Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Buatkan Sarapan


__ADS_3

Pagi hari, tepat saat dering ponsel Byan berbunyi cukup nyaring, membuat Byan kala itu terbangun dari tidurnya. Seketika tangan kanannya menggapai ponsel miliknya di atas nakas dan melihat nama di layar ponsel tersebut.


Byan menjawab panggilan telepon dengan mata yang masih mengantuk.


"Ini masih pagi. Saya tahu hari ini ada pertemuan penting jam 10, kan? Tenang saja, saya akan ke kantor tepat waktu, kok. Jadi jangan telepon saya terus, paham!" ujar Byan tanpa menjeda kalimatnya dengan kesal tanpa mendengar perkataan sang penelepon.


Byan langsung mematikan panggilan telepon itu lalu menaruh ponselnya di atas nakas kembali.


Byan mengalihkan pandangan ke arah Jasmine yang kepalanya berada di atas lengan kiri Byan. Wajah Jasmine begitu teduh dan pulas tertidur dengan nafas yang teratur.


"Loe masih tertidur dengan nyenyak padahal kita tidak melakukan permainan, dasar kancil loe!" gumam Byan tersenyum sambil mengusap-usap puncak kepala Jasmine.


Ada rasa tenang saat melihat wajah Jasmine yang tertidur begitu pulas. Ada rasa tertarik Byan pada Jasmine. Bagaimana tidak, Jasmine lah wanita satu-satunya yang paling berani menjebak Byan hingga mereka menikah siri. Byan pun masih tak percaya bila dirinya sekarang adalah lelaki yang sudah beristri.


"Hei kancil, bangun. Bangun woi, apa loe akan terus-terusan tidur di bawah lengan gue. Ayo cepetan bangun!" Byan menusuk-nusuk pipi Jasmine membangunkan wanita itu.


Jasmine mengerjap-ngerjabkan matanya perlahan.


"Ayo bangun. Enak bener ya loe tidur di lengan gue sampai lengan gue sakit gini," ujar Byan yang menarik pelan lengannya dari bawah kepala Jasmine.


"Jasmine, cepetan bangun. Loe cuci muka atau mandi gih, lalu buatin gue sarapan!" perintah Byan yang telah bangkit duduk di ranjang.


Jasmine yang masih berbaring di ranjang masih belum merespon perintah Byan.


Byan pun menoleh ke arah Jasmine yang masih melanjutkan tidurnya.


"Yeee masih tidur, loe. Ayo cepetan bangun dan buatin gue sarapan. Gue lapar, gue mau ke kantor!" Byan menarik tangan Jasmine untuk duduk pula.


"Aghhh, Byan ... gue masih ngantuk!" kata Jasmine ketus.


"Loe itu istri gue, jadi loe harus layani gue dong. Loe yang sudah buat kita menikah, jadi loe harus tanggung jawab sebagai istri gue, paham!" tegas Byan mengingatkan.


"Ayo cepetan bangun. Bukankah sudah gue katakan bahwa loe harus nurut sama gue," ujar Byan mengingatkan kembali.


Seketika Jasmine mulai tersadar dan mengingat jelas apa yang telah dikatakan oleh Byan bahwa dia akan menurut pada suaminya itu. Kalau tidak, maka Jasmine mungkin sudah habis oleh Byan, pikirnya.


"Iya, iya gue bangun. Gue nggak pinter masak. Pesan makanan online saja seperti biasa," ujar Jasmine yang telah menginjakkan kakinya di lantai menatap Byan di depannya.


"Nggak pinter masak bukan berarti nggak bisa masak, kan? Lagian nggak bagus pesan makanan online terus. Gue ingin istri gue yang buat sarapan untuk gue. Sudah cepetan!" pinta Byan tak sabaran karena lapar.


"Ya sudah, tapi loe jangan marah jika masakan gue nggak enak!" ujar Jasmine.

__ADS_1


"Iya, apapun masakan yang loe buat pasti gue makan. Seorang suami harus menghargai masakan istrinya, iya kan!" kata Byan seakan membuat Jasmine bersemangat untuk menjalankan permintaannya.


Jasmine tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh suami sirinya itu.


Jasmine berbalik dan hendak menuju kamar mandi.


"Jasmine!" Byan menghentikan langkah Jasmine.


Jasmine pun berbalik menghadap Byan kembali.


"Kemari sebentar!" pinta Byan yang menepuk ranjang di dekatnya menyuruh Jasmine mendekatinya.


Jasmine heran tetapi perlahan mendekati Byan lalu duduk di samping suaminya.


Cup cup cup


Byan mengecup kening, pipi dan terakhir mencium bibir Jasmine sekilas.


Jasmine kaget hingga bengong tak berkedip menatap wajah Byan.


"Itu sebuah kecupan penyemangat untuk istri penurut seperti loe," ujar Byan tersenyum.


Byan lebih mendekat ke arah jasmine.


Jasmine salah tingkah, matanya dia tundukkan ke bawah. Jasmine yakin pasti wajahnya sekarang berubah menjadi merona.


Byan tersenyum geli melihat tingkah Jasmine yang malu-malu. Byan pun mengelus puncak kepala Jasmine lembut.


"Kalau loe sudah seselai masak, panggil gue di kamar gue. Kali ini gue izinin loe masuk ke kamar gue!" Byan bangkit berdiri lalu berjalan ke luar dari kamar Jasmine menuju kamar pribadinya sendiri.


Jasmine tersenyum-senyum sendiri. Dia merasa jantungnya berdebar.


Jasmine pun langsung ke kamar mandi mencuci mukanya, setelah itu dia turun ke dapur untuk memasak sarapan. Sementara dia akan memasak makanan yang paling mudah dan paling jago dia masak.


Jasmine paling suka memasak omlet yang dia buat saat dia bosan dengan makanan yang dibuat oleh pelayan di rumahnya dulu. Bukan hanya itu saja, karena omlet adalah masakan yang paling mudah dibuat, makanya Jasmine memasukkan omlet sebagai makanan favoritnya. Omlet yang dibuat Jasmine pun sangat lezat dan sangat digemari oleh keluarganya termasuk kakak tirinya.


Tidak menunggu waktu lama, Jasmine telah selesai memasak omlet sebagai sarapannya. Sementara, Byan sudah sangat lapar, dia pun langsung melangkah ke dapur tanpa menunggu Jasmine memanggilnya.


"Masak apaan?" tanya Byan tiba-tiba muncul saat Jasmine menghidangkan sarapannya di atas meja makan.


"Lihat sendiri, hanya itu yang bisa gue masak!" sahut Jasmine.

__ADS_1


Byan menatap masakan Jasmine di meja makan.


"Omlet, hemm ... kalau ini sih semua orang juga bisa masak, apalagi gue. Kirain loe masakin gue sarapan yang amazing, gitu!" ucap Byan sedikit meremehkan Jasmine.


"Kalau nggak suka, nggak usah dimakan!" ketus Jasmine.


"Noooo ... kan sudah gue bilang, apapun yang loe masak pasti gue makan. Ya, semoga masakan loe nggak mengecewakan!" ujar Byan berharap.


Byan meraih kursi untuk dia duduk, lalu Byan mengambil sedikit omlet dari piring yang disediakan oleh Jasmine, kemudian dia santap omlet itu dengan satu suapan. Dia mengunyah makanan itu begitu santai sampai kunyahan dimulutnya itu tertelan habis.


"Good, nggak mengecewakan. Omlet yang sangat lezat!" puji Byan sembari mengunyah makanannya dan menganggukkan kepalanya.


Jasmine tersenyum kecil ketika Byan memujinya. Dia merasa Byan begitu menghargai apa yang Jasmine masak walaupun masakan itu ala kadarnya dan sederhana.


"Gue akui omlet buatan loe termasuk daftar menu favorit gue sekarang. Lihatlah, gue menghabiskan omlet loe ini," Byan memperlihatkan piring yang telah kosong kepada Jasmine.


Jasmine tersipu malu berkat pujian oleh Byan. Padahal dia tahu bahwa omlet buatannya dulu sangat dipuji-puji keluarganya dan dia menganggapnya biasa saja, tapi berbeda saat Byan memuji omletnya, Jasmine merasa sangat bahagia dan tersanjung.


"Gue berangkat ke kantor sekarang. Hati-hati dan ingat pesan gue kemarin!" Byan mengingatkan Jasmine pada kejadian di ruangan rahasia pribadinya yang tak boleh masuk tanpa izinnya.


"Iya, Gue ingat kok!" sahut Jasmine merespon cepat.


Byan mendekati Jasmine lalu memeluk Jasmine kemudian mengecup bibirnya.


"Gue minta loe jangan menolak permainan kita malam ini nanti," pinta Byan penuh harap.


"Gue usahain pulang cepat agar bisa menuntaskan permainan kita semalam yang tertunda," jelas Byan menambahkan sembari mengecup pipi dan bibir Jasmine berkali-kali.


Cup cup cup cup


"Gue pasti kangen sama loe, kancil. Ya sudah, gue ke kantor sekarang!" Byan berbalik hendak melangkah ke luar apartemen.


"Hei, tunggu! Maksud loe kancil siapa?" tanya Jasmine heran.


Byan memandang Jasmine dari atas kepala hingga ujung kaki lalu menunjuk tangannya ke arah Jasmine.


"Ya, siapa lagi kalau bukan Eluuuu!" tegas Byan menekan kata diakhir kalimatnya.


"Whatttt ... gue kancil?" Jasmine melongo.


Byan mengangguk dan mengedipkan matanya genit pada Jasmine.

__ADS_1


Byan pun langsung bergegas pergi meninggalkan Jasmine, karena dia tidak ingin mendengar omelan istrinya yang panjang lebar.


"Hei, Byan ... loe nggak bisa seenaknya saja ngatain oranggg!" teriak Jasmine sambil menatap kepergian Byan dengan rasa kesal.


__ADS_2