Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Bertanya


__ADS_3

Seharian ini Jasmine berada di kamarnya. Berhari-hari hingga seminggu terlewati dia masih betah berada di kamarnya. Dia tak pernah berani untuk ke luar dari kamar, kecuali hal mendesak seperti kehabisan air minum. Jasmine harus ke dapur mengambilnya, itu pun jika tak ada Atha di rumah.


Tidak hanya itu, Jasmine harus berakting dengan gaya jalan yang sangat pelan agar terlihat oleh para pelayan dan bi Narti percaya bahwa kakinya memang benar masih sakit. Ada saja tingkah wanita itu dibuat-buat sendiri.


Tapi apalah daya, seorang Jasmine yang begitu aktif akhirnya menyerah juga. Dia merasa sumpek dan bosan harus beraktivitas di dalam kamar berhari-hari.


"Aku bukan pengecut, aku harus hadapi masalah sesulit apapun. Aku nggak boleh takut. Aku harus berani. Ya, aku seorang wanita pemberani ... pemberani dalam segala hal, termasuk berani berbohong. Arghhhh!" ucap Jasmine dengan dirinya sendiri ketika menghadap ke arah cermin.


Hari ini Jasmine bertekad untuk ke luar dari kamarnya. Selama ini dia menghindar diri dari Atha agar tidak dipindahkan ke apartemennya hingga Jasmine berani membohongi semua penghuni di rumah itu termasuk sang tuan rumah, Atha Bamantara.


Tapi kini Jasmine sadar bahwa kebohongannya telah membuatnya tersiksa. Sekarang Jasmine pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Jika memang Atha memintaku pindah ke apartemnnya, aku akan terima. Toh rumah ini juga bukan milikku. Dia berhak membuatku untuk ke luar dari sini," gumam Jasmine dengan lirih.


Entah bagaimana kedepannya nanti, apakah memang Jasmine pindah ke apartemennya Atha, atau masih tetap tinggal di kediaman milik Atha? Itu tergantung dengan keputusan Atha seorang.


Jasmine saat ini sedang berada di halaman depan tepatnya duduk di bangku yang menghadap bunga anggrek. Tidak hanya itu, dia juga sembari mendengarkan musik klasik untuk menenangkan pikirannya agar tidak stres dan membantu tumbuh kembang janin lebih baik.


Bertepatan dengan kepulangan Atha, yang memang saat itu kembalinya Atha dari kantor lebih cepat dari biasanya. Pukul 15.00 Atha sudah pulang ke rumah, sengaja dia pulang karena ingin sholat ashar di rumah sekaligus mengaji.


Ketika Atha selesai dari sholat ashar dan mengaji, dia berjalan ke balkon kamarnya untuk melihat-lihat pemandangan dari atas sana. Dan tak sengaja, matanya menangkap Jasmine yang tengah duduk dengan memejamkan matanya sembari memakai earphone di telinganya.


Atha memperhatikan Jasmine dari kejauhan. Tidak terlalu jelas dia memandang wajah Jasmine, maka dari itu Atha cukup lama memperhatikan Jasmine.


"Astagfirullahal'adzim," Atha tersadar dan mulai mengedarkan pandangan matanya ke arah lain.

__ADS_1


"Sedang apa dia di sana? Apa kakinya sudah sembuh? Ya, terlalu lama dia bersembunyi di kamar," gumam Atha kemudian berbalik masuk ke dalam kamarnya.


Atha tak ingin berlama-lama di atas balkon, karena semakin dia di sana bisa jadi pandangan mata Atha akan terhipnotis oleh bisikan setan yang membuatnya berdosa.


Keesokan paginya, saat Atha hendak menuju ruang makan, tiba-tiba dia berpapasan dengan Jasmine yang baru saja ke dapur mengambil air minum. Hampir saja mereka bertabrakan, lalu mereka saling diam, ingin melangkah tapi bingung mau ke arah mana dulu. Dan akhirnya Atha yang membuka suaranya dahulu.


"Kakimu sudah tidak sakit lagi?" Atha hanya sekedar bertanya.


Deg


Jasmine mulai cemas tapi dia mencoba tenang.


"Iya, kakiku sudah sembuh!" ujar Jasmine menunduk lesu.


"Syukurlah, emm ... lain kali hati-hati," ujar Atha dengan perhatian kecil.


Jasmine menjadi heran saat Atha memberikan perhatian kepadanya, dia kira Atha akan berbicara tentang apartemen, rupanya tidak.


Sekilas Atha melirik Jasmine yang terlihat tidak bersemangat. Dia menjadi tidak enak hati karena pertanyaan yang telah dia layangkan pada Jasmine. Padahal pertanyaan itu sangatlah sederhana menurut Atha tapi justru membuat Jasmine tidak bersemangat.


Atha menjadi iba melihatnya, ada rasa kasihan yang menyeru di hatinya. Atha jadi berpikir panjang untuk memindahkan Jasmine ke apartemennya, mengingat Jasmine sedang mengandung apalagi wanita itu selalu saja ada alasan setiap kali Atha menginginkannya pindah dari rumahnya.


Suasana di kantor, Atha disambut hangat oleh Billy saat tuannya baru saja masuk ke ruang kerjanya. Billy sengaja menunggu Atha untuk menyerahkan sebuah proposal pada bosnya. Sekilas Billy melihat wajah Atha. Dia seakan tahu ada sesuatu yang terjadi pada Atha, terlihat jelas di wajahnya yang sedikit berbeda.


"Tuan sakit?" tanya Billy memastikan.

__ADS_1


Atha yang hendak duduk di kursinya malah berbalik ke hadapan Billy.


"Tidak," sahut Atha sambil menggeleng.


"Apa saya terlihat pucat?" tanya balik Atha.


"Oh, tidak Tuan!" sahut Billy.


Atha mengernyit heran.


"Baiklah saya permisi, Tuan!" ucap Billy sembari membungkuk dan berbalik hendak melangkah pergi.


"Tunggu Billy!" cegah Atha menghentikan langkah Billy.


"Iya Tuan," Billy berbalik menghadap Atha.


Atha sedikit bingung dan maju mundur untuk mengatakan sesuatu pada Billy, tepatnya menanyakan sesuatu kepada asistennya itu.


"Emm ... a-pa-kah ada sesuatu yang Tuan butuhkan?" tanya Billy ragu-ragu saat melihat Atha hanya diam sesaat tuannya itu menghentikan langkahnya.


Atha pun tersadar oleh perkataan Billy.


"Oh ya, emm ... apa terlalu kejam bila saya meminta Jasmine pindah ke apartemen?" tanya Atha sekaligus meminta pendapat dari asistennya itu.


Billy mengerutkan keningnya bingung. Untuk apa tuannya menanyakan hal itu, padahal tuannya sendiri paling mengerti dengan kondisi yang sedang tuannya alami, bahkan biasanya Atha sangatlah pandai dan tegas saat mengambil keputusan sendiri.

__ADS_1


"Tidak Tuan, selama kondisi wanita itu baik-baik saja, saya rasa tidak ada masalah jika Tuan menempatkan dia ke apartemen Tuan," ujar Billy berpendapat. Billy berharap pendapatnya tidaklah salah.


__ADS_2