Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Lupa Diri


__ADS_3

Kekhawatiran Jasmine tak kunjung reda setelah 3 hari berturut-turut tidak mendapati Atha di kediaman yang ditempatinya saat ini. Padahal yang Jasmine tahu bahwa Atha tidak dalam perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri. Lalu kemanakah Atha sang pemilik rumah yang sesungguhnya, yang sudah berbaik hati memberikan penginapan sementara baginya?


Sejak pertama Jasmine menginjakkan kakinya di kediaman Atha, sejak itulah pria itu tidak menampakkan batang hidungnya. Suaranya pun tidak terdengar oleh Jasmine apalagi melihatnya berlalu lalang di rumah mewah itu. Sungguh Jasmine bertanya-tanya dan sangat penasaran.


"Bi Narti, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Jasmine ketika bi Narti hendak membantu Jasmine berjalan untuk mandi ke kamar mandi.


Sengaja Atha memerintahkan bi Narti untuk mengurus Jasmine sebab Atha tak ingin jika hal buruk menimpa Jasmine apalagi kamar mandi adalah tempat sensitif bagi Jasmine yang kakinya masih sulit berjalan dan dalam keadaan mengandung pula.


"Non Jasmine mau tanya apa?" sahut bi Narti ramah.


"Sudah 3 hari aku tidak melihat tuan Atha berada di rumah ini. Lalu dia kemana, Bi?" tanya Jasmine ragu-ragu.


"Tuan ada diapartemennya, Non!"


Jasmine mengernyitkan dahinya dengan heran. Sedikit kaget dengan apa yang dikatakan bi Narti.


"Kenapa dia di sana, Bi?" tanya Jasmine antusias.


"Biasanya dia butuh waktu sendiri untuk melalukan pekerjaan atau bisa juga sedang menenangkan pikirannya, Non!" jawab bi Narti sepengetahuannya.


Sejatinya bi Narti tahu apa yang dilakukan oleh tuannya karena bi Narti telah diberikan kepercayaan penuh oleh Atha untuk mengurus semua kebutuhan rumahnya ketika Atha berada di luar. Itulah kenapa bi Narti tahu semua tentang Atha mulai dari jadwal kerjanya hingga aktifitasnya sehari-hari kecuali masalah pribadi tuannya. Bi Narti tak mau ikut campur.

__ADS_1


"Apa kepergian tuan Atha ke apartemennya karena aku tinggal di rumah ini, Bi?" tanya Jasmine merasa tak enak hati.


"Tidak seperti itu kok, Non!" sangkal bi Narti agar Jasmine tak menyalahkan dirinya.


"Mungkin saja, Bi. Karena sebelumnya memang tuan Atha menempatkan aku di apartemennya, lalu aku menolak dan justru malah tuan Atha yang di sana. Apa tuan Atha tidak ingin aku berada satu rumah yang sama dengannya? Aku jadi merasa bersalah," lirih Jasmine dengan penyesalan.


Jasmine sangat menyesal atas apa yang dilakukannya adalah salah karena telah melanggar aturan dalam agama, meminta Atha yang masih lajang satu rumah dengannya, wanita muda dengan status janda yang sedang hamil pula. Salahnya Jasmine yang baru menyadari bahwa Atha adalah lelaki muslim yang berpegang teguh pada ajaran agama.


"Jangan berpikir seperti itu, Non. Tuan Atha pasti kembali ke rumah ini, kok. Ini kan rumah milik tuan Atha. Yakinlah pada Bibi," Bi Narti terkekeh kecil sembari mengusap punggung Jasmine lembut mencoba meyakinkannya.


Jasmine mengangguk dan akhirnya tersenyum pada bi Narti dengan tulus. Begitu bahagianya Jasmine saat ini karena bi Narti sosok yang begitu ramah dan keibuan. Dia sangat merindukan kasih sayang ibunya.


"Oh iya, jadi lupa mau mandi," sahut Jasmine terkekeh penuh semangat sambil tertatih melangkah dengan hati-hati.


Setelah Jasmine selesai mandi lalu berpakaian santai dengan nyaman, masih ditemani oleh bi Narti yang setia menjaga Jasmine sesuai yang diperintahkan oleh tuannya, Atha Bamantara.


Mereka berdua duduk di pinggir ranjang sembari mengobrol dan bersenda gurau.


Tak lama kemudian, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh suara klakson mobil setelah beberapa hari ini mereka tak mendengarnya selama tuan Atha tidak menempati rumah itu.


Tin tin tin tin

__ADS_1


Canda tawa antara Jasmine dan bi Narti seketika berhenti, lalu mereka saling pandang, kemudian bi Narti berjalan ke arah jendela melihat mobil yang terparkir di halaman depan rumah.


"Non Jasmine, itu mobilnya tuan Atha!" seru bi Narti seketika menoleh ke arah Jasmine.


Sontak Jasmine berdiri begitu saja.


"Benarkah? Dia sudah pulang?" Jasmine begitu semangat.


Tanpa sadar Jasmine hendak berjalan ke arah jendela mendekati bi Narti. Namun tiba-tiba...


"Akhhhhh!" teriak Jasmine kesakitan.


Bi Narti seketika langsung menahan tubuh Jasmine yang hendak jatuh.


"Hati-hati, Non. Kaki Non masih sakit, kalau keseleo lagi kapan kaki Non sembuhnya. Inget, Non juga harus jaga baik-baik kandungannya," nasihat bi Narti perhatian.


Jasmine terpaku sejenak, dia berdetak ketakutan kemudian mengelus lembut perutnya, dia lupa jika semangatnya melihat Atha malah membuat dia lupa diri hingga hampir saja terjatuh melukai calon anaknya.


"Iya, terima kasih Bi Narti," ujar Jasmine dengan jantungnya yang berdebar cukup kencang.


"Huh, hampir saja. Tapi ... Tuan Atha, aku ingin melihat lelaki itu," batin Jasmine merasa kecewa karena belum sempat melihat Atha dari jendela kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2