Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Menciptakan Moment Indah


__ADS_3

Pikiran Jasmine sedang tidak karuan, dia sangat cemas dan khawatir serta ada rasa penasaran tentang sosok Byan. Selama menikah dengan lelaki itu, Jasmine belum mengetahui apa pekerjaan Byan dan juga dimana lelaki itu bekerja. Semuanya tertutup rapat seolah Byan sengaja tidak memberitahukan pada Jasmine. Sebenarnya, rahasia apa yang ada pada Byan?


Jasmine sebenarnya takut dengan sosok Byan tapi setelah mengetahui perlakuannya yang lembut, Jasmine mulai nyaman dan merasa aman didekat Byan. Jasmine sempat berpikir, mungkin saja yang dikatakan Byan itu benar bahwa dia seorang pembunuh bayaran. Tapi sebisa mungkin, Jasmine masih baik-baik saja selama bersama Byan.


"Gue nggak melarang loe pergi, kok. Cuma gue mikir aja mau tinggal dimana gue setelah ini? Gue nggak punya arah tujuan," ungkap Jasmine lirih berbohong, padahal hatinya ingin sekali melarang Byan pergi darinya. Jasmine ingin lebih lama lagi tinggal bersama Byan.


"Kalau masalah tempat tinggal, loe nggak usah pikirin. Nanti gue bakal kasih loe uang dan loe tinggal pilih rumah mana yang mau loe tempati. Setelah kita berpisah, gue bakal tanggung jawab ke loe, kok!" kata Byan menatap Jasmine dengan iba.


"Itu salah satu sebagai ucapan terima kasih gue karena loe udah melayani gue dengan menjadi istri yang baik selama loe tinggal disini," kata Byan menambahkan.


"Apalagi gue beruntung dapetin loe yang masih bersegel. Gue happy banget!" ujar Byan yang kali ini dengan terkekeh. 


Jasmine mengerucutkan bibirnya seakan dia tidak suka mendengar perkataan Byan apalagi lelaki itu tertawa. Jelas ada kesedihan dari wajah Jasmine.


"Loe senang ya kita berpisah?" tanya Jasmine dengan lirih.


Byan mengubah wajahnya menjadi serius, menatap wajah Jasmine cukup lama. Byan menghela nafasnya perlahan.


"Bukankah dari awal memang ini yang kita inginkan? Loe ngejebak gue untuk menikahi loe karena loe membutuhkan tempat tinggal, bukan? Sedangkan gue menerima loe jadi istri gue karena gue membutuhkan tubuh loe. Gue harap itu sudah jelas!" ungkap Byan mengingatkan. Byan menanggapi dengan bersikap santai dan tenang tapi sebenarnya hatinya galau.


Jasmine lagi-lagi terdiam, di pikirannya membayangkan kejadian awal pertama kali bertemu dengan Byan hingga dia menjebak lelaki itu pada pernikahan siri. Tapi itu juga bukti pembalasan yang harus diterima oleh Byan kerena Byan lah yang pertama kali memanfaatkan Jasmine terlebih dahulu.


"Loe mengerti kan Jasmine?" tanya Byan tetapi Jasmine masih sibuk dengan pikirannya yang lain.


"Loe mengerti kan, Jasmine?" tanya Byan mengulang kembali ucapannya hingga membuat Jasmine kaget.


Jasmine menatap Byan yang sudah memegang kedua wajahnya.


"I-iya, gu-gue ngerti kok!" jawab Jasmine terbata.

__ADS_1


"Bagus!" Byan tersenyum.


Byan mengelus-elus puncak kepala Jasmine lalu mengecup keningnya.


"Ya sudah, sekarang tidurlah. Gue tinggal sebentar ya, ada kerjaan penting yang harus gue selesaikan," ujar Byan lembut sambil menatap Jasmine sendu.


Byan pun berbalik dan hendak melangkah keluar kamar.


"Waktu kita berdua sangat singkat, kenapa loe masih sibuk kerja?" ujar Jasmine seolah dia tidak ingin Byan pergi darinya.


Byan berhenti sejenak lalu berbalik ke arah Jasmine kembali.


"Masih ada hari esok dan esoknya lagi. Gue janji akan memberikan moment bahagia sebelum kita berpisah, jadi jangan khawatir!" Byan tersenyum meyakinkan Jasmine yang berwajah tanpa ekspresi.


Byan pun kembali berbalik dan kali ini dia benar-benar pergi dari kamar meninggalkan Jasmine.


