
Sakha bangkit lalu memeluk tubuh lelaki yang dia sebut om itu. Dia hanya tahu Byan sebagai pamannya bukan sebagai ayahnya, begitu juga dengan Atha. Hanya Jasmine lah yang tahu karena dia menutup rapat rahasia itu sampai saat ini.
Sakha menangis dipelukan Byan dengan sesegukan, sesekali terbatuk karena tangisannya itu. Semua orang di sana tak tega melihat Sakha yang segitu tak relanya berpisah dengan Byan yang baru saja dikenalnya.
"Om Abi tidak boleh pergi. Om Abi harus tinggal di sini, nggak boleh pergi kemana-mana, hiks...hiks...!" tangisan Sakha sungguh pilu, bagaikan seorang anak yang akan ditinggal tugas oleh sang ayah.
Byan tertegun dan langsung memberi pengertian pada Sakha.
"Om harus pulang, ada banyak pekerjaan yang Om tinggal di sana. Kita bisa video call nanti, oke!" bujuk Byan.
"Nggak mau, pokoknya nggak boleh pergi," Sakha mengeratkan pelukannya semakin erat pada Byan.
Byan meringis kesakitan, lalu mencoba melepaskan tangan Sakha dari pelukannya dengan pelan.
"Hei dengar Sakha, nanti kalau Om nggak pulang, kakek Darwish marah loh," Byan beralasan.
Sakha mendongak menatap Byan.
"Kalau begitu, Sakha ikut Om saja ke Amerika," ucap Sakha meminta.
Semua orang yang berada di ruang makan terkejut, apalagi Jasmine saat mendengar ucapan Sakha. Jasmine menatap Atha untuk meminta suaminya itu memberikan pengertian pada Sakha.
Tak ingin berlama-lama, Atha pun bangkit lalu berjalan mendekati Sakha yang sejak tadi belum ingin melepaskan pelukannya pada Byan.
"Sakha dengerin Papa, Nak. Di Amerika itu Om Abi kerja, sayang. Nanti juga balik lagi ke sini. Lagian, kalau Sakha ikut Om Abi, lalu siapa yang akan menjaga Mama dan adik Ziva kalau Papa kerja di luar kota, hem?" bujuk Atha sambil mengusap rambutnya dengan lembut.
Sakha menoleh menghadap Atha dengan isak tangisnya yang belum berhenti.
"Kalau Sakha ikut Om Abi, nanti adik Ziva tidak ada temen main. Mama akan sedih, Papa juga pasti kangen sama Sakha. Papa cemburu loh kalau Sakha lebih sayang sama om Abi," canda Atha sambil mengukir senyum.
Sakha melepaskan pelukannya dari Byan perlahan. Lalu beralih menatap Jasmine dan Ziva. Dia juga tidak ingin bila berpisah dengan mama dan adik serta papanya.
"Kakak kok nangis? Kayak perempuan, hehehe!" ledek Ziva tertawa dengan ucapannya yang masih cadel.
"Tuh malu sama adiknya," ujar Atha yang kini beralih menggendong Sakha.
__ADS_1
"Tapi janji Om Abi bakal pulang lagi ke sini, kan? Nggak lama-lama di sana, kan?" tanya Sakha lagi, dia masih tak percaya.
"Ya pasti lah. Om Abi kan punya rumah di kota ini, sayang!" Byan kali ini memastikan agar Sakha percaya.
Dan akhirnya, Sakha pun tenang, dia tidak menangis lagi. Sakha bisa luluh dengan perkataan dua orang lelaki dewasa yang menyandang status sebagai ayah dan pamannya itu. Padahal nyatanya keduanya adalah sama-sama berstatus ayah bagi Sakha.
*******
Hari ini adalah hari keberangkatan Byan ke Amerika. Atha berjanji akan mengajak Sakha untuk mengantarkan keberangkatan Byan di bandara. Kini bukan hanya Sakha tapi juga Jasmine dan Ziva ikut mengantarkan Byan di Bandara.
"Mas, terima kasih sudah mengantarkan aku ke bandara padahal kerjaanmu masih banyak di kantor," ucap Byan merasa tidak enak.
"Kau tahu sendiri jika aku sudah berjanji pada Sakha. Nanti anak itu akan mengamuk dan tidak tenang kalau belum mengatakan salam perpisahan padamu," ujar Atha sambil melirikan matanya pada Sakha yang kini sudah berada di gendongan Byan.
