
Sakha yang sekarang tumbuh menjadi anak remaja. Dia bahkan yakin bisa menjadi seseorang yang berguna bagi orang dewasa ketika sedang mendapati masalah. Terlihat dari guratan kecemasan wajah Jasmine. Sakha yakin bisa menghibur sang ibu.
Sakha mendekati Jasmine di sofa, mata sang ibu bahkan tak sadar bila sudah ada anak lelakinya memeluk dirinya begitu hangat.
"Sakha, ada apa?" Jasmine kaget karena telah tampak anaknya bergelayut manja ditubuhnya.
"Mama yang ada apa? Kenapa Mama melamun? Mama ada masalah atau lagi berantem sama Papa?'' tanya Sakha cukup banyak.
"Hei, emang kapan kamu dengar Mama dan Papa berantem, hah?" tanya balik Jasmine.
Sakha lega saat Jasmine tersenyum dengan lebar.
"Emm ... nggak pernah sih. Tapi mungkin saja kalian berantem dengan suara hati masing-masing, jadi nggak kedengaran," sambil menaruh jari telunjuknya di kening, Sakha menerka-nerka jawabannya.
"Hahaha, mana ada yang seperti itu Sakha. Itu sih namanya suara batin," tawa Jasmine.
Sakha senang akhirnya dia berhasil membuat Jasmine tersenyum bahkan sampai tertawa.
"Jadilah ibu yang selalu ceria, kuat, sabar dan selalu mendukung apa yang menjadi impian anak-anaknya, seperti ke Amerika," Sakha memegang kedua tangan Jasmine dengan belaian lembut.
__ADS_1
"Ma-maksud kamu ... kamu setuju apa yang diinginkan oleh kakekmu? Sakha akan meninggalkan Mama ke Amerika, hah?" mata Jasmine berkaca-kaca. Sungguh dia tidak menyangka bahwa Sakha akan memihak Darwish.
Ya, setelah pertemuan keluarga Atha ke rumah utama Wiratama, di saat itu pula Atha dan Jasmine membicarakan hal-hal yang apa diinginkan oleh Darwish. Tidak dipungkiri, memang secara garis keturunan, Byan dan Darwish memang mempunyai hubungan darah dengan Sakha. Maka Atha dan Jasmine mengambil keputusan dengan mengatakan hal yang Darwish inginkan.
"Sakha tidak akan meninggalkan Mama. Bukankah di sini ada Papa dan Ziva? Mama tenang saja, Sakha janji tidak akan nakal dan jadi anak yang tetap berbudi pekerti baik selama di Amerika sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Papa dan Mama," Sakha mencoba membujuk Jasmine.
Air mata Jasmine kini sudah membasahi pipinya. Sungguh dia tidak rela jika Sakha tinggal bersama Byan dan Darwish hidup bersama. Apalagi mengingat Byan yang dahulunya tidak menginginkan Sakha lahir di dunia. Betapa sakitnya hati Jasmine.
"Ma, jangan nangis dong. Sakha nggak mungkin lupa sama Mama saat di Amerika nanti, karena Sakha sayang sama Mama, papa dan Ziva," Sakha mengusap air mata Jasmine, lalu memeluknya.
Dari arah samping, Atha melihat diam-diam perbincangan antara anak dan ibu yang membuatnya terharu. Atha tak bisa berkutik, apalagi menyangkut keinginan Sakha. Bagaimanapun Atha selalu mendukung keputusan anak sambungnya walau sebenarnya Atha juga berhak atas Sakha.
"Saat kamu tahu sebenarnya tentang kebenaran statusmu, aku harap kau selalu menyayangi dan menganggap aku sebagai ayahmu, Sakha!" gumam Atha lirih.
Dan hari ini, saatnya Sakha berangkat ke Amerika bersama Darwish dan Byan tentunya. Byan tak ingin kehilangan kesempatan untuk menciptakan moment penting bersama Sakha sampai batas waktu yang diizinkan oleh Jasmine.
"Ingat, jangan pernah kamu menyakiti anakku sekecil apapun. Dan jangan pernah kamu ataupun papi kamu mengatakan soal kebenaran tentang Sakha," tegas Jasmine mengingatkan Byan.
"Nanti, saat waktunya tepat kita akan mengatakan kebenarannya bersama-sama!" lanjut Jasmine yang hendak pergi meninggalkan Byan.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" cegat Byan menarik lengan Jasmine tanpa sengaja.
Jasmine melotot ke arah lengannya yang ditarik Byan.
"Maaf, emm ... terimakasih karena kamu sudah mengizinkan Sakha tinggal bersamaku walau hanya sebentar," ucap Byan, pelan-pelan melepaskan pegangan tangannya dari lengan Jasmine.
"Sebentar? Bagi kamu itu sebentar. Tapi bagiku satu tahun itu lama, apalagi berpisah dengan anak yang dari aku kandung hingga sebesar sekarang ini. Jadi jangan kamu anggap berpisah dengan Sakha itu mudah dan sebentar. Karena kamu nggak pernah tahu gimana rasanya membesarkan seorang anak tanpa ayah kandungnya," lirih Jasmine benar-benar kecewa atas ucapan Byan yang menganggap remeh dirinya.
"Maaf, aku sudah membuatmu jauh dari Sakha. Tapi aku janji akan menjaganya dengan baik," sesal Byan, dia pun juga berjanji pada Jasmine.
"Ya, itu memang tugasmu jadi seorang ayah," tekan Jasmine sedikit ketus.
Jasmine pun melangkah pergi meninggalkan Byan begitu saja, memilih menghampiri Atha dan Sakha serta Darwish yang sedang berbicara.
"Bisakah nada suaramu sedikit lembut padaku, Jasmine?" Byan merasa tidak nyaman dengan keadaan hubungannya pada Jasmine yang semakin hari semakin tidak akur.
Jasmine tak mempedulikan perkataan Byan walaupun Jasmine menyesali sikapnya memang tidaklah baik pada sang mantan suami sirinya itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak ingin terperangkap kembali ke masa lalu dalam jeratan pesonanya Byan Wiratama yang dia yakini masih tersimpan setengah perasaan dihatinya.
Byan menatap sayu kepergian Jasmine dengan hati yang teramat sakit dan terluka seperti saat dulu pertama kali dia meninggalkan Jasmine. Sungguh dia menyesali perbuatannya di masa lalu.
__ADS_1
"Cih, apa aku pantas meminta kebaikan pada Jasmine, padahal aku sudah banyak memberikan luka padanya," gumam Byan tersenyum kecut, dia sungguh menyesal.