Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Penyesalan


__ADS_3

Hidup bersama dengan orang yang paling kita sayangi dan cintai begitu sangat beruntung dan menjadikan suasana hati kita lebih tenang dan nyaman selalu berada di sisinya.


Cinta tanpa kita sadari bisa timbul secara tiba-tiba. Terkadang ego lah yang membuat kita cenderung sombong dengan pengakuan cinta kepada seseorang yang kita cintai sehingga berujung penyesalan yang harus diterima dengan lapang dada.


Waktu terus berlalu dan hidup kita bukan hanya masalah cinta saja melainkan ada masa depan yang kita impikan, masa depan yang kita gapai dan masa depan yang membawa kita pada kebahagiaan tergantung pilihan serta keputusan kita sendiri.


Tak ada kata memalukan bagi orang yang mengakui sebuah nama yang unik yaitu 'cinta' karena cinta adalah anugerah yang dimiliki oleh setiap insan di bumi. Jadi mengapa kita harus malu mengungkapkannya? Tak ada kata terlambat sebelum seseorang itu pergi meninggalkanmu.


Buang jauh-jauh ego dan rasa sombong tentang masalah cinta. Bisa jadi kesempatan kedua itu datang bersamaan dengan rasa penyesalan.


Berjuanglah demi cinta yang kau merasa bahagia bersamanya walaupun dia hanya seseorang yang sederhana tapi mampu membuatmu tersenyum, membuatmu dihargai. Hanya orang-orang terpilih yang bisa merasakan keberuntungan mendapatkan kebahagiaan bersama pasangan seumur hidupnya.


Di lobi apartemen,


Byan berjalan cepat dan diikuti oleh Wandi, mereka begitu sangat terburu-buru menuju unit apartemen milik Byan.


"Calm down, Byan!" seru Wandi sedikit berteriak, karena dia mulai lelah mengekori Byan sedari tadi.


"Inilah susahnya menjadi seorang bawahan dengan memiliki bos yang keras kepala," umpat Wandi kesal, tanpa disadarinya ucapannya itu terdengar oleh Byan.


"Jika kau sudah lelah bekerja denganku, pergilah dan persahabatan kita putus!" bentak Byan mengancam sembari berjalan memasuki lift naik ke atas apartemennya.


Tak lama itu pun Wandi masuk dalam lift sebelum pintunya tertutup, dia mengatur nafasnya yang cukup tersengal-sengal untuk bicara pada Byan.


"Ini nih perkataan yang paling ampuh diucapkan oleh seorang Byan. Emang bos selalu berkuasa. Bisanya ngancem terus," gumam Wandi menatap Byan setelah itu menghela nafasnya berat.


Wandi menanggapi ancaman Byan itu dengan tenang, karena ancaman yang Byan ucapkan bukan kali itu dilontarkan pada Wandi, melainkan berkali-kali di ucapkan oleh Byan ketika bosnya itu sedang kesal pada Wandi.


Byan hanya diam tak menanggapi apa yang Wandi katakan, karena Byan sibuk memikirkan perkataan apa yang akan dia ucapkan pada Jasmine jika bertemu di apartemen nanti. Jantungnya berdetak kencang seolah akan bertemu dengan calon istri saat akan melamar. Byan begitu gugup.


Tak lama kemudian, pintu lift pun terbuka. Byan mulai mengambil langkah duluan setelah dia yakin jika dirinya tidak gugup lagi.

__ADS_1


Byan dan Wandi berdiri di depan pintu apartemen. Byan pun memencet bel pintu itu. Wandi yang melihat tingkah Byan begitu sangat konyol.


"Hei, sejak kapan loe pencet bel apartemen loe sendiri, hah? Ini nih bos tapi bodoh," umpat Wandi yang langsung membuka sendiri pintu apartemen Byan dan langsung dibukanya pintu itu.


"Gara-gara wanita tingkah loe mendadak amnesia," ujar Wandi geleng-geleng kepala.


Byan menatap Wandi tak terima.


"Sialan loe!" ucap Byan kesal pada Wandi.


Wandi hanya terkekeh sembari berjalan menuju dapur mengambil minum untuk melepas dahaganya.


Sedangkan Byan melangkah pergi ke kamar Jasmine.


