Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Jahilnya Dia Membuat Kesal


__ADS_3

Tak bisa dibayangkan bila Jasmine benar mengandung anak dari Byan. Bagaimana jika perkataan Byan untuk menggugurkan bayinya itu juga benar? Padahal anak itu adalah pelengkap kebahagiaan dalam rumah tangga, lalu kenapa Byan malah tidak menyukainya.


"Hei, gue tanya ... apa loe beneran hamil anak gue?" tanya Byan tak sabaran.


Jasmine merasa heran pada Byan. Bagaimana tidak, lelaki itu sama sekali tidak memiliki perasaan.


"Ya nggak lah, gue cuma nanya doang," ketus Jasmine.


"Syukur deh. Gue kira loe hamil," Byan bernafas lega.


Jasmine merasa kecewa dan manyun.


"Anak itu anugerah dari Tuhan, lalu kenapa loe nggak suka? Bukankah loe juga seorang anak?" tanya Jasmine berharap Byan memberi jawaban dengan jelas.


"Ada banyak rintangan yang harus gue hadapin jika gue punya anak kelak. Makanya gue nggak mau. Loe belum tahu kehidupan gue yang sebenarnya," ucap Byan lirih.


"Lalu kehidupan yang bagaimana yang harus loe lakukan agar loe bisa menerima kehadiran seorang anak?" tanya Jasmine penasaran.


"Gue belum kepikiran ke arah sana, lagian jika anak itu lahir, maka dia akan menjadi seorang anak yang ... liar," ungkap Byan yang menarik sudut bibirnya dengan malas.


"Liar? Kenapa bisa begitu?" Jasmine bertambah penasaran.


Byan menatap Jasmine dengan sorot mata tajamnya hingga Jasmine mengalihkan pandangannya menunduk ke bawah.


"Hei, jangan terlalu ingin tahu tentang kehidupan gue. Loe itu hanya wanita polos yang belum tau apa-apa dengan dunia luar," ucap Byan mengingatkan.


Jasmine tersentak dan kehabisan kata.


"Maafin gue," ujar Jasmine tertunduk kecewa.


Byan mendekat pada Jasmine kemudian memeluk wanita itu dengan rasa bersalahnya karena sudah membuat Jasmine seolah takut dengannya.


"Ya sudah, sekarang loe tidur. Maaf sudah membuat loe menunggu dan terbangun dari dengkuran loe yang gede," ucap Byan sambil mencuil hidung Jasmine dan mengedipkan matanya nakal kepada Jasmine.


Jasmine kaget dan ada rasa malu. Setahunya dia tidak pernah mendengkur jika sedang tidur. Dia pun penasaran dan akhirnya menanyakan langsung pada Byan.


"Gue mendengkur? Masa sih? Loe bohong kan?" tanya Jasmine memastikan.


"Iya, loe mendengkur saat tidur!" sahut Byan.


"Nggak mungkin. Loe bohong!" bantah Jasmine masih tak percaya.


Byan bangkit berdiri hendak melangkahkan kakinya.


"Ihhh, cantik-cantik dengkurannya gede banget. Sedih sekali nasib gue yang jadi suami loe," Byan mengedik bahunya seolah illfeel pada Jasmine.


Jasmine merasa malu sekali pada Byan.


"Apa benar? Gue nggak pernah mendengkur saat tidur," gumam Jasmine pelan.


Byan melirik Jasmine dengan tawanya lantang. Byan merasa bersalah sudah menjahili istrinya itu. Pada kenyataannya, selama Byan bersama Jasmine, lelaki itu belum pernah mendengar Jasmine mendengkur.


Byan hanya ingin membuat Jasmine sebagai hiburan baginya. Entah kenapa saat Jasmine berada di sisinya, Byan begitu menyayanginya menganggap seperti adiknya sendiri.

__ADS_1


 


Tak lama kemudian, terbesit pikiran nakal Byan pada Jasmine kembali.


"Jasmine, loe mau lihat bukti dengkuran loe? Buktinya ada di ponsel gue," Byan menunjukkan ponselnya dengan tangan kanannya ke atas, lalu berbalik dan berjalan hendak ke kamar mandi.


Mata Jasmine membelalak, dia bangkit lalu berjalan mengikuti Byan.


"Mana? Gue mau lihat. Gue yakin loe pasti bohong!" seru Jasmine dengan pendiriannya.


Tanpa sadar Jasmine mengikuti Byan hingga masuk ke kamar mandi. Byan tersenyum puas. Lelaki itu sukses membuat Jasmine masuk perangkapnya lagi. Ya, begitulah Byan jika ada sesuatu yang diinginkannya maka Byan akan melakukan segala cara agar dia mendapatkannya.


"Mana, sini berikan ponselnya!" pinta Jasmine mencoba menggapai ponsel milik Byan.


Byan menaikkan ponselnya lebih tinggi agar Jasmine tidak bisa meraihnya. Dasar Byan nakal, dengan begitu dia bisa melakukan sesuatu bersama Jasmine di sana.


Sementara, Jasmine yang masih mencoba menggapai ponsel Byan dengan cara menjinjitkan kakinya, namun tetap saja Jasmine tidak bisa meraihnya. Jasmine kelelahan hingga dia hampir terjatuh.


"Akhhhh!" teriak Jasmine.


Beruntungnya Byan cepat sigap memeluk Jasmine lalu menatapnya.


"Masih tetap ingin melihat buktinya?" tanya Byan seolah meledek.


Jasmine salah tingkah dan mencoba untuk melepaskan pelukan Byan darinya, tapi Byan menahan tubuh Jasmine dengan kencang agar istrinya itu tidak bisa lari darinya.


"Mau melihat buktinya, kan?" tanya Byan kembali.


