Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Abang?


__ADS_3

Hari berganti, kini keadaan Jasmine semakin membaik terutama kakinya yang secara bertahap kembali pulih. Dia bisa berjalan dengan normal walaupun masih harus berjalan dengan sangat hati-hati dan cukup pelan.


Sejak Atha memberikan nasihat kepada Jasmine, wanita itu menuruti perkataan Atha dengan banyak istirahat dan latihan berjalan sedikit demi sedikit. Alhasil peningkatannya begitu cepat hingga Jasmine begitu bahagia ingin memperlihatkan kesembuhannya pada Atha.


Malam ini, sengaja Jasmine menemui Atha di saat makan malam. Karena sejak dua hari ini, Atha tidak menampakkan kehadirannya di rumah saat pagi hingga ke malam, karena begitu padatnya pekerjaan Atha yang membuatnya sarapan pagi dan makan malam di luar bersama rekan kerjanya bahkan Billy.


Dan kali ini, kesempatan Jasmine untuk berbicara kepada Atha.


"Ah, itu tuan Atha masih ada di sana. Aku harus cepat menghampirinya," gumam Jasmine berjalan hendak mendekat ke ruang makan.


Tiba-tiba Jasmine berhenti sejenak.


"Eh tunggu dulu ... bukankah lelaki itu tidak mau aku panggil tuan? Lantas, aku harus memanggilnya apa?" Jasmine mencoba berpikir untuk panggilan yang cocok buat Atha.


"Apa ya?"


"Emm, apa sih panggilan yang cocok buat tuan Atha?" guman Jasmine merasa frustasi.


"Ahhh, bodoh amat. Sekarang aku harus cepat menghampiri tuan Atha sebelum dia pergi ke kamarnya," Jasmine sedikit was-was.


Jasmine melanjutkan langkahnya sedikit kaku mendekati Atha. Nyatanya lelaki itu hendak berdiri karena dia sudah selesai dengan makan malamnya saat itu.


Tapi Jasmine dengan cepat memanggil Atha agar lelaki itu tetap berada di tempat duduknya.


"Selamat malam, Abang ... Atha!" sapa Jasmine ragu-ragu dan percaya dirinya tanpa malu, dengan suara lembut tapi tidak bernada manja juga tidak dibuat-buat.


Jleb


Atha melirik ke arah sumber suara, dia sedikit terkejut dengan kehadiran Jasmine terutama panggilan yang dibuat Jasmine untuknya.


"Jasmine, kau ... pang-gil a-ku dengan ABANG?" tanya Atha yang terlihat aneh dan menekan kata 'Abang'.


Jasmine mengangguk sembari tersenyum lebar.


"Aku tidak suka dipanggil Abang!" tolak Atha datar.

__ADS_1


"Emm ... Kakak?" ujar Jasmine.


"Hei, sejak kapan aku menjadi Kakakmu?"


"Lalu apa dong? Abang tidak suka, Kakak juga tidak mau?" bingung Jasmine.


Atha mendadak pusing tiba-tiba hingga memijat-mijat pelipisnya karena Jasmine yang banyak tanya.


"Panggil Atha saja!" pinta Atha.


"Tidak bisa, itu tidak sopan. Usia dirimu lebih tua dariku," bantah Jasmine ngeyel.


Atha terdiam, lelaki itu hanya bisa bersabar dengan Jasmine yang tiada henti berkata.


"Terserah asal jangan panggil aku Abang?" ucap Atha lemas dengan mata terpejam sembari masih memijat pelipisnya.


"Emang kenapa?" lagi-lagi Jasmine bertanya.


Atha menarik nafasnya pelan dan membuangnya perlahan pula. Sebenarnya Atha sangat malas menjawab pertanyaa Jasmine yang begitu membuatnya kebingungan sendiri.


"Aku bukan Abang-Abang penjual dagangan," tegas Atha.


"Abang-Abang? maksudnya ... abang-abang yang berjualan di pasar-pasar, di pinggiran jalan dan penjual keliling kampung, gitu?" tanya Jasmine penasaran.


"Ya," Atha mengangguk pasrah.


"Hahahaha, maksud kamu ... abang tukang bakso, abang tukang ketoprak, abang tukang es krim, abang tukang...," tawa Jasmine mengabsen satu persatu nama panggilan abang yang berjualan sepengetahuan dia.


Tiba-tiba bi Narti yang mendengar kekonyolan Jasmine terhadap Atha di dengar oleh wanita paruh baya itu hingga mengkode Jasmine dengan menutup mulutnya menggunakan tangan seolah menyuruh Jasmine berhenti berbicara.


Seketika Jasmine pun berhenti berbicara saat melihat bi Narti seperti itu.


"Upsss, apa aku salah bicara ya?" batin Jasmine menjadi takut.


Jasmine pun melihat ke arah Atha dengan seksama. Cukup lama Jasmine melihat wajah Atha, sekilas dia mengingat wajah Byan. Jasmine terdiam dan membayangkan wajah Byan dengan lamunannya.

__ADS_1


"Kenapa berhenti? Sudah capek ngabsen abang-abang jualannya?" tanya Atha sedikit menyinggung hingga membuat Jasmine sadar dengan lamunan dan arah pandangan matanya.


"Ah, i-itu ... ma-maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu, sungguh!" ucap Jasmine menyesal.


"No problem!" sahut Atha santai.


Atha bangkit berdiri kemudian meminta sesuatu pada bi Narti yang masih berkutat di dapur.


"Bi Narti, ajak Jasmine makan di sini, temani dia!" Atha memberi perintah.


"Baik Tuan!" sahut bi Narti dengan patuh.


Atha kemudian berjalan hendak menuju kamarnya.


"Tunggu sebentar!" cegat Jasmine pada Atha.


Atha pun berhenti dengan lesu.


"Mau apa lagi wanita itu?" batin Atha dengan sabarnya.


Atha diam mendengarkan tanpa menoleh ke belakang.


"A-ku se-karang su-dah bisa berjalan normal," ungkap Jasmine gugup tapi begitu semangat.


Atha menarik sudut bibirnya dengan lega.


"Bagus dong, jadi kamu bisa tinggal di apartemenku nanti," ucap Atha santai.


Jasmine kaget membulatkan matanya serba salah. Nyatanya kesembuhannya membawanya dalam masalah besar yang selama ini dia hindari.


"Ta-tapi ja-lanku masih sangat lambat. Emm ... ralat, ternyata kakiku masih belum pulih," Jasmine takut bukan main, hingga dia memperbaiki ucapannya di awal tepatnya Jasmine berbohong.


Siapa sangka kebohongan Jasmine begitu mudah diketahui oleh Atha. Atha sangat tahu alasan Jasmine berbohong, apalagi jika tak lain hanya ingin tinggal di kediaman Atha, tidak menginginkan tinggal di apartemen.


Atha malah tersenyum simpul mendengar kebohongan Jasmine. Atha pun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dengan tenang.

__ADS_1


Sedangkan Jasmine merutuki dirinya sendiri dengan penyesalan.


"Ah, bodohnya aku bahkan aku lupa jika dari awal si Atha itu menginginkan aku tinggal di apartemennya," gumam Jasmine memukul-mukul kepalanya dengan kedua tangannya.


__ADS_2