"Jasmine, Jasmine!" teriak Byan memanggil nama Jasmine.


Byan mencari-cari keberadaan Jasmine di kamar, hingga ke kamar mandi tapi yang di cari tak kunjung menampakkan wujudnya.


Byan mulai kesal hingga dia melangkah ke seluruh ruangan apartemennya mencari Jasmine, namun lagi-lagi dia tidak menemukannya.


Byan teringat satu tempat yang pernah dimasuki oleh Jasmine, kemudian Byan pun melangkah pergi ke kamarnya di mana terdapat sebuah ruang rahasia pribadinya.


"Jasmine, loe bersembunyi? Keluarlah, gue nggak akan marah jika loe masuk ke ruangan ini, percayalah!" teriak Byan.


"Jasmine, jasmine!" teriak Byan.


"Jasmine, Jasmine keluarrrr!" teriak Byan kali ini dengan keras.


Byan tak mampu menopang tubuhnya hingga dia perlahan tergeletak duduk di lantai.


"Aku menyesal, aku menyesallll ... kenapa aku harus melepaskanmu pergi, Jasmine!" lirih Byan tak kuasa menahan air matanya.

__ADS_1


Wandi masuk ke dalam ruang rahasia Byan berada. Tak dipungkiri lagi bahwa Wandi adalah orang yang sangat tahu tentang apa-apa yang dimiliki oleh Byan sekalipun rahasia pribadinya.


"Sudahlah, tidak usah ditangisi. Toh Jasmine tidak akan kembali lagi, dia telah pergi dari kehidupan loe dan itu pun loe sendiri yang melepaskan dia," Wandi terlihat kesal pada Byan dengan kebodohan sahabat sekaligus bosnya itu.


"Nggak ada gunanya loe cari dia. Gue udah hubungin Beni tapi nomornya nggak aktif. Lupakan Jasmine, dia nggak akan pernah kembali," ujar Wandi dengan tegas.


Byan hanya diam tak mempedulikan perkataan Wandi. Tapi Wandi menjadi iba melihat keadaan Byan.


"Ayo, sekarang kita harus pergi ke bandara. Kita akan berangkat dengan penerbangan yang baru," ujar Wandi sembari membuat Byan berdiri kembali.


Wandi merasa iba melihat Byan yang tampak bersedih dengan penyesalannya. Dalam perjalan menuju bandara mereka hanya diam tanpa kata.


Di sisi lain, Jasmine hampir tiba di bandara. Jasmine tidak bisa menutupi kecemasannya jikalau pesawat yang Byan naiki akan segera berangkat. Tapi Jasmine tidak pantang menyerah, dia akan sampai tepat waktu agar bertemu dengan Byan dan mengungkapkan perasaannya pada lelaki yang pernah menjadi suaminya itu.


"Berhenti, berhenti, aku turun di sini saja. Kau lanjutlah perjalananmu, terima kasih sudah mengantarku," pinta Jasmine secara mendadak karena jalanan cukup macet padahal jaraknya ke bandara tidak terlalu jauh.


"Tapi Nona...," ucap Beni menggantung dan langsung dipotong kalimatnya oleh Jasmine.


"Kelamaan, jika aku menunggu mobil ini berjalan, aku takut tidak akan pernah bertemu Byan lagi," seru Jasmine bergegas pergi dengan membawa tas ranselnya meninggalkan Beni.


Beni hanya geleng-geleng kepalanya melihat kelakuan Jasmine yang tidak sabaran itu.


Sementara Jasmine, dia berlari menuju bandara melewati kemacetan. Saking dia begitu semangatnya menemui Byan. Jasmine terus berlari sekencang kemampuannya. Jasmine hendak menyeberang ke sebelah kiri, dia tidak melihat keadaan sekitarnya dengan mobil yang sudah bisa berlalu lalang di depannya.


"Semoga aku bisa bertemu dengan Byan," gumam Jasmine berharap dan was-was.


Tin tin tin tinnnnn


Suara klakson mobil pun tak mampu di dengar oleh Jasmine saking fokusnya dia dengan kekhawatirannya untuk menemui Byan.


Jasmine masih saja menyeberangi jalanan.

__ADS_1


Brukkkkk


"Akhhhhhhh....!"


__ADS_2