Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Dua Kali?


__ADS_3

Bujukan Jasmine saat itu membuat Sakha luluh dan mampu membuat Sakha merelakan keberangkatan Byan ke Amerika. Tapi setelah itu, Sakha banyak diam selama perjalanan pulang ke rumahnya. Dia tidak berhenti memeluk sang mama sambil terisak.


Dan keesokan harinya, pagi hari di tempat lain dimana Byan dan Wandi berada. Mereka sedang tidur untuk beristirahat setelah perjalanan panjang yang dilalui mereka, sekarang mereka berada di apartemen milik Byan. Seperti yang diketahui, bahwa Byan memiliki banyak apartemen di setiap kota yang terdapat perusahaannya di sana.


Mereka berdua tidur begitu pulas hingga ponsel yang berdering dari ponsel Byan pun mereka tidak mendengarnya.


Dan sekarang, bukan lagi hanya deringan ponsel, tapi bel dari apartemen Byan terus berbunyi sedari tadi. Kali ini membuat Byan maupun Wandi terbangun dan bangkit dari tidurnya.


"Shittt, siapa sih!" teriak Byan dan Wandi bersamaan.


Mereka saling pandang. Rasa mengantuk masih dirasakan oleh keduanya. Tak ingin beranjak lebih jauh lagi untuk berjalan membuka pintu. Tak rela bila tidur mereka diganggu.


"Loe, buka pintunya sana!" perintah Byan dengan suara beratnya.


"Ogah, nggak usah dibuka. Palingan itu cewek loe yang datang," tolak Wandi hingga dia menjatuhkan tubuhnya kembali di kasur.


Mendengar itu, Byan pun menyusul menjatuhkan tubuhnya di kasur.


Ting tong ting tonggg


Belum juga berhenti bel berbunyi dari luar. Lama kelamaam bel itu berbunyi terus menerus, semakin kencang, hingga membuat berisik telingga kedua laki-laki yang tidur di dalam.


"Arghhh shitttt! Janeeeee, aku benar-benar gila dibuatnya," teriak Byan mengacak acak rambutnya setelah dia bangkit duduk dari tidurya.


Byan menoleh ke samping yang mendapati Wandi menutup wajahnya beserta telingga dengan bantal, merasa terganggu oleh bel itu. Wandi masih terlihat tidak ingin beranjak dari tempat tidur.


"Asisten durhaka, loe!!" umpat Byan menendang bokong Wandi.


Tak ada respon apapun dari Wandi, akhirnya Byan bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah pintu untuk menghentikan aksi Jane yang sudah merusak tidur nyenyaknya.


Ceklek


"Sayang, kau jahat sekali ke Indonesia tidak bilang padaku. Dan sekarang ke Amerika mendadak. Aku pikir kau akan pulang ke Paris. Makanya aku susul ke sini. Rencananya besok aku ke Indonesia jika kau tidak juga kembali," celoteh Jane tak dipedulikan oleh Byan yang malah berbalik dan melangkah dengan lesu menuju ke sofa.


Byan menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan memejamkan matanya.


"Sayang, aku meridukanmu. Kau malah tidur!" kesal Jane menjatuhkan bokongnya di pinggiran sofa samping Byan.


"Diamlah Jane. Aku ingin istirahat, aku lelah!" ujar Byan bernada lemas.

__ADS_1


"Ugh, menyebalkan!" geram Jane dan membiarkan Byan tertidur sejenak.


Sedangkan di tempat lain, di kediaman Atha. Sakha belum mau tidur jika belum melihat Byan ataupun mendengar suaranya. Karena sedari tadi sakha yang dibantu oleh Atha untuk menghubungi Byan, sampai sekarang belum juga ada jawaban dari sambungan teleponnya.


"Sakha ayo tidur dulu. Besok mau sekolah kan. Om Abi pasti lagi tidur sekarang. Besok pagi kita hubungi lagi om Abi. Ayo sayang, tidur ya!" dengan sabar dan lembut Atha membujuk anak sambungnya itu agar luluh.


Sakha pun mengangguk dengan wajahnya yang di tekuk. Dia merasa kecewa.


