
Bagaikan dunia milik mereka berdua, tak pernah terlepaskan. Itulah yang sekarang Sakha dan juga Byan perlihatkan dihadapan semua orang di sekitar mereka saat ini. Mereka berdua seperti tak mempedulikan keberadaan orang lain.
Semua orang tak berani berkomentar melihat keasikan Sakha dan Byan melepaskan rindunya hingga membuat semua orang di sana bungkam. Tapi tidak dengan Ziva, dia bingung dengan keterdiaman orang tuanya bahkan Sakha yang tak peduli dengannya malah asik berbicara dengan orang lain.
Ziva berontak ingin turun dari gendongan Atha. Lantas, Atha pun menurunkan Ziva, lalu Ziva dengan cepat berlari mendekat Sakha.
"Kakak, ayo kita main!" rengek Ziva menarik baju Sakha.
Byan pun menoleh begitu juga Sakha.
"Ayo kita main, ayo mainnnn!" Ziva masih saja menarik baju Sakha dan menyeretnya ke suatu tempat.
"Iya, iya Ziva. Jangan tarik-tarik, nanti baju Kakak robek!" seru Sakha yang dengan rela mengikuti kemana adiknya membawanya.
"Mainnya jangan di luar, sayang!" peringat Byan pada Sakha dan Ziva.
Darwish bangkit dari sofa, dia mengalihkan pandangannya pada dua pasangan suami istri itu saat mereka mendekat ke arahnya untuk menyalami Darwish. Ya, pasangan itu adalah Atha dan Jasmine.
"Biar paman yang menjaga anak-anak kalian main," ujar Darwish tersenyum kecil, bersuara datar kemudian berlalu dari sana.
Sementara itu, Byan pun bangkit diikuti oleh Jane.
"Mas, kenalkan ini Jane!" Byan memperkenalkan Jane pada Atha, tapi tidak pada Jasmine.
"Hai, aku Jane calon istrinya Byan!" sapa Jane mengulurkan tangannya pada Atha.
"Aku Atha sepupuhnya Abi, dan ini istriku Jasmine," sapa Atha tanpa membalas jabatan tangan Jane, hanya mengatupkan tangannya ke depan dada.
"Aku Jasmine," sapa Jasmine yang langsung membalas jabatan tangan Jane yang tidak dibalas oleh Atha itu.
Jasmine dan Jane saling tersenyum. Mereka berdua pun mengobrol.
"Aku senang kau bertunangan juga akhirnya. Tapi menikah lebih baik," ujar Atha sambil menepuk bahu Byan.
"Ya, nanti aku pikirkan!" bisik Byan pelan di telinga Atha, takut bila di dengar oleh Jane.
__ADS_1
"Hei, apa maksudmu? Jangan menunda-nunda pernikahan jika kau sanggup Abi," Atha pun berbisik dengan pelan.
"Pertunangan ini sebuah kesalahan, Mas!" ujar Byan kembali berbisik dengan pelan.
"Apaaa?" kaget Atha sedikit lantang.
Pandangan Jasmine dan Jane yang sedang mengobrol tiba-tiba beralih pada Atha dan Byan.
"Ada apa?" tanya Jane heran.
"Oh, i-itu ... tidak apa-apa kok!" sahut Byan sedikit gugup sambil tersenyum kikuk.
Atha hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah sepupunya itu.
Tak terasa, kini tiba saatnya hari dimana bagi Atha menyematkan cincin di jari manis Jane, menandakan bahwa saat ini mereka sekarang sudah resmi bertunangan. Wajah kebahagiaan dari Jane begitu terpancar. Byan pula seperti itu, tapi bedanya adalah lelaki itu menampakkan kebahagiaan palsunya. Wajah boleh menipu tapi hati, tidak.
Byan tersenyum dengan lebar saat para tamu undangan memberikan ucapan selamat, tapi mata dan hati Byan selalu saja tertuju pada Jasmine yang sedang berada di seberang matanya. Padahal Byan sudah mencoba untuk melupakan Jasmine, tapi rasa bersalah dan menyesalnya masih saja tak bisa merelakan wanita yang ternyata dia cintai itu.
"Jangan dipandangi terus yang sudah milik orang. Noh, pandangi saja yang di samping loe. Nggak kalah cantik kok dari mantan loe dulu!" ledek Wandi tertawa tengil sambil menunjuk Jasmine juga Jane dengan lirikan matanya.
"Diam loe, rusuh aja!" seru Byan tak terima hingga memukul bahu Wandi.
