Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Dipercepat


__ADS_3

Setelah hari-hari berlalu dan beberapa bulan berlalu hingga kini memasuki bulan ketiga usia pernikahan Jasmine dengan Byan. Ini adalah bulan terakhir bagi mereka, memiliki status yang rumit tetapi hubungan mereka begitu harmonis.


Banyak kejadian-kejadian tak terduga di antara keduanya. Awal yang membuat mereka saling emosi namun pada akhirnya mereka saling mengasihi dan melengkapi. Mereka pasangan yang sangat serasi dengan kepedulian di antara keduanya. Byan yang selalu perhatian pada Jasmine, dan Jasmine membalas dengan cara melayani Byan dengan baik sebagai seorang istri.


Tawa bahagia selalu mengisi disetiap hari-hari mereka. Tapi sangat tidak menguntungkan bagi mereka berdua, karena pada kenyataannya mereka saling menyayangi tetapi mereka tidak mampu untuk memiliki. Karena keterikatan janji mereka di awal yang hanya menikah karena saling membutuhkan satu sama lain.


Malam hari, Jasmine berkaca di depan cermin sambil memakai krim di wajahnya. Dia tersenyum manis saat melihat ke pantulan cermin yang ternyata suaminya telah berdiri di belakangnya dengan menatap wajahnya tiada henti. Ada sesuatu yang tersirat dari tatapan Byan.


"Kenapa loe menatap gue seperti itu, Byan?" tanya Jasmine heran.


"Loe cantik!" seru Byan lirih lalu mengelus kepala Jasmine lembut.


"Emang gue udah cantik dari kecil," Jasmine terkekeh.


"Loe tutup mata gih!" pinta Byan.


"Kenapa? Loe mau cium gue? Nggak perlu tutup mata juga kali, kan kita sering melakukannya!" ungkap Jasmine masih menatap Byan di depan pantulan cermin.


"Yang ini berbeda, ayolah tutup mata loe buruan!"


"Tapi...,"


"Nggak usah bawel deh, Jasmine!" pinta Byan menekan hingga membuat Jasmine terdiam.


"Ok, tapi jangan macam-macam loe ya!" Jasmine sedikit takut.


Jasmine pun menutup matanya, kemudian Byan merogoh saku celananya dan meraih sesuatu di sana.


Byan menatap wajah Jasmine melalui cermin di depannya, dia tersenyum sendu melihatnya. Lama Byan menatap Jasmine, menelusuri wajah cantik istri sirinya itu dengan penuh penghayatan. Mulai dari mata, hidung lalu jatuh pada bibir indah Jasmine.


"Byan, kok lama banget sih?" tanya Jasmine yang tak sabar ingin membuka matanya.


"I-iya sebentar, pokoknya jangan dibuka matanya sebelum gue perintahkan, mengerti?" perintah Byan.


"Baiklah, cepetan dong!" ujar Jasmine akhirnya menuruti.


Akhirnya Byan meletakkan sesuatu di leher Jasmine. Terpampang jelas sebuah kalung yang indah dan terlihat sangat mahal.

__ADS_1


"Bukalah mata loe sekarang!" titah Byan.


Jasmine menyadari sesuatu yang sangat terasa di lehernya. Jasmine pun mengira-ngira bahwa itu adalah sebuah kalung. Jasmine membuka matanya perlahan. Dan benar saja, apa yang diperkirakan oleh Jasmine memang benar adanya. Sebuah kalung yang sangat cantik.


"Byan, kalung ini untuk gue?" ucap Jasmine ragu, dia memegang kalung itu sembari menatap Byan.


Byan menganggukan kepalanya.


"Kalung itu khusus gue pesan dari Paris dengan bentuk bunga Melati sesuai dengan nama kamu," ungkap Byan menjelaskan.


Jasmine menatap lekat kalung berbentuk bunga Melati itu.


"Kau menyukainya?" tanya Byan.


Jasmine masih fokus pada kalung itu.


"Kau menyukainya, Jasmine?" tanya Byan kembali dengan menyentuh kedua wajah Jasmine.


