Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Di Tempat Ini, Bersama Kita


__ADS_3

Atha belum beranjak pergi dari depan toilet wanita itu. Dia masih sangat yakin bahwa Jasmine dan Ziva masih ada di dalam sana. Dan Atha pun tidak malu-malu dengan bertanya kembali pada orang-orang yang ke luar dari toilet wanita tersebut.


Tapi kali ini Atha memperlihatkan ponselnya dengan gambar foto Jasmine dan Ziva di layar ponsel tersebut.


"Maaf Mbak, apa kamu melihat dua orang ini di dalam toilet?" tanya Atha pada wanita berambut panjang.


"Saya nggak lihat!" jawab wanita itu.


Atha mendengus kesal.


"Kemana kamu, Jasmine? Apa kamu pulang? Kenapa nggak angkat telepon dariku?" ucap Atha dengan dirinya sendiri.


Kini ada lagi yang ke luar dari toilet, seorang wanita berhijab sedang menggendong anak, persis seperti Jasmine dan Ziva.


"Jasmine kamu...," sapa Atha yang menggantung. Dia kira itu adalah istri dan anaknya.


"Maaf, salah orang. Oh ya, Mbak. Apa kamu melihat dua orang di foto ini ada di dalam toilet? Mereka istri dan anak saya," Atha memperlihatkan layar ponselnya yang bergambar Jasmine dan Ziva.


Wanita berhijab itu pun melihatnya, cukup lama dia pandangi dan ingat-ingat.


"Oh, wanita ini ada di dalam kok. Tadi saya melihatnya dengan seorang anak perempuan, sepertinya anak anda sedang menangis," jawab wanita berhijab itu dengan yakin.


"Benarkah? Terima kasih ya, Mbak!" ujar Atha dengan lega.


"Ya, sama-sama!" sahut wanita berhijab itu, kemudian berlalu.


Atha bisa bernafas lega sekarang. Mungkin dia pikir Jasmine lama di toilet karena sedang menenangkan Ziva di sana.


"Jasmine, Jasmine!!!" teriak Atha kembali dari luar pintu toilet itu.


Sedangkan Jasmine yang sedari tadi mendengar itu di dalam hanya bisa memantapkan hati dan pikirannya untuk bisa menghadapi masalah yang akan terjadi nantinya.


Karena teriakan Atha membuat semua orang di dalam menjadi terganggu, dengan terpaksa Jasmine ke luar dengan hati yang masih was-was.


"Aku harus bisa tenang dan berani menghadapi semuanya. Sudah saatnya mereka mengetahui siapa aku sebenarnya," gumam Jasmine sambil melangkah menghampiri Atha yang sudah menunggunya di luar toilet.


Jasmine menarik nafasnya dan membuangnya perlahan.


"Jasmine, Ziva kalian baik-baik saja kan?" Atha langsung menyetuh wajah Jasmine dan Ziva bergantian. Memastikan bahwa mereka dalam keadaan baik.


"Papa, hiks...hiks!" Ziva menangis meminta digendong oleh Atha.


Atha langsung mengambil alih Ziva dari gendongan Jasmine.

__ADS_1


"Kamu lapar sayang, kita makan ya. Nanti kita makan ek krim ya. Jangan nangis lagi ya sayang," ucap Atha menenangkan Ziva.


Ziva pun akhirnya berhenti menangis. Atha menatap Jasmine yang hanya diam di hadapannya.


"Jasmine, ada apa denganmu?" tanya Atha heran.


"Emm, tidak ada. Aku minta maaf karena sudah membuat acara makan malam kalian jadi tertunda," ucap Jasmine sedikit terbata.


"Nggak masalah, yang penting kamu dan Ziva baik-baik saja. Ayo kita gabung sama mereka. Tidak enak jika mereka lama menunggu," Atha meraih tangan Jasmine dan berkata dengan sangat lembut sembari tersenyum manis sekali, membuat Jasmine luluh.


Di saat Jasmine membuat kesalahan, Atha selalu saja berkata bijak, baik dan lembut pada Jasmine. Inilah sikap yang sangat disukai oleh Jasmine. Dia sangat beruntung memiliki suami sebaik Atha.


Tapi di satu sisi, sikap baik Atha ini membuat Jasmine seperti dituntut dengan bersikap lembut dihadapan suaminya. Karena Jasmine bertekad, saat dirinya telah mendapatkan Atha maka dia harus menuruti apa yang dipinta olehnya sebagai istri yang baik, dan sholehah seperti impian Atha, bukan berarti Jasmine terpaksa melakukannya, tetapi Jasmine berusaha untuk menjadi wanita sekaligus istri yang lebih baik dari sebelumnya saat dia bersama Byan dulu.


"Baiklah," Jasmine mengikuti kemana kakinya melangkah bersama Atha yang menggenggam tangannya berjalan beriringan.


Jasmine pasrah saja, entah apa yang akan terjadi nanti, dia akan hadapi dan menanggung resikonya. Jantungnya pun berdebar cukup kencang karena diliputi rasa ketakutannya.


Mereka pun sampai di meja tempat mereka akan makan malam dengan hidangan yang sudah tersedia dan telah dipesankan khusus dengan menu terbaik di sana.


"Maaf kalian sudah menunggu lama," ujar Atha pada Byan dan Felix.


"Nggak masalah, ayo duduklah!" Felix menanggapi dengan santai.


"Oh ya, Felix kenalkan ini istriku, Jasmine!" Atha memperkenalkan Jasmine pada Felix.