Byan menambah pelukannya pada Jasmine, ada ketenangan yang di rasakan oleh Byan, apalagi Jasmine yang merasa dirinya paling diuntungkan karena memang merindukan kehangatan dari pelukan Byan.


Byan tahu jika Jasmine begitu larut dalam dekapannya, sehingga Byan lebih leluasa untuk memanfaatkan kebersamaannya dengan Jasmine.


Perlahan Byan membawa langkahnya bersama Jasmine ke arah wastafel, lalu Byan meletakkan ponselnya di atas sana. Kemudian beralih ke arah bawah tempat pemandian.


Jasmine masih larut dalam dekapan Byan hingga dia mengikuti Byan kemana lelaki itu melangkah. Jasmine rupanya sudah betah bila bersama Byan. Seperti ada sosok pelindung baginya.


Byurrrr


Byan tersenyum puas, akhirnya dia bisa mengajak Jasmine berada di atas guyuran air.


"Akhhh!" teriak Jasmine tersadar.


"Apa yang loe lakuin, Byan? Ini sangat dingin!" seru Jasmine sambil mengusap wajahnya yang terkena air.


"Temani gue mandi, badan gue gerah!" bisik Byan dengan lembut meminta.


"Loe tadi nyuruh gue tidur, sekarang malah nyuruh gue mandi."


"Gue berubah pikiran. Ternyata gue menginginkan lebih dari itu," bisik Byan menggoda.


Byan mulai mencium bibir Jasmine dengan lembut diiringi dengan guyuran air yang membasahi tubuh mereka. Lama kelamaan ciuman mereka menjadi liar hingga Byan tak ingin menunda kesempatan yang telah dinantikannya untuk bermain kembali dengan istri sirinya itu.


Byan pun melepaskan semua pakaian Jasmine begitu pun dirinya. Jasmine hanya bisa menerima dan dia sebenarnya memang telah menginginkan permainan Byan kembali. Jasmine yang belum berpengalaman dan tak pernah merasakan kenikmatan sebelumnya begitu ketagihan oleh permainan Byan.

__ADS_1


Kebersamaan yang begitu membawa mereka larut dalam penyatuan, apalagi permainan liar Byan membuat Jasmine terbuai seolah tidak ingin menyudahi permainan itu.


Byan tersenyum kala hasratnya telah tersalurkan.


"Bagaimana, apa loe suka permainan kita barusan? Sepertinya loe menikmatinya, bukan?" tanya Byan setelah dia puas dengan permainannya.


Jasmine terdiam, jangan ditanya soal wajahnya yang merah merona menahan malu. Dia tidak berani menatap Byan di depannya itu.


"Hei, jangan marah ya. Soal dengkuran loe itu ... sebenarnya gue cuma bohong!" ungkap Byan berkata jujur membuat Jasmine seketika mendongak ke arah wajah Byan.


"Loe...," ucap Jasmine menggantung.


Seketika pula Byan langsung membungkam bibir mungil Jasmine dengan ciumannya.


Tapi sayangnya, Jasmine lagi-lagi dibuat kecewa saat Byan mengakhiri ciuman mereka.


"Senyum dong, mau gue cium lagi atau masih mau bermain lagi?" Byan menarik dagu Jasmine ke hadapannya.


"Nggak, gue nggak mau! Loe pembohong!" Jasmine begitu kesal.


"Maaf, gue sengaja melakukannya karena loe juga nggak jujur sama gue kalau loe sebenarnya ketagihan dengan permainan gue, kan? Loe nungguin gue pulang karena loe kangen gue, kan? Loe yang bohong duluan, makanya gue bales bohongin loe!" ungkap Byan menjelaskan.


Byan masih menatap lekat wajah Jasmine, wajah yang menurut Byan begitu polos dan sederhana, terpancar raut wajah indah. Itulah mengapa Byan sangat betah dengan Jasmine bila di dekatnya.


"Loe jahat tau, nggak! Loe udah buat gue malu setengah mati," ketus Jasmine.


Byan tersenyum melihat tingkah Jasmine yang menggemaskan.


"Eh, lagian nggak apa-apa jika loe mendengkur, gue masih tetap mau kok tidur sama loe!" ujar Byan hingga membuat Jasmine mengulum senyumnya senang.


"Tapi, syaratnya loe harus rela jika hidung loe setiap malam gue jepitin pake jepitan jemuran setiap kali gue dengar dengkuran dari loe saat tidur, loe mau nggak?" ujar Byan yang kali ini membuat senyuman Jasmine memudar.


Awalnya Byan membuat hati Jasmine merasa senang namun pada akhirnya Byan menjahili Jasmine dan membuat hati Jasmine kembali kecewa.


"Gue sebel sama loe!" Jasmine hendak berlari dari Byan.


"Eh, tunggu ... pakai handuk dulu!" Byan menahan tangan Jasmine.


Jasmine baru tersadar bila dirinya masih dalam keadaan tanpa busana.


"Ah dasar sial," gumam Jasmine dengan malu.


Jasmine berbalik lalu berjalan meraih handuknya.


"Ini semua gara-gara loe, Byan!" kesal Jasmine dengan menepis tangan Byan.


"Hahaha," Byan tertawa tanpa rasa malu dengan penampilannya yang juga tanpa busana.


Kemudian Jasmine berjalan ke luar dari kamar mandi meninggalkan Byan.


"Dasar mesum!" umpat Jasmine lantang setelah merasa cukup jauh tapi masih terdengar samar oleh Byan.


"Pakailah baju dengan cepat. Kalau tidak, maka gue akan melanjutkan permainan ronde kedua," teriak Byan dengan kekehan jahilnya.

__ADS_1


__ADS_2