
Di kediaman Atha, begitu tampak sepi. Hanya ada para pelayan yang hulu hilir mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Begitu juga dengan bi Narti yang sibuk mengurusi keperluan Atha setiap paginya seperti pakaian hingga sarapan. Bi Narti sangat telaten mempersiapkan itu semua seolah Atha bagai anaknya sendiri. Atha juga menganggap bi Narti sebagai ibu kandung sendiri.
"Silahkan dimakan sarapannya, Tuan!" ucap bi Narti saat tengah menghidangkan makanan di atas meja.
"Ya makasih Bi," sahut Atha sambil tersenyum ramah.
Atha mulai memakan sarapannya dengan santai. Tapi sesekali dia melirik-lirik di sekelilingnya. Tujuannya agar mempermudah Atha mendapati keberadaan Jasmine. Karena kejadian tempo hari yang selalu membuat atha kaget setiap kali Jasmine tiba-tiba menyapanya dari arah yang tak disangka-sangka. Dengan begitu Atha mempersiapkan dirinya jika keberadaan Jasmine telah diketahuinya lebih dulu.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Tapi Atha tidak melihat wujud Jasmine di sekitarnya. Atha menjadi heran.
"Bi, aku berangkat ya?" ujar Atha yang sudah bangkit dari kursi saat bi Narti menaruh buah-buahan di atas meja.
"Eh, iya ... Hati-hati, Tuan!"
Atha pun menjawab dengan anggukan.
"Oh ya, Bi ... emm Jasmine belum ke luar dari kamarnya?" tanya Atha yang sedikit ragu menanyakan Jasmine pada bi Narti.
"Belum Tuan. Non Jasmine mengeluhkan kakinya sedang ngilu, Tuan!" ungkap Bi Narti.
__ADS_1
Atha memicingkan matanya sebelah lalu menaikan sudut bibirnya tersenyum tipis.
"Apa wanita itu takut jika aku suruh pindah ke apartemen hingga dia beralasan kakinya sakit kembali?" batin Atha menebak tapi sesungguhnya tebakkan dia sangat benar.
"Astagfirullahal'adzim, mikir apa aku ini," Atha langsung menepis pikiran buruknya.
Tak lama kemudian Atha melangkah ke luar dari rumah menuju mobilnya pergi ke kantor.
Bukan hanya dermawan tapi Atha merupakan orang yang baik hati dan tulus. Atha tak pernah sekalipun memaki para pelayan di rumahnya. Atha juga terkadang memberikan bonus gaji bulanan kepada para pelayannya. Makanya para pelayan yang bekerja dengan Atha sangat betah bekerja dan tinggal di kediaman Atha.
Jika mereka sudah betah di rumah mewah Atha maka mereka sangat rugi meninggalkan rumah itu. Karena bagi mereka rumah itu mempunyai ketenangan sendiri yaitu setiap harinya terdengar suara lantunan ayat suci Alqur'an yang merdu.
Ternyata Jasmine pun sama halnya dengan para pelayan di sana. Bahkan Jasmine lebih parah, dia pernah sembunyi-sembunyi mendengarkan Atha mengaji di balik pintu kamar Atha.
Satu hari pukul 03.00 dini hari Jasmine merasa haus dan dia akhirnya berjalan dengan pelan ke dapur untuk mengambil minum. Terdengarlah dengan samar-samar suara lantunan ayat suci Alqur'an yang indah di telinganya, lalu dia mengendap-endap menaiki tangga ke arah kamar Atha.
Saat itu, Atha yang kembali setelah 3 hari menginap di apartemennya, saat itu pula pertama kali Jasmine mengetahui kelebihan Atha yang pandai mengaji apalagi suaranya yang begitu merdu. Seketika keresahan hati Jasmine berubah tenang saat mendengar Atha melantunkan ayat suci Al-qur'an.
Itulah alasan yang lainnya selain Jasmine menghindari dirinya dari kejaran kakak tirinya. Tapi juga alasan Jasmine tidak ingin pindah dari kediaman Atha karena Jasmine berpikir bahwa dia merasa aman jika tetap tinggal di rumah Atha dengan mendengar suara Atha mengaji. Hati yang gelisah menjadi tenang dan tentram.
__ADS_1
Dan saat ini, Jasmine yang sedari tadi sebenarnya telah lama ke luar dari kamarnya. Dia bersembunyi saat mendapati Atha menanyakan dirinya pada bi Narti.
"Huft, Atha menanyakan aku. Pasti dia akan bahas pemindahan aku ke apartemennya," gumam Jasmine lirih.
Rupanya Jasmine sedari tadi pula diam-diam mengintip dan menguping di balik tembok pembicaraan Atha dengan bi Narti di ruang makan. Wanita itu kebiasaan sekali dengan hal yang buruk seperti itu.
Malam hari, setelah Atha selesai dari sholat isya, entah kenapa pikirannya begitu tak tenang dengan keadaan Jasmine yang seperti dikatakan oleh bi Narti bahwa kakinya bermasalah kembali. Atha khawatir semata-mata rasa tanggung jawabnya pada Jasmine. Yang Atha inginkan hanyalah Jasmine sembuh dan kembali berjalan dengan normal.
Atha menuruni tangga menuju kamar Jasmine. Niatnya ingin menemui Jasmine setelah makan malam selepas sholat magrib, tapi tiba-tiba saja rasa khawatirnya begitu kuat hingga Atha menemui Jasmine selepas sholat isya.
Tok tok tok
"Masuk saja Bi Narti, pintunya nggak dikunci kok!" seru Jasmine yang dia kira adalah bi Narti.
"Ini aku, Atha!" sahut Atha dari balik pintu.
Deg
Jasmine membelalak kaget. Dia benar-benar panik saat ini. Seketika dia bangkit berdiri dari ranjang.
__ADS_1
"Aduh gawat, gawat, gawat. Aku harus gimana? Aku belum punya persiapan. Aku harus berakting gimana, nih? Jangan sampai Atha menyuruhku untuk pindah ke apartemennya sekarang. Aghhhh!" gumam Jasmine frustasi mencari ide sembari menggigit jari-jari tangannya was-was.