"Jasmine, apakah orang yang sama?" batin Felix seiring dengan kagetnya.


Felix ingin sekali melihat wajah Jasmine yang dimaksud oleh Atha, tapi sialnya wanita itu berada di belakang tubuh Atha sehingga wajahnya tak terlihat sama sekali.


Tak lama kemudian, Atha menarik tangan Jasmine perlahan untuk mensejajarkan tubuh mereka agar wajah Jasmine terlihat.


Kemudian tampaklah wajah Jasmine yang hanya menunduk saja kala dirinya sudah berada di depan mata Felix.


"Sial, kenapa dia menunduk!" batin Felix dengan kesal, dia belum bisa melihat wajah Jasmine sepenuhnya karena wanita itu hanya menunduk saja.


Karena Felix sangat penasaran dengan wajah di hadapannya itu. Dia tidak bisa tinggal diam. Dia harus memastikannya dengan cepat.


"Apa istrimu sakit? Kenapa dia hanya menunduk saja?" tanya Felix pada Atha.


Deg


Jantung Jasmine bertambah kencang mendengar suara yang selama ini tidak dia dengar, kini kembali terdengar dengan ciri khasnya, datar tapi tegas dan penuh penekanan.

__ADS_1


Jasmine sungguh takut mendengar suara itu. Jadi mau tidak mau dia harus segera mendongak sebelum orang yang mempunyai suara itu lebih menekankan lagi dengan suara yang sangat menakutkan baginya.


Perlahan tapi pasti, Jasmine pun mendongak ke arah Felix dengan wajahnyah yang terlihat sendu. Hanya butuh 3 detik Jasmine bisa menatap wajah yang selama ini dia hindari selama hidupnya.


Deg


"Dia benar Jasmine yang selama ini aku cari," batin Felix mematung, masih menatap lekat wajah Jasmine yang dia rindukan selama ini.


Lalu Jasmine beralih menatap wajah Atha yang tersenyum. Dengan senyuman Atha lah bisa membuat jantung Jasmine berdetak dengan normal kembali.


Jasmine terlihat cukup tenang dengan sedikit mengulas senyuman yang dia perlihatkan pada Atha, kemudian mereka pun duduk di kursi yang telah disediakan.


"Mama lama sekali, Sakha sudah lapar!" ucap Sakha sudah memegang sendok dan garpu di kedua tangannya.


"Maafin Mama ya, sayang!" Jasmine mengusap kepala Sakha pelan.


Felix pun akhirnya mengedarkan pandangannya ke arah hidangan di depannya, menetralkan suasana hatinya.


"Ayo sekarang kita makan," ajak Felix untuk menyantap hidangan yang telah disajikan.


Mereka semua akhirnya bisa menyantap makanannya sekarang. Jasmine sesekali melirik Felix yang juga meliriknya. Felix pun menaikan sudut bibirnya.


"Oh ya, bagaimana kalian bisa bertemu, hingga bisa menikah dan mempunyai dua anak yang menggemaskan?" tanya Felix menatap Atha disela dia menusukkan potongan daging dengan garpunya.


"Emm, ceritanya panjang. Pertemuan kami berawal di bandara. Seiring waktu, akhirnya aku memantapkan hati untuk menikahinya," ungkap Atha singkat, padahal ucapannya itu bukan cerita yang sebenarnya. Atha hanya ingin menutupi kebenaran yang menurutnya tidak masuk akal itu, apalagi sudah menjadi kesepakatan mereka berdua di awal pernikahan.


"Wow ... aku salut, pernikahan tanpa pacaran, luar biasa!" ujar Felix mengulas senyum tapi dengan perlahan dia mengepalkan tangannya kuat menahan amarah yang dia tahan sembari melirik Atha dan Jasmine bergantian. Seakan Felix tidak terima dengan hubungan Atha dan Jasmine.


Jasmine tahu jika saat ini Felix sedang dalam suasana yang tidak bersahabat, itu terlihat dari tatapan wajahnya, walau tersenyum tapi dia tahu bahwa senyum itu palsu.


"Oh ya, bagaimana dengan pencarian adikmu, apa sudah ketemu?" tanya Atha pada Felix.


Seketika mata Jasmine beralih pada Atha dengan tangan bergetar.


Sedangkan Felix yang mendengar pertanyaan Atha menjadi semangat untuk menjawabnya, dia yakin Jasmine sangat ketakutan bila rahasianya terbongkar.


"Ya, dia sudah ditemukan. Sia-sia selama ini aku mencarinya sampai keluar Negeri, nyatanya dia ada di Jakarta ini," Felix terkekeh dengan sendirinya. Dia meyakini bahwa dirinya seperti orang bodoh terhadap pencarian Jasmine yang dia anggap seolah dikelabui oleh Jasmine.


"Serius loe? Gue jadi penasaran sama adik loe. Emang kapan dia ditemukan? Dan dia sekarang ada dimana?" Kali ini Byan yang bertanya karena rasa penasarannya.


Felix menatap Jasmine sekilas, ada rasa kecemasan pada wajah wanita itu. Tapi Felix hanya menyeringai sendu.


"Sekarang ... di tempat ini ... bersama kita!" ucap Felix menjeda kalimat dengan santai, sembari memotong daging lalu menyantapnya dengan gaya setenang mungkin.

__ADS_1


Deg


Wajah Jasmine memucat. Atha dan Byan masih mencerna apa yang dikatakan oleh Felix. Kemudian mata mereka saling pandang, lalu mengarah perlahan ke arah Jasmine bersamaan.


__ADS_2