Jasmine tersentak kaget.


"Dalam hal apa loe kasih kalung ini ke gue? Bukankah ini kalung mahal?" tanya Jasmine keheranan.


Byan menghela nafasnya berat, seolah ada sesuatu yang sulit untuk dia katakan pada Jasmine.


"Kenapa?" tanya Jasmine bingung melihat Byan seperti orang lelah.


Byan meraih bahu Jasmine menuntunnya berdiri tepat di hadapannya.


"Kalung itu sebagai mahar pernikahan kita, walaupun gue telat memberikannya. Bagaimanapun juga gue harus memberikan mahar untuk loe, walau menikah siri tapi pernikahan kita sah secara agama," ujar Byan dengan tulus.


Jasmine bergetar saat Byan berucap. Ada rasa haru juga sedih menyelimuti dirinya.


"Seharusnya tidak perlu memberikan mahar untuk gue. Karena pernikahan kita terjadi atas kesalahan gue," Jasmine tertunduk sedih menatap kalung itu.


"Yang terjadi biarlah terjadi. Bukankah selama kita menikah, kita selalu menikmati setiap kebersamaan kita," ujar Byan menyadarkan Jasmine.


Jasmine mengulum senyumnya, Byan pun menyukainya.

__ADS_1


Byan memeluk Jasmine memasukkan kepala istrinya itu ke dadanya. Begitu erat, sehingga Jasmine sulit untuk bergerak.


"Byan," Jasmine hendak melepaskan pelukan dari Byan.


"Tunggulah sebentar lagi, mungkin pelukan ini tidak bisa kita rasakan nanti," ujar Byan.


Jasmine mengerutkan keningnya heran.


"Maksud loe apa?" tanya Jasmine penasaran.


"Hari itu akan segera tiba," sahut Byan lirih.


"Maksudnya?" Jasmine belum mengerti.


"Perpisahan!" ujar Byan langsung ke intinya.


Deg


Jasmine tertegun kaget mendengar ucapan Byan.


"Masih ada waktu tiga minggu lagi. Kita bisa memanfaatkan waktu itu dengan baik, bukan?" ucap Jasmine lirih. Hatinya paling sensitif bila mendengar kata perpisahan, karena itu mengingatkan dia di masa lalunya bersama orang-orang yang telah meninggalkannya.


Byan terdiam sejenak, perlahan memejamkan matanya dan meresapi pelukan hangat bersama Jasmine. Sungguh Byan tidak bisa berbuat apa-apa, ini adalah pilihan yang sulit dan tak bisa dirubah. Dia harus mematuhi apa yang telah dia ucapkan diawal. Dia tidak ingin di cap sebagai pengecut dan tak ingin terbebani oleh masalah seorang wanita.


"Tiga hari ... keberangkatan gue dipercepat tiga hari lagi," Byan serasa tenang tapi rasa sedih menyelimuti dirinya.


Jasmine berontak dari pelukan Byan dengan keras sehingga Jasmine bisa melepaskan dirinya.


"Kenapa begitu? Bukankah batas waktu pernikahan kita selama tiga bulan, bahkan pernikahan kita baru saja masuk bulan ketiga," protes Jasmine tidak suka.


Jasmine tidak rela jika dia harus berpisah dengan orang yang telah membuatnya bahagia.


"Ingat, pernikahan kita HANYA SALING MEMBUTUHKAN jadi jangan pernah melarang gue untuk pergi," ujar Byan menekan dan tegas, ada rasa kesal dalam kata-katanya tapi Byan tidak bermaksud menyinggung wanita cantik dihadapannya yang telah membuatnya jatuh hati.


Jasmine serasa tertampar oleh ucapan Byan seolah dia harus merelakan perpisahan mereka.


Jasmine kembali terdiam dan tertunduk sedih, matanya mulai berkaca-kaca dan hampir saja air matanya jatuh, tapi Jasmine gadis yang kuat sehingga dia bisa menahannya.

__ADS_1


__ADS_2