"Anak pintar," ujar Atha tersenyum sambil menyelimuti Sakha yang sudah terbaring di tempat tidurnya.


*******


Masih di apartemen, Jane pun setia menunggu Byan yang tertidur di sofa sambil membelai wajah kekasihnya itu dengan sangat lembut.


"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, sayang. Kau pria yang berbeda dari pria yang ku kenal. Aku sangat mencintaimu, Byan!" gumam Jane yang seketika mencium pipi Byan hingga jatuh ke bibirnya.


Cup


Ada pergerakan kecil dari Byan saat Jane menciumnya, hingga dia mengerjabkan matanya berkali-kali merasa tidak nyaman dengan sentuhan yang Jane berikan untuknya. Sangat mengganggu tidurnya.


"Jane, kau membuatku kesal," ujar Byan dengan suara serak khas bangun tidur lalu mengacak-acak rambutnya.


Dan semenjak bersama Jane yang menjadi kekasihnya, Byan bertekad untuk menjadi pria yang baik. Ya walaupun masih suka pergi ke club malam dan mencari hiburan di sana bersama wanita. Tapi kekasihnya hanyalah Jane satu-satunya.


"Bangunlah sayang," Jane memeluk Byan dengan berada di atas tubuhnya.


"Jane, tolong kondisikan. Aku sungguh mengantuk," Byan mencoba melepaskan tubuh Jane darinya.


"Bangun sayang, ini sudah siang loh. Sudah 3 jam aku menunggumu. Sangat membosankan!" sewot Jane dengan mengibas rambut panjangnya kesal.


Byan terbangun kala mendengar ucapan Jane.


"Astaga, aku lupa mengabari Sakha," Byan bangkit lalu menarik tangan Jane dan melihat jam di tangan kekasihnya itu.


Byan menghela nafasnya kasar kala melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Lalu mengurungkan niatnya menghubungi Sakha.


"Siapa Sakha?" tanya Jane memicingkan matanya kala mendengar nama yang asing baginya.


"Anakku!" Seru Byan santai, dia bangkit lalu berjalan ke arah dapur untuk minum.

__ADS_1


"Apa? Anak? Sejak kapan kau menikah? Aku kekasihmu, Byan. Kau menghianatiku, hah?" Jane pun menyusul Byan dan dia begitu marah.


Uhuk uhuk uhukkk


Alhasil, Byan terbatuk kala Jane memukul-mukul tubuhnya.


"Berhenti Jane, uhuk...uhuk! Sakha itu keponakanku," ungkap Byan pada Jane.


"Kalau begitu buktikan, kita pergi ke Jakarta sekarang!" pinta Jane mendesak.


Jane terlihat begitu marah lalu mengambil gelas minum dari Byan dengan paksa.


"Nanti, tunggu acara pertunangan kita di sana?" jawab Byan tiba-tiba.


"Apa? Per-tu-nangan kita?" tanya Jane terbata.


"Iya, bukankah ini yang kau inginkan?" ujar Byan.


Jane mengangguk bahagia.


"Iya, aku sangat menginginkannya," Jane memeluk Byan dan menciumnya.


Tanpa disadari, ada pasang mata yang melihat dan mendengar mereka berdua dari arah belakang, lalu mendekatinya.


"Hei, apa aku tidak salah dengar? Seorang Byan memegang prinsip tidak ingin menikah, ternyata sudah ingin dua kali meni....," ungkap Wandi tanpa sadar.


Eumptttt


Byan berbalik dan langsung membekap mulut Wandi yang kala sahabatnya itu hampir saja membocorkan rahasia Byan yang nyatanya seorang duda.


"Dua kali apa?" tanya Jane dengan aneh melihat tingkah dua lelaki di depannya.


"Dua...dua kali...harus kembali lagi ke Jakarta maksudnya, sayang. Maklum, si Wandi rada error karena efek bangun tidur," bohong Byan memberi alasan.


"Oh, aku kira yang kedua kalinya kamu ingin menikah," pikir Jane mengira.


Deg


Byan terpaku, karena tepat sekali apa yang Jane katakan.

__ADS_1


"Mampus loe!" ledek Wandi setelah melepas paksa tangan Byan dari mulutnya.


__ADS_2