
Setelah pulang dari masjid pada syukuran 4 bulanan kehamilan Jasmine, wajah wanita itu berseri-seri dan tersenyum bahagia. Hatinya begitu senang setelah calon anaknya dido'akan oleh banyak orang.
Jasmine tak berhenti menatap dan mengelus perutnya. Walau dia agak sedikit pegal dikakinya sebab terlalu banyak duduk, selain itu dia juga ikut membaca Surah Maryam dan Surah Yusuf di syukuran 4 bulanan tersebut.
Jasmine beristirahat sejenak di sofa ruang tamu. Sengaja dia berada di sana karena punya maksud dan tujuan, tentunya. Dia celingak celinguk di sekeliling ruangan itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Biasanya Atha sudah pulang ke rumah tapi nyatanya Atha tak kunjung pulang karena terlihat dari halaman rumah tidak ada mobil milik Atha di sana. Cukup lama Jasmine menunggu lelaki itu hingga dia ketiduran di sofa.
"Duh, Non Jasmine tidur. Ini sudah sore. Seharusnya dia mandi," gumam bi Narti yang niatnya ingin membangunkan Jasmine tapi dia urungkan karena tak tega melihat Jasmine yang terlihat lelah.
Bi Narti pun ikut duduk di samping Jasmine untuk menjaganya.
Tak lama Atha pulang ke rumahnya dan dilihatnya kedua wanita yang tak asing lagi sedang tidur di sofa ruang tamu.
Nyatanya bi Narti bukan hanya ikut duduk di dekat Jasmine melainkan ikut tertidur pula di sofa bersama Jasmine.
Atha mendekat ke arah dua orang yang tertidur pulas itu.
"Mungkin mereka kelelahan sedari syukuran di masjid," gumam Atha.
Sekejab mata Atha memandang wajah Jasmine yang sedang terpejam itu. Wajah yang tenang saat tertidur dan auranya terpancar indah saat Jasmine memakai jilbab. Atha tersenyum kecil melihat perubahan Jasmine.
"Wanita ini cantik bila berjilbab," gumam Atha tanpa sengaja menatap lekat Jasmine.
"Astagfirullahal'adzim, apa-apaan aku ini!" seketika Atha mengusap wajahnya tersadar bahwa pandangan matanya telah membuatnya berdosa.
Ekhem
Atha sengaja berdehem cukup keras untuk membangunkan dua orang wanita yang tertidur di sofa itu.
Atha berdiri dengan hanya menatap ke arah bi Narti saja.
Tak lama bi Narti pun terbangun dan tersadar ada sosok lelaki yang berdiri menatapnya, kemudian wanita paru baya itu bangkit.
__ADS_1
"Tuan, sudah pulang. Maaf saya ketiduran di sofa," ucap bi Narti penuh sesal sambil menundukkan kepalanya.
"Non Jasmine, bangun! Ini hampir magrib Non!" bi Narti menggoyang-goyangkan tubuh Jasmine dengan sangat pelan untuk membangunkannya.
"Hemm...," Jasmine hanya bersuara tapi dia enggan membuka mata.
"Hei, ayo Non bangun. Non harus mandi, nanti keburu magrib loh!" bi Narti tak henti membangunkan Jasmine yang sulit dibangunkan itu.
Ekhem
Atha kembali mengeluarkan suara deheman dengan lantangnya kali ini.
Dan akhirnya Jasmine membuka matanya mendengar suara khas pria yang sering dia dengar.
Jasmine menatap wajah Atha dengan nanar karena belum sepenuhnya Jasmine terbangun dengan sadar.
Jasmine tersenyum senang, hingga tiba-tiba pandangan mata Jasmine berhalusinasi dengan sosok wajah yang pernah mengisi hatinya dulu.
"Byan...," gumam Jasmine dengan sangat pelan hingga tak terdengar oleh siapapun, Atha maupun bi Narti.
"Kamu sudah kembali? Aku merindukanmu!" ujar Jasmine tanpa sadar memeluk tubuh Atha begitu saja yang dia kira Atha adalah Byan.
"Tolong jangan pergi lagi, ya please!" ujar Jasmine kembali.
Deg
Atha melongo tanpa bicara satu kata apapun. Dia ingin mendorong Jasmine tapi dia ingat bahwa Jasmine sedang hamil. Dia tidak ingin sampai menyakiti Jasmine.
Sedangkan bi Narti, dia tercengang melihat dua sepasang wanita dan pria berpelukan di hadapannya. Dia bingung akan melakukan apa, karena dia tahu bahwa Atha sang majikannya itu selama ini tidak pernah bersentuhan dengan wanita mana pun apalagi berpelukan seperti itu.
Serrr
Jantung Atha tiba-tiba bedegup cukup kencang. Baru kali ini dia merasakannya. Entah kenapa tubuhnya merespon tubuh Jasmine dengan kehangatan. Apalagi wangi parfum Jasmine yang benar-benar menggoda iman. Tapi Atha tak ingin hasratnya malah membuatnya tambah berdosa lagi.
__ADS_1
"Jas, lepaskan aku!" ucap Atha bersuara pelan sekaligus mencoba melepaskan tubuh Jasmine dengan hati-hati.
Jasmine masih nyaman memeluk tubuh Atha tanpa sadar.
"Bi Narti, tolong saya!" pinta Atha meminta bantuan.
"I-iya Tuan!" gugup bi Narti.
Bi Narti menarik punggung Jasmine dengan sangat pelan agar tak menyakiti wanita yang sedang hamil itu.
"Non Jasmine, lepaskan Tuan Atha!" ujar bi Narti.
Dengan sekuat tenaga Atha juga bi Narti, akhirnya terlepas juga pelukan Jasmine pada Atha.
Jasmine berdiri tegak dengan benar masih menatap Atha dengan pandangan halusinasinya sembari tersenyum lebar. Tapi tiba-tiba senyuman itu memudar perlahan kala matanya mulai melihat dengan jelas wajah yang ada di depannya.
"Ka-kau ... jadi tadi yang aku peluk itu...," Jasmine gugup dan menggantungkan ucapannya.
"Ya, aku Atha!" seru Atha memotong kalimat Jasmine.
Jasmine mengalihkan pandangannya ke arah bi Narti. Lalu bi Narti mengangguk mengiyakan.
Seketika Jasmine menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Arghhhhh...!" Teriak Jasmine menggemparkan sekeliling rumah.
Atha dan bi Narti terkejut dibuatnya.
"Non Jasmine tidak apa-apa?" tanya bi Narti menjadi panik.
Sedangkan Jasmine masih dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya merasa sangat malu.
"Arghhhhh...!" Jasmine berteriak kembali untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Jasmine berbalik dan berjalan cukup cepat ke arah kamarnya meninggalkan Atha dan bi Narti yang mematung di ruang tamu.