
Akad nikah telah terlaksana dengan lancar walau hati Byan terpaksa melakukan ijab qobul, begitu pun dengan Jasmine yang merasa bersalah atas kelakuannya yang sudah memfitnah Byan hingga terjadilah pernikahan siri di antara mereka berdua.
Byan berjalan di depan dengan wajah kesal yang diikuti oleh Jasmine di belakangnya. Mereka tak bertegur sapa hingga sampai di apartemen. Byan masuk terlebih dahulu ke dalam apartemennya lalu berjalan menuju kamarnya diiringi suara pintu yang ditutupnya dengan kasar membuat Jasmine terkejut dan takut hingga Jasmine bergegas pergi ke kamarnya dan tak lupa dia mengunci pintunya.
Byan masuk ke dalam kamar mandi lalu membuka pakaiannya kemudian membuka keran air, setelah itu dia memukul-mukul dinding di bawah guyuran air dengan sangat kesal dan berteriak lantang.
Bug bug bug
"Arghhhh, loe bodoh Byan ... loe bodoh! Kenapa lo mau menikahi wanita itu? Kenapa ... kenapa Byan? Menikah tidak ada dalam kamus hidup loe, tapi kenapa loe lakukan?" teriak Byan yang masih memukul-mukul dinding di bawah guyuran air.
Bug bug bug
"Arghhhh ... Jasmine, gue pastikan loe bakal menyesal menikah dengan gue," gumam Byan mengepalkan tangannya dipenuhi amarah dan dendam.
Sementara, Jasmine yang sedang memakai pakaian setelah menyelesaikan ritual mandinya, dia bergegas naik ke ranjang lalu berbaring dan menyelimuti dirinya hingga sampai kepalanya.
Jasmine takut dan merasa tidak tenang setelah apa yang dia lakukan pada Byan. Dia takut jika Byan melakukan sesuatu yang tidak Jasmine inginkan. Jasmine sudah siap mendapatkan resiko buruk yang akan dia terima atas ulahnya sendiri.
Tapi ketakutan Jasmine berbeda dengan ketakutannya pada kakak tirinya. Menurutnya kakak tirinya lebih menakutkan dibanding Byan. Jasmine belum seutuhnya tahu tentang kehidupan Byan, mungkin justru Byan lah yang paling menakutkan.
Jasmine mencoba memejamkan matanya, tapi tetap dia tidak bisa tidur. Pikirannya tidak tenang dan selalu saja mengawasi pintu kamarnya, was-was jika Byan mendobrak pintu yang telah dia kunci itu.
Tok tok tok
"Jasmine buka pintunya!"
Dan benar, bahwa Byan sedang berada di luar sembari mengetuk-ngetuk pintu.
Jasmine panik, dia pun serba salah. Dia tau bahwa Byan pasti meminta haknya di malam pertama. Jasmine ketakutan dan akhirnya dia terpaksa pura-pura tidur terlebih dulu.
"Jasmine, Jasmine buka pintunya!" pinta Byan yang kesekian kalinya.
__ADS_1
Byan pun mengambil kunci duplikat dari laci nakas di ruang tamu, kemudian dia pun membuka pintu kamar Jasmine dengan mudah dan menutupnya kembali. Seringai tajam terbit di wajahnya saat melihat tubuh Jasmine yang tertutup selimut hingga tak ada celah sedikit pun.
"Berani sekali loe tidur di malam pertama kita, gue akan buat loe terjaga sampai pagi," gumam Byan pelan dengan senyuman miring.
Byan mendekati sisi ranjang, kemudian dia membuka selimut yang menutupi Jasmine, lalu dibuangkannya selimut itu ke sembarang tempat. Dilihatnya Jasmine sedang meringkuk di ranjang dengan mata terpejam, tapi Byan tahu jika Jasmine hanya berakting seakan dia tidur.
Byan mulai menjahili Jasmine dengan sentuhan-sentuhan lembut di area wajahnya, sengaja untuk membuat Jasmine mengakhiri aktingnya.
Dan kali ini Byan menyentuh bibir Jasmine perlahan dan hendak menciumnya. Tapi sebelum Byan menciumnya, Jasmine membuka matanya. Pandangan mata mereka saling beradu, menatap satu sama lain.
"A-apa yang loe lakuin di sini?" Jasmin gugup hingga mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
"Apalagi selain meminta hak gue sebagai suami, SAYANG!" ucap Byan menekan kata 'sayang' sembari memberi sentuhan pada wajah Jasmine dengan lembut.
Mata Byan menelusuri tubuh Jasmine dengan liar. Sontak Jasmine langsung menutup bagian dadanya ketakutan dengan tangannya.
"Jangan malam ini, ya. Gue sangat lelah, Byan!" pinta Jasmine dengan hati-hati.
"Please, Byan ... gue lelah sekali," Jasmine sangat pandai memainkan perannya seolah dia benar-benar lelah.