Mereka masih berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan seseorang, karena Byan tidak pergi sendirian. Dia akan berangkat bersama sahabat kentalnya, yakni Wandi. Kemanapun Byan tinggal pasti Wandi akan selalu menemaninya sebagai asistennya sekaligus sahabatnya.
"Hallo, pada nungguin gue ya? Maaf, maaf, biasa macet di jalan," Wandi datang memecahkan suasana kebersamaan keluarga Wiratama itu.
"Ah, gaya loe. Pasti loe bangun kesiangan!" ledek Byan.
Sejurus kemudian, mata Wandi langsung tertuju pada Sakha dalam gendongan Byan.
"Wah, ini anak mirip banget mukanya sama loe, Byan. Sebelas dua belas emang, luar biasa!" Wandi sampai heran dibuatnya.
"Ya lah, ponakan gue," sela Byan.
"Hamil apaan loe Jasmine bisa ngelahirin anak yang mirip sama Byan? Apa loe pas hamil Sakha ngebayangin wajah....," ucap Wandi yang terpotong.
"Ssttt," Byan melotot ke arah Wandi mengkode agar sahabatnya itu berhenti mengoceh sedari tadi.
Wandi terdiam dan langsung melirik Jasmine dengan pandangan kikuk.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara pemberitahuan bagi keberangkatan menuju Amerika. Sakha yang sedari tadi betah dalam gendongan Byan, tak mau lepas. Dan sekarang Byan maupun Atha harus membujuk bocah kecil itu kembali.
"Sakha, turun ya sayang. Om Abi harus masuk pesawat sekarang," ucap Byan dengan sabar dan lembut.
__ADS_1
Namun Sakha memeluk leher Byan seolah tidak mau melepaskannya. Sakha malah menangis dengan kencang.
"Huaaa...hiks...hiks, Om Abi nggak boleh pergi," Sakha menangis terisak.
Atha pun membujuk Sakha sambil meraih tubuh Sakha. Tapi malah Sakha berontak padahal sebelumnya Sakha sangat luluh pada Atha dengan kata-kata lembutnya.
"Kenapa perasaanku tidak enak dengan tingkah Sakha yang berlebihan seperti ini pada Abi, padahal mereka belum lama kenal," batin Atha dengan heran.
Begitu sulit Sakha dikendalikan oleh dua lelaki dewasa itu.
"Baru kali ini aku merasakan perasaan yang tidak biasa dengan tingkah anak sekecil Sakha. Kenapa aku juga tidak rela berpisah dengan Sakha? Ada apa ini sebenarnya?" batin Byan bertanya-tanya seolah ada yang janggal.
Dan kali ini, Jasmine turun tangan. Dia tidak bisa melihat Sakha yang terus terusan menunjukkan seolah mereka memang mempunyai hubungan darah. Jasmine tak ingin membuat semua orang bingung karena tingkah laku anaknya itu.
Jamine lalu menyerahkan Ziva pada Atha dalam gendongannya. Kemudian mendekati Sakha.
"Sakha, anak baik kan? Ayo ikut mama yuk. Sekarang Om Abi mau pergi dulu, nanti jika Om Abi sudah sampai di Amerika, Sakha bisa video call sepuasnya, oke!" Jasmine dengan sabar membujuk Sakha. Perlahan dia meraih tubuh Sakha.
Sekilas Byan melirik Jasmine yang juga meliriknya. Di antara keduanya serasa ingin menyampaikan sesuatu tapi sebisa mungkin mereka tahan.
Sembari meraih Sakha, tiba-tiba saja sesuatu terlontar dari mulut Jasmine pada Byan.
"Maaf," lirih Jasmine.
"Untuk apa?" tanya Byan datar.
Jasmine terdiam sejenak.
"Merahasiakan status kamu yang sebenarnya adalah ayah kandung Sakha," batin Jasmine dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf untuk apa?" tanya Byan memecah lamunan Jasmine.
"Un-tuk ke-bo-honganku di masa lalu tentang kak Felix," ucap Jasmine terbata dan bukan hanya itu saja, melainkan termasuk kebohongannya tentang rahasia status Sakha.
Namun Byan hanya tahu sebatas kebohongan Jasmine saat mereka tinggal bersama dulu.
__ADS_1
"Tidak perlu, toh aku tidak punya hak lagi untuk mempedulikan soal itu," tegas Byan sedikit ketus.