku dan mama kamu mempunyai hubungan kuat. Jadi sampai kapanpun kau tetap adikku. Kau harus tahu itu, apalagi kau sudah banyak belajar pada Atha yang paham agama," protes Felix tak terima dengan ucapan Jasmine yang seolah sudah menganggapnya tak penting lagi.
Memang benar apa yang disampaikan oleh Felix. Jasmine pun tahu itu. Bahwa dirinya sudah menjadi bagian keluarga Anderson, sejak mamanya menikah dengan papanya Felix. Hanya saja Jasmine sebisa mungkin menghindarkan dirinya dari Felix.
"Apa aku ini monster bagimu sehingga kau begitu takut saat berhadapan denganku? Apa perlu Kakak bersujud di kakimu memohon maaf?" Felix hendak berlutut di hadapan Jasmine.
__ADS_1
Sontak Jasmine kaget dan mencegah apa yang akan dilakukan oleh Felix.
"Ja-jangan Kak! Aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Aku hanya ingin bebas dan lepas darimu, hanya itu alasanku kabur dari rumah," ujar Jasmine sedikit gugup.
Felix tersenyum miring, dia tahu kalau Jasmine tidak berkata jujur, tapi setidaknya, Jasmine sudah menampakkan wajahnya dan tidak menunduk lagi saat berbicara padanya.
Tak lama, Sakha pun turun dari tangga menghampiri Jasmine.
"Mamaaa," Sakha memeluk Jasmine dengan erat.
"Belum tidur, sayang?" tanya Jasmine heran.
"Temani aku tidur, Ma. Ayo Ma!" rengek Sakha.
Jasmine menatap Felix seolah mengkode bahwa saat ini dirinya ingin membawa Sakha ke kamar.
"Ini sudah malam. Silahkan temani Sakha tidur. Kakak juga langsung pulang. Salam buat Atha, ya!" ujar Felix, dia mengerti apa yang tersirah dari raut wajah Jasmine.
Felix bangkit dan mengelus pucuk kepala Sakha.
"Om Felix pulang dulu ya, Sakha!"
"Sampai jumpa Om Felix!" seru Sakha mencium tangan Felix.
"Hati-hati, Kak!" ujar Jasmine mulai merasa hatinya tenang saat ada Sakha di dekatnya.
"Ya," Felix mengangguk sambil menatap wajah Jasmine penuh kerinduan.
Felix pun berjalan pergi meninggalkan rumah itu dengan hati yang penuh kecewa dan miris tapi dia mencoba ikhlas.
"Ayo sayang kita tidur," ajak Jasmine pada Sakha yang kembali memeluk mamanya.
"Sakha kangen sama om Abi. Bisa hubungi om Abi untuk Sakha, Ma?" pinta Sakha dengn manja.
__ADS_1
Deg
Jasmine sangat kaget dengan permintaan anak sulungnya itu. Malam-malam seperti ini, apakah dirinya akan mengabulkan permintaan Sakha untuk menghubungi Byan? Sedangkan hubungan dirinya dan Byan tidaklah baik.