Tapi Byan juga tidak kalah pandainya dari Jasmine. Byan itu lelaki licik yang sangat tahu gerak gerik seseorang dari wajah dan matanya. Byan tahu jika Jasmine hanya berpura-pura lelah, maka Byan hanya tertawa dalam hati dan tidak peduli dengan perkataan Jasmine.
Byan meraih tangan Jasmine yang menghalangi dada wanita di depannya itu.
"Please, jangan Byan!"
Byan masih tak peduli pada permintaan Jasmine. Hingga Byan melepaskan kancing baju pertama Jasmine dengan mudah.
"Byan, gue nggak bisa melakukannya malam ini," ujar Jasmine menahan tangan Byan yang hendak membuka kancing baju keduanya.
"Diam atau gue tutup mulut loe pakai lakban!" ancam Byan tegas.
__ADS_1
"Tolong maafin gue Byan. Gue tahu gue salah, itu semua gue lakuin karena terpaksa," jelas Jasmine dengan lirih.
"Gue udah ikutin permainan loe, sekarang giliran loe yang ikutin permainan gue ... di ranjang ini," Byan menegaskan kalimatnya sambil memukul-mukul kasur tempat Jasmine berada.
"Byan please, jangan sekarang. Gue belum siap!" pinta Jasmine memohon dan bangkit duduk di atas ranjang.
"Loe diam maka gue akan bermain lembut, jika mulut loe masih mengomel maka gue akan bermain kasar. Pilih, loe mau yang mana, hah?" ucap Byan membuat pilihan untuk Jasmine.
Seketika Jasmine terdiam, dia tidak berani bersuara, karena dia membayangkan bagaimana sakitnya jika Byan bermain kasar. Jasmine tidak mau jika itu terjadi.
"Bagus, diam saja seperti ini, maka gue akan mengampuni loe," ujar Byan dengan mengelus kepala Jasmine lembut, Byan suka dengan patuhnya seorang wanita padanya.
Tanpa mengatakan apapun, Byan langsung membuka pakaiannya di hadapan Jasmine hingga wanita itu melotot sempurna melihat tubuh Byan dengan dada bidangnya yang aduhai menggoda, begitu gagah dan berotot, inilah pria idaman hatinya.
Jasmine menyadari bahwa Byan menatapnya, namum pandangan mata Jasmine langsung dia alihkan ke tempat lain. Byan pun menaikkan alisnya tersenyum tipis dan menatap tajam Jasmine yang sedang salah tingkah.
Byan mulai menaiki ranjang lalu memberikan sentuhan-sentuhan kecil pada Jasmine yang terlihat pasrah. Melihat Jasmine yang seolah menerima sentuhannya, Byan akhirnya memberikan permainan yang lebih menantang lagi untuk Jasmine yang belum pernah wanita itu rasakan, yakni malam pertama.
"Lihat gue, Jasmine!" pinta Byan pada Jasmine yang sejak tadi membuang mukanya diawal permainan mereka.
Jasmine tidak peduli dengan permintaan Byan. Jasmine hanya sibuk dengan menahan rasa sakit oleh permainan Byan, sampai-sampai air mata Jasmine mengalir begitu saja.
"Mama, maafkan Jasmine karena Jasmine telah melakukan kesalahan besar, telah berbuat curang pada seseorang. Dan sekarang Jasmine sudah menikah. Menikah dengan cara menjebak seseorang. Jasmine jahat, Ma. Dan inilah akibat dari perbuatan Jasmine, Ma ... hiks, hiks, hiks!" batin Jasmine menangis dalam hati penuh sesal, ingin sekali dia menangis sekencang-kencangnya namun dia menahannya, hanya air matanya saja yang mengalir sedari tadi, tak bisa dia bendung untuk menahannya.
Byan merasa iba melihat Jasmine hanya diam dengan tangisannya. Apakah Jasmine merasakan sakit olehnya, sehingga Jasmine menangis? Itulah yang ada di benak Byan.
Niat ingin membalas dendam pada Jasmine, malah berujung dengan kecemasan pada Jasmine. Byan akhirnya menghentikan permainanya setelah dia puas menyalurkan hasratnya pada Jasmine. Hanya satu kali permainan saja, Byan sudah merasa kecewa karena air mata Jasmine yang terus mengalir. Tapi Byan bahagia karena dia orang pertama yang mendapatkan keperawanan Jasmine.
Byan meraih wajah Jasmine ke hadapannya, lalu Byan mencium bibir Jasmine sebagai tanda akhir dari permainannya di malam pertamanya dengan Jasmine. Kecewa, kesal dan marah bercampur menjadi satu. Namun saat ini Byan tidak ingin menjadikan balas dendamnya berakhir dengan menyakiti seorang wanita.
"Tidurlah, ini sudah malam!" ucap Byan dengan perhatiannya, mengelus rambut Jasmine kemudian membentangkan selimut lalu ditutupkannya ke tubuh Jasmine.
__ADS_1