Keesokan harinya, janji yang telah diucapkan oleh Byan akhirnya ditepati olehnya kepada Jasmine. Byan juga tidak akan bisa melewati hari-harinya tanpa Jasmine. Wanita itu seolah telah membuat keceriaan baru dalam dirinya.


Di kamarnya, Jasmine sedang memandang langit malam dari jendela, dia menatap bulan dan bintang yang bersinar terang. Dia tersenyum dan sesekali menghela nafasnya dengan berat.


"Pada dasarnya bintang tidak pernah meninggalkan langit malam, walaupun langit malam jatuh cinta pada bulan," gumam Jasmine sembari mengingat sebuah kutipan yang pernah dia baca.


"Disini seolah aku yang menjadi bintang. Aku sudah merasa nyaman di apartemen ini, jujur aku tidak ingin meninggalkan tempat ini dan juga Byan," gumam Jasmine lagi dengan lirih.


"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku memikirkan Byan si lelaki licik itu. Aku tidak mungkin mencintainya, kan? Ah, pokoknya aku tidak boleh mencintainya!" Jasmine dengan cepat menepis perasaannya yang dirasa masih meragukan hatinya.


Lagi-lagi Jasmine terbawa suasana hening dan sendu menatap bulan dan bintang di langit malam. Namun Jasmine tak menyadari ada tangan kokoh yang merangkul pinggangnya, dia lah Byan.


"Jasmine, loe disini," ucap Byan yang mendekatkan wajahnya pada Jasmine.

__ADS_1


Jasmine kaget dan langsung tersadar dari lamunannya.


"Loe sedang lihat bulan dan bintang, ya?" tanya Byan.


Jasmine hanya mengangguk dengan salah tingkah.


"Loe nungguin gue, ya? Biasanya nih, bulan adalah teman yang baik bagi orang yang sendirian untuk diajak bicara. Loe kesepian karena nggak ada gue, kan?" tanya Byan dengan percaya dirinya yang tinggi dan sok tahu.


"Ya nggak lah, gue udah terbiasa sendiri, jadi gue nggak merasa kesepian!" Jasmine menyangkal.


Byan hanya tersenyum dan membuat pelukan erat pada Jasmine. Sedangkan wanita yang dipeluknya itu hanya bisa menahan dirinya untuk tidak membalas pelukan Byan.


"Oh ya, apa loe nggak kangen sama gue? Denger ya, loe harus ingat bahwa kita ada di langit yang sama dan memandangi bulan yang sama. Itu artinya jika kita terpisah maka bulan yang kita pandangi tetap sama," ujar Byan sambil memandang bulan di atas.


"Jadi selama seseorang itu belum kembali, maka anggaplah bulan sebagai penggantinya," ujar Byan lirih seolah mengingatkan kalimat ucapannya pada Jasmine.


Jasmine terdiam, matanya berkaca-kaca, dia tahu apa yang dikatakan oleh Byan. Jasmine seakan tidak ingin kehilangan orang yang sudah sangat nyaman bersamanya.


Byan hanya memeluk mesra wanita yang sedang resah itu. Tapi Byan pun juga seolah tidak ingin melepaskan Jasmine dari dekapannya.


"Ayo, sekarang kita ciptakan malam yang indah. Gue janji mulai malam ini dan malam besok gue akan stay di sini 24 jam. Karena gue harus membuat moment indah seumur hidup kita sebelum berpisah," bisik Byan dengan suara lembut dan seksinya menggoda Jasmine.


Byan mulai beralih membawa tubuh Jasmine ke ranjang dengan saling menatap penuh kerinduan. Mereka larut dalam suasana yang bercampur kebahagiaan juga kesedihan. Tapi permainan mereka begitu romantis dan tak akan mereka lewatkan satu celah tanpa bercinta.


Hari berikutnya pun sama halnya dengan permainan mereka yang tak ada duanya, tak kalah dengan permainan yang sudah mereka rasakan sebelumnya, mereka tak kuasa menahan hasrat yang menggebu sehingga mereka lupa tentang satu kesepakatan yang pernah mereka ucapkan. Entah apa yang akan terjadi kedepannya pada mereka.


Keesokan harinya pukul 06.30 pagi, Jasmine terbangun dari tidurnya, namun dia terkejut tidak mendapati Byan di sampingnya.


"Byan, lelaki itu ... dimana dia? Nggak mungkin dia sudah pergi tanpa berpamitan ke gue, kan?" Jasmine bangkit duduk dan begitu panik.

__ADS_1


__ADS_2