
Setelah semua rahasia terungkap, kini keluarga Atha bersama Byan dan Darwish menjalani kehidupan yang lebih baik. Jasmine pun tidak lagi melarang Sakha untuk menginap di rumah utama Wiratama. Itu pun karena permintaan Darwish yang selalu memaksa. Maka sebagai anak yang patuh, Sakha pun menuruti kemauan kakeknya.
Dan sekarang, Byan tidak lagi sungkan-sungkan untuk mengunjungi Sakha di rumah Atha, dia juga tidak perlu merasa takut meminta izin pada Jasmine untuk pergi bersama Sakha. Sudah pasti wanita itu mengizinkannya.
"Bagaimana ujian hari ini? Kamu menyelesaikan dengan benar, bukan?" tanya Byan setelah Sakha memasuki mobilnya. Byan sengaja menjemput Sakha ke sekolah setelah ujian Nasional usai.
Hari ini adalah hari terakhir ujian sekolah bagi Sakha. Sehingga Byan turut serta untuk menyemangatinya, ya salah satunya dengan cara selalu mendampingi Sakha dalam bentuk perhatian dan kasih sayang, seperti Jasmine dan Atha berikan selama ini.
Byan sadar bahwa dirinya tidak ikut serta dalam pertumbuhan Sakha sedari dalam kandungan, maka dari itu Byan berharap dia bisa mencurahkan segala bentuk ketulusan seorang ayah tanpa pamrih.
"Alhamdulillah, semuanya lancar dan nggak terlalu sulit, 99 persen Sakha bisa menyelesaikan tanpa hambatan," ungkap Sakha dengan percaya dirinya, dia sangat senang.
"Wow, berarti 99 persen kelulusan sudah dalam genggaman dong!"
"Hem, insya Allah semoga saja," ucap Sakha sambil tertawa.
Byan pun ikut tertawa dengan leluasa.
"Jadi, kita mau kemana nih sekarang?" tanya Byan.
"Aku lapar, jadi kita sepertinya makan dulu deh," sahut Sakha sembari memegang perutnya.
"Ok, let's go!" Byan melajukan mobilnya menuju ke restoran tempat mereka akan makan siang.
Selama hampir satu jam mereka berada di restoran, kini mereka beralih untuk pulang, tepatnya Byan akan mengantarkan Sakha pulang ke kediaman Atha.
Melewati padatnya jalan raya karena macet, selama 30 menit akhirnya mereka sampai di kediaman Atha.
"Sampai," ujar Byan.
Sakha pun melepaskan sabuk pengamannya, setelah itu melemparkan senyuman ke arah Byan.
__ADS_1
"Terima kasih untuk hari ini, Dad ... Daddy!" ucap Sakha untuk pertama kalinya dia memanggil Byan dengan sebutan Daddy.
Deg
Byan terdiam sejenak, matanya membulat menatap Sakha. Byan seakan tak mampu berkata. Dia berharap pendengarannya tidak bermasalah karena barusan dia mendengar perkataan dari Sakha memanggilnya 'Daddy'.
"Emm ... Sakha, kamu tadi memanggilku...," sungguh Byan menjadi gugup, dia merasa malu. Apakah benar yang dia dengar?
"Daddy, sekarang aku akan memanggilmu Daddy. Apakah boleh?" tanya Sakha dengan serius.
Byan mengangguk, hanya mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca. Sungguh bahagia dia rasakan karena moment ini yang paling dia tunggu-tunggu sejak dulu.
Byan langsung memeluk Sakha. Memeluknya dengan erat. Susah sekali untuk berucap.
"Te-terima kasih, kau mau memanggilku Daddy. Aku sangat bahagia sekali," Byan menangis, tapi tidak berani untuk menunjukkan pada Sakha. Tapi Sakha tahu dari getaran tubuh Byan bahwa ayahnya itu menangis tertahan.
Sakha mencoba untuk menenangkan ayahnya sambil menepuk-nepuk bahu Byan.
Setelah tangisan Byan reda, dia mulai menghapus air matanya, lalu melepaskan pelukan mereka.
"Awalnya sih Sakha memang kecewa pada Daddy, tapi saat di Amerika, Daddy sangat perhatian dan peduli pada Sakha, disitulah akhirnya Sakha mulai yakin bahwa Daddy tulus menyayangi Sakha. Bagaimanapun, Sakha sudah memaafkan Daddy, karena Sakha tahu Daddy mempunyai alasan kenapa Daddy sampai tidak menginginkan seorang anak di masa lalu," ungkap Sakha, dia sudah sangat mengikhlaskan karena mempunyai dua orang ayah itu tidak mudah, jadi mulai sekarang, Sakha harus memperlakukan kedua ayahnya secara adil.
"Terima kasih, sayang. Kau memang anak yang berhati baik. Daddy bangga padamu," Byan menatap lekat wajah Sakha yang begitu menyejukkan hatinya, membuatnya menjadi teduh dengan kata-kata yang Sakha ucapkan.
"Sakha masuk dulu ya, Dad. Sampai jumpa besok. Sakha akan menginap di rumah utama kakek," ujar Sakha mengingatkan.
"Ya, sayang!" jawab Byan dengan mata berbinar bahagia.
Sakha pun turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada Byan.
Betapa senangnya Byan hari ini. Dia tidak menyangka bila Sakha sudah menyebutnya Daddy tanpa dia suruh. Byan sekarang merasa dirinya memang layak dipanggil Daddy. Ya, dirinya sudah menjadi seorang ayah seutuhnya.
__ADS_1
Wajah Byan selalu ceria sejak kepulangannya dari mengantar Sakha sampai di rumah utama Wiratama. Byan bersiul-siul sambil membayangkan moment kebersamaan dirinya bersama Sakha saat anak lelakinya itu memanggilnya Daddy. Sampai-sampai Byan tidak sadar sejak tadi Darwish yang sedang membaca koran di ruang tamu, sejenak memperhatikan Byan dengan heran.
"Ada angin apa kamu sejak tadi senyum-senyum gitu? Kamu lagi memang taruhan, hah?" tanya Darwish penasaran.
Byan berhenti sejenak menatap ke arah Darwish.
"Eh, Papi. Emm ... enggak kok, biasa saja. Senyum itu kan ibadah," ujar Byan santai. Dia melangkah menuju kamar atas dan masih bersiul bahagia.
Darwish hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya.
"Dasar anak aneh," gumam Darwish tak peduli. Dia kembali dengan bacaan korannya.
Ya, Darwish belum mengetahui kebahagiaan Byan adalah karena panggilan Daddy yang baru untuknya dari Sakha membuatnya tak berhenti tersenyum.
Sedangkan di kediaman rumah Atha. Setelah kepulangan Sakha dari ujian sekolahnya, dia disambut hangat oleh Jasmine dan tentunya Ziva, lalu selanjutnya Atha yang memang pulang sore dari kantor. Kemudian pada malam harinya di ruang makan, ingatan Sakha masih lekat saat dirinya memanggil Byan dengan panggilan Daddy. Hatinya begitu lega, karena sebagai seorang anak, dia memang pantas melakukan hal itu kepada Byan, yakni sang ayah.
Jujur saja, sejak beberapa tahun lalu setelah Sakha mengetahui secara tidak sengaja rahasia dirinya yang sebenarnya, membuat dirinya merasa tidak adil karena memperlakukan Byan hanya sebagai pamannya. Sakha merasa seperti anak durhaka. Ya walaupun memang dia merasa kecewa saat itu atas kebenaran yang dia dengar secara sembunyi-sembunyi. Tapi itu semua dia lakukan karena saat itu keluarganya masih menutup-nutupi kebenaran itu. Dan mulai sekarang, tidak ada lagi yang namanya panggilan 'Om' untuk Byan, melainkan 'Daddy. Ya, Daddy Byan.
"Duh, yang udah selesai ujian sekolahnya, dari tadi nggak luntur-luntur tuh senyum. Kayak habis bertemu pacarnya aja," ujar Ziva meledek Sakha dengan candaan.
"Kamu, masih kecil sok tau aja sih," sahut Sakha yang mulai memudarkan sedikit senyumnya.
"Ye, Ziva sudah besar sekarang, sudah SMP. Lihat aja wajahku semakin cantik kan?" kata Ziva dengan mengedipkan kedua matanya.
"Ih, dasar genit!" umpat Sakha terkekeh.
Atha dan Jasmine yang mendengarnya pun ikut terkekeh. Ada saja tingkah Sakha dan Ziva bila mereka bersama.
"Oh ya, Sakha. Kamu sudah memutuskan untuk ambil kuliah dimana?" tanya Atha, dia ingin sekali Sakha melanjutkan kuliah di universitas terbaik sesuai kemampuan Sakha yang memang cerdas.
"Ya, nanti sekalian kita bahas bersama dengan kakek dan Daddy," jawab Sakha dengan santai sambil mengunyah sedikit makanannya.
__ADS_1
"Daddy...???" tanya Jasmine, Atha dan Ziva bersamaan. Mereka kaget.
Sakha tercengang mendengar pertanyaan mereka bertiga. Dia lupa bahwa Jasmine, Atha beserta Ziva belum tau panggilan itu.