Dari arah yang lumayan dekat. Darwish memperhatikan Byan yang selalu saja fokus dengan arah matanya ke depan. Sehingga Darwish pun penasaran dan akhirnya melihat arah mata Byan yang nyatanya tertuju pada Jasmine. Berkali-kali Darwish memastikan dan hasilnya memang Byan tanpa henti memandang wanita yang berstatus istri dari ponakannya itu, yakni Atha.
"Byan, fokuslah pada Jane dan para tamu!" sapa Darwish menepuk bahu anaknya itu sengaja mendekat, agar orang-orang sekitar tidak menaruh curiga seperti dirinya.
"I-iya Papi," kaget Byan yang langsung beralih pandang ke arah Darwish sedikit gugup.
Tak lama kemudian Sakha menghampiri Byan.
"Om Abi, ayo kita foto bersama!" pinta Sakha langsung menggandeng tangan Byan.
"Ya baiklah," sahut Byan.
Akhirnya keluarga besar Wiratama berfoto bersama di depan altar. Jasmine salah tingkah saat Byan menatapnya tanpa henti. Hingga ada celah untuk Byan bisa menyapa wanita yang berstatus mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Apa kau senang melihatku bertunangan?" tanya Byan pelan pada Jasmine tanpa malu, padahal sudah jelas hubungan mereka sudah berakhir.
"Mau kau bertunangan ataupun menikah aku tidak peduli. Dan tundukkan pandanganmu itu padaku," ketus Jasmine pelan.
Jasmine pun berjalan meninggalkan altar, tak mau lama lagi Byan bertingkah aneh padanya. Jasmine pun duduk di kursi tamu sambil memeluk Ziva. Sedangkan Byan memandang wanita itu sambil menaikan sudut bibirnya.
"Aku membencimu, Byan. Sungguh membencimu," gumam Jasmine begitu lirih, matanya berkaca-kaca.
Sungguh tak bisa dipungkiri, bahwa pertunangan Byan yang dia lihat secara nyata dapat membuat hatinya merasa sakit. Entah perasaan apa itu. Jasmine pun bingung sendiri. Di satu sisi ada Atha yang membuatnya bahagia, tenang dan nyaman. Tapi di sisi lain ada Byan yang rupanya masih membekas dihatinya.
"Ya Allah, tolong jatuhkan hatiku pada lelaki yang tepat ," batin Jasmine lirih.
Jasmine tidak mau egois hanya karena masa lalu. Sebab di masa sekarang dia sudah bahagia bersama keluarganya saat ini.
"Apa telah terjadi sesuatu antara Abyan dan Jasmine?" gumam Darwish bertanya-tanya. Sebab dia penasaran pada kedua orang itu yang saling menjaga jarak tetapi saling berlirikan saat berjauhan.
Keesokan harinya, di kediaman Atha. Ketika semua keluarga Bamantara sedang sarapan di ruang makan. Semua dikagetkan oleh kabar dari keluarga Wiratama, bahwasannya Byan, Darwish, Wandi beserta Jane mendadak akan berangkat ke Amerika karena pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk pulang ke sana.
Satu minggu waktu yang singkat untuk pertemuan mereka dengan keluarga Atha, apalagi Sakha yang tahu berita keberangkatan Byan ke Amerika. Bocah lelaki itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung berjalan keluar meninggalkan sarapannya saat itu.
"Sakha, mau kemana? Habiskan dulu sarapannya!" teriak Jasmine yang ikut melangkahkan kakinya menyusul Sakha.
"Aku mau ketemu om Abi sebelum dia ke Amerika, Ma!" teriak Sakha sangat lantang sambil berlari sekuat tenaganya.
"Papa antar Sakhaaa! Kita naik mobil. Ziva tunggu di sini ya, sayang!" teriak Atha tak mau kalah, dia pun beranjak mengikuti Sakha dan Jasmine keluar tanpa Ziva yang masih duduk di kursi meja makan.
Entah apa yang terjadi pada Sakha, dia sampai tidak mempedulikan teriakan mama dan papanya. Bocah kecil itu berlari sambil menangis.
"Om Abi, jangan pergi dulu, tunggu Sakha datang, hiks...hiks...!" tangis Sakha pilu. Dia berlari dengan kencang hingga melewati pagar dan sekarang sudah berada di jalanan tempat kendaraan berlalu-lalang.
"Sakha, hati-hati ada mobil sayang!" teriak Jasmine.
Sakha terus saja berlari, sampai-sampai Jasmine tak bisa menghentiknnya.
"Sakha awasss!!" teriak Jasmine kembali.
__ADS_1
Bughhh
"Sakhaaaa!!" teriak Jasmine dan juga Atha bersamaan.