Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Beri Aku Kesempatan Kedua


__ADS_3

Sesuai dengan perkataan Byan tempo hari kepada Jasmine, bahwa dia akan berada di dekat Sakha bahkan pekerjaan yang sering dia lakukan di berbagai perjalanan jauh ke luar negeri pun, sekarang tidak lagi Byan lakukan. Itu karena semata-mata Byan ingin selalu berada dekat Sakha. Byan merasa jika di dekat Sakha, maka semua kejenuhan dan kesedihan dirinya hilang.


Byan merasa kehadiran Sakha seolah mampu membuat setengah jiwanya hilang kini utuh kembali. Byan sangat bersyukur bahwa Sakha memang anugerah yang ditakdirkan untuknya menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi dan bersungguh-sungguh dalam bekerja untuk memenuhi tanggung jawab dirinya atas Sakha, sebagai anaknya.


Sekarang sudah 3 tahun terlewati, kehadiran Sakha yang selalu mewarnai hidup Byan sehari-hari dan membuat Byan selalu bersemangat. Dia pun seolah ingin memiliki Sakha. Terkadang juga Byan merasa cemburu karena hidup Jasmine, wanita yang dia cintai hidup bahagia bersama Atha dan Sakha. Rasanya Byan ingin merebut kebahagiaan mereka. Ya, salah satunya Sakha.


"Apa aku egois bila menginginkan Sakha? Kebahagiaan dirimu sudah lengkap, Jasmine. Kau mempunya suami yang baik seperti mas Atha. Kau juga memiliki Sakha dan Ziva. Lantas bolehkah aku memiliki Sakha saja? Setidaknya biarkan aku bahagia memiliki belahan jiwaku darimu, Jasmine!" gumam Byan lirih. Tanpa sengaja dia melihat Jasmine dan Atha sedang santai bersama Sakha juga Ziva di taman belakang kediaman Bamantara.


Betapa hatinya sakit dan hancur melihat kebahagiaan wanita yang dicintainya tertawa dengan lelaki selain dia.


Tak lama kemudian, Jasmine berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Dengan mengambil kesempatan, Byan mulai mengikuti Jasmine diam-diam ke dapur dan sesekali melihat ke belakang, berharap tidak ada orang yang melihatnya.


"Jasmine!" seru Byan.


"Astaga, kau mengejutkan aku. Kapan kau datang?" tanya Jasmine sembari memegangi dadanya akibat kaget.


"Bisakah aku memiliki Sakha? Kau sudah punya Ziva dari mas Atha, sedangkan aku hanya bisa berharap kebaikan dari dirimu saja. Apakah kau tidak merasa kasihan padaku? Aku selalu mengemis padamu terus, Jasmine," bujuk Byan dengan wajah memelasnya. Dia sungguh frustasi karena Jasmine tak pernah mengizinkannya berlama-lama berada dengan Sakha, apalagi untuk sekedar menginap di apartemennya sehari saja.


Jasmine tak peduli, dia malah sibuk menuangkan jus jeruk pada ke empat gelas di depannya.


"Jangan pura-pura tak mendengarku, Jasmine. Aku tahu kau masih kesal padaku. Kau juga sebenarnya masih cinta padaku, kan. Makanya kau gengsi dan memberi pelajaran padaku dengan cara yang nggak masuk akal gini, kan!" kata Byan dengan penuh percaya diri, dia masih beranggapan bahwa Jasmine mencintainya.


Jasmine tersenyum garing. Jasmine menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Untuk apa aku mencintai dirimu. Sedangkan suamiku lebih baik dari lelaki manapun," sahut Jasmine secara tak langsung membanggakan Atha di depan Byan.


"Apa kau sangat mengagumi sosok seperti mas Atha? Yang baik, rajin beribadah dan mengaji? Maka aku akan menjadi seperti dia. Jadi, apakah kau mau memberiku kesempatan kedua untuk memiliki kamu?" ucapan Byan serius apalagi matanya menatap Jasmine dengan tulus.


Jasmine menarik sudut bibirnya ke atas. Dia merasa Byan seperti bicara melantur. Byan akan berubah menjadi mas Atha? Emang bisa? Sikap Byan saja sudah mencerminkan keegoisan, lalu apakah ucapannya bisa di pegang? Hah, terlalu sulit buat Jasmine percaya padanya.


"Aku akan mencoba menjadi seperti mas Atha, percayalah!" ujar Byan bersungguh-sungguh tanpa memikirkan bagaimana dirinya saat ini. Dia seolah mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Jasmine.


Jasmine tak habis pikir jika Byan mempunyai sisi yang sangat rapuh, padahal dulu Byan terkenal dengan sikap masa bodoh dan licik semena-mena dengan orang lain. Sungguh tak bisa ditebak.


"Memangnya kau bisa menjadi mas Atha? Berapa lama kau akan jadi dia? Haruskah bertahun-tahun sampai Sakha besar?" tanya Jasmine mendominasi.


Byan terdiam. Dia tak bisa menjawab. Dia bingung dan tercekat. Sedangkan Jasmine hanya tersenyum kecil.


"Jika kau melakukannya demi seseorang karena nafsumu, maka keinginan kamu akan sulit kau dapat. Jika kau melakukannya karena Allah, bisa jadi kau akan mendapatkan yang kau mau. Itu pun jika aku memang jodohmu," kata Jasmine memberi sedikit pencerahan pada Byan. Berbekal ilmu yang diberikan oleh Atha. Jasmine sedikit bisa memahami ilmu agama.


Jasmine cuek saja, Hingga dia pun melangkah melewati Byan begitu saja. Dia tak mau menanggapi apa yang dibicarakan oleh Byan, apalagi tentang masalah pribadi mereka. Dan itu menyalahi aturan dalam rumah tangganya bersama Atha.


Byan menatap kepergian Jasmine dengan lirih, begitu sakit hatinya.


"Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan? Aku berdosa telah meminta Jasmine bersamaku, padahal wanita itu adalah istri saudaraku sendiri," Byan mengusap wajahnya dengan menyesal. Sungguh dia tidak ada niat untuk merusak rumah tangga saudara sepupunya itu.


"Bagaimana aku bertobat menjadi orang yang lebih baik, jika aku saja masih menginginkan istri orang lain," Byan menghela nafasnya dengan berat.

__ADS_1


Jalan pikiran Byan terasa buntu, hingga dia memutuskan untuk pergi dari rumah kediaman Atha dengan suasana hatinya yang buruk.


Dari kejauhan ternyata Atha melihat sekilas Abyan berjalan keluar dari dalam rumahnya. Lalu Atha melirik ke arah Jasmine yang nyatanya Jasmine bersembunyi menatap kepergian Byan. Rupanya sejak tadi Jasmine tidak benar-benar pergi, karena setelah beberapa langkah dia berbalik dan bersembunyi untuk melihat Byan yang masih di dapur.


Kemudian Atha berjalan mendekat ke arah Jasmine.


"Kau baru saja bertemu dengan Abi?" tanya Atha mengagetkan Jasmine.


"Eh, emm ... iya, tadi dia hanya menanyakan Sakha," jawab Jasmine sedikit gugup.


"Kau melarang Abi membawa Sakha jalan-jalan lagi?" tanya Atha kembali.


"Bukan itu, dia hanya menanyakan Sakha saja, tidak lebih!" sahut Jasmine mantap walaupun ada sedikit bumbu kebohongan darinya.


Atha menangkap wajah Jasmine yang tidak biasa, yaitu wajah yang seperti disembunyikan dengan guratan kecewa dan kekesalan bercampur wajah kerinduan dari cara Jasmine menatap kepergian Byan seolah tidak rela jika mantan suaminya itu pergi.


"Sorot matamu mengisyaratkan bahwa kau masih menyimpan rasa untuk Abi," batin Atha menatap lekat Jasmine di depannya.


Ekhem


Atha menetralkan suasana di antara mereka.


"Berilah izin Abi sesekali untuk mengajak Sakha keluar. Karena sejatinya mereka tidak akan pernah terpisahkan. Jika kau bersikap jahat pada Abi, itu sama saja artinya kau adalah wanita pendendam. Dan banyak orang yang akan salah paham dengan hal itu, termasuk aku!" peringat Atha pada Jasmine dibarengi dengan perkataan yang menyindir bagi Jasmine.

__ADS_1


Atha pun pergi dari hadapan Jasmine untuk kembali bersama anak-anak di taman.


"Tapi mas, aku tidak dendam kok!" sangkal Jasmine menyusul Atha di belakangnya.


__ADS_2