Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Tahun Depan?


__ADS_3

Sejak Byan mengajak Jane untuk bertunangan, Jane selalu merengek menanyakan hal tersebut. Entah saat itu Byan memang sengaja mengajaknya bertunangan atau sekedar hanya mendiamkan Jane agar kekasihnya itu tidak menganggunya di saat tidur. Tapi malah Byan sendiri yang kuwalahan atas sikap Jane yang ingin secepatnya pertunangan mereka dilaksanakan.


"Sayang, aku sudah mengatakan pada orang tuaku bahwa kita akan bertunangan. Jadi mereka ingin kita melaksanakan secepatnya," ucap Jane disela-sela Byan sedang memeriksa berkas penting mengenai laporan keuangan di kantornya.


Jane yang duduk di depan Byan hanya bisa memandangnya penuh cinta.


Byan menghela nafasnya pelan. Sungguh ajakan untuk pertunangan yang dia ajukan pada Jane rupanya membuat dirinya sendiri menderita. Pasalnya Jane selalu saja menanyakan hal itu setiap hari. Bagaimana jika Byan mengajaknya untuk menikah. Bisa saja Jane tiap menit akan menanyakan tentang persiapan yang nanti semakin ribet urusannya.


"Nanti Jane, aku dan papi untuk sekarang sedang sibuk menangani perusahaan. Jadi kita bisa tunda dulu, oke!" jawab Byan santai dengan memfokuskan mata dan tangannya bekerja tanpa melihat wajah Jane.


"Kapan? Bulan depan kah?" tanya Jane antusias dengan senyumnya mengembang.


"Mungkin tahun depan Jane!" seru Byan.


"Whattttt? Tahun depan? Mending kita menikah saja kalau begitu!" sahut Jane begitu kaget.


Byan menghentikan aktivitasnya lalu menatap Jane.


"Jane mengertilah, aku belum siap untuk menikah!" tegas Byan dan bernada dingin.


Jane bangkit, lalu menggeser kursi dengan kakinya cukup keras hingga membuat Byan sedikit kaget.


"Kau ternyata hanya berpura-pura mencintaiku, Byan!" Jane marah dan akhirnya dia pergi dari ruangan Byan.


Byan lagi-lagi menghela nafasnya berat, dan memijat keningnya merasa stres.


"Nyesel gue ngajak tunangan sama Jane," gumam Byan penuh penyesalan.


Dan ternyata memang Byan tidak bersungguh-sungguh dalam ucapannya untuk bertunangan dengan Jane. Byan memang sejak awal hanyalah ingin bersenang-senang ketika meminta Jane untuk menjadikannya pacar.

__ADS_1


Keesokan harinya dan hari-hari seterusnya Jane selalu mengunjungi Byan ke apartemennya maupun ke kantornya. Hingga terkadang Jane berani untuk menemui papi Byan hanya untuk menyapa sekaligus membahas pertunangan antara dirinya dan Byan.


Tak bisa dipungkiri, betapa senangnya Darwish dengan kabar yang disampaikan oleh Jane itu. Darwish pun menjumpai Byan di kantor hanya untuk memastikan kebenarannya.


"Aku senang sekarang kau banyak berubah saat kepulanganmu dari Jakarta. Apa kau mendapatkan pelajaran berharga dari saudaramu itu? Atau karena kau berubah pikiran untuk mengambil alih perusahaan pusat sebagai pimpinan?" tanya Darwish yang masuk begitu saja ke ruangan Byan yang sedang fokus dengan berkas di hadapannya.


Byan sedikit kesal karena Darwish menyinggung masalah yang sangat tidak disukai Byan.


Pada dasarnya, saudara yang Darwish maksudkan adalah menyinggung keberadaan Atha diperusahaan Wiratama yang tak disetujui oleh Darwish.


"Kalau Papi hanya ingin membahas itu, lebih baik aku pergi lagi ke Paris atau ke Italia. Aku sudah muak membahas masalah itu," ketus Byan dengan nada kesal, tidak ada lembutnya berbicara pada Darwish.


Darwish menghela nafasnya pelan. Dia tahu jika Byan adalah anak yang baik dan tidak serakah tapi sifatnya yang keras kepala dan seenaknya sendiri, membuat Darwish begitu cemas akan masa depan anaknya semata wayangnya itu.


"Baiklah, Papi tidak akan memaksamu soal perusahaan. Tapi satu hal yang Papi inginