
Dua hari sudah Jasmine dirawat di rumah sakit. Sore ini dia sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sekarang lebih baik. Wajah Jasmine berseri-seri, dia tak berhenti tersenyum dengan kembalinya dia ke rumah sang pemilik suara indah. Siapa lagi kalau bukan Atha Bamantara.
Jasmine sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Atha. Dia merindukan lelaki tampan bersuara indah jika melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Bukan hanya merindukan orangnya tetapi juga merindukan suara merdunya saat mengaji.
Dan kali ini Jasmine akan mendengarkan Atha mengaji sepuasnya. Sekalipun mendengarkan secara sembunyi-sembunyi, yang penting membuat hati Jasmine tenang dan lega.
Kepulangan Jasmine dan bi Narti disambut hangat oleh asisten pribadi Atha, yakni Billy. Lelaki tampan itu berdiri di dekat sofa saat Jasmine dan bi Narti masuk ke dalam rumah. Ternyata sedari tadi memang Billy berada di sana sengaja menunggu bi Narti kembali dari rumah sakit.
"Eh, ada Mas Billy rupanya. Lagi nungguin Tuan Atha, ya?" sapa bi Narti sembari bertanya.
Billy tersenyum ramah pada bi Narti.
"Saya nungguin Bi Narti," ucap Billy.
"Loh kok nungguin Bibi sih, Mas!" heran bi Narti.
Jasmine yang masih berdiri bersampingan dengan bi Narti undur diri, karena merasa diabaikan dan dia juga tidak termasuk dalam perbincangan mereka.
"Bi, aku ke kamar duluan ya!" ujar Jasmine mulai berjalan dengan pelan ke kamarnya.
__ADS_1
Billy melirik Jasmine dan juga perut buncitnya.
"Eh Mas kenapa nungguin Bibi?" tanya bi Narti membuat Billy beralih menoleh ke arah pelayan itu.
"Oh ya, ada pesan dari tuan Atha. Beliau menitipkan rumah ini pada Bibi karena tuan Atha siang tadi pergi ke Amerika, ada urusan penting yang tidak bisa ditunda di sana," ungkap Billy menyampaikan.
"Loh kok mendadak? Kenapa tuan nggak bilang ke Bibi langsung?" kaget bi Narti.
Bukan hanya bi Narti yang kaget, tapi juga Jasmine, bahkan langkah Jasmine terhenti saat mendengar Atha pergi ke Amerika.
Jasmine pun berbalik lalu menatap ke arah Billy.
Sontak bi Narti dan Billy menoleh ke arah Jasmine bersamaan.
"Berapa lama tuan Atha di Amerika?" tanya Jasmine kembali dengan cemas.
Billy menjadi bingung menjawabnya.
"Emm ... itu karena tuan Atha ke Amerika ada rapat penting di kantor pusat tentang rapat kepemimpinan yang mengharuskan dia hadir di sana. Lalu ... beliau pulang ... mungkin sekitar sebulan dia baru kembali ke Jakarta," Billy menjadi gugup saat menjawab pertanyaan dari Jasmine yang menurutnya seperti orang penagih hutang.
__ADS_1
"Apaaaa? Sebulannnn?" tanya Jasmine sedikit berteriak.
Deg
Billy kaget bukan main apalagi bi Narti.
"I-iya Non Jasmine!" ucap Billy sedikit ketakutan melihat ekspresi Jasmine yang menurutnya seram.
Jasmine terlihat sedih, dia begitu kecewa. Dia berharap melihat Atha setelah kepulangannya dari rumah sakit nyatanya malah dia yang merasa di tinggal pergi oleh orang yang dia rindukan beberapa hari ini.
Jasmine tertunduk lesu, dia berbalik melanjutkan langkahnya berjalan menuju kamarnya begitu saja meninggalkan bi Narti dan Billy. Langkahnya begitu tertatih.
Setelah memasuki kamarnya, Jasmine berjalan lalu duduk di atas ranjangnya. Lama kelamaan akhirnya dia menangis. Dia sedih karena tidak ada yang bisa menenangkan hatinya maupun dirinya jika Atha pergi. Jasmine benar-benar merasa kehilangan.
"Satu bulan itu waktu yang sangat lama," gumam Jasmine lirih.
Jika seperti itu, maka Jasmine harus dengan sabar menunggu Atha kembali pulang ke rumahnya. Mungkin akan begitu menyiksa bagi Jasmine. Di dekat saja, Jasmine merindukan sosok Atha, apalagi berjauhan di Luar Negeri pula. Entah Atha merindukan Jasmine atau tidak. Itu sama saja dengan menunggu seseorang tanpa balasan kerinduan.
"Satu hari saja tidak bertemu dengannya dan tidak mendengar suaranya, aku begitu rindu. Lalu bagaimana jika satu bulan?" Jasmine gundah gulana. Hatinya mulai tak tenang kembali.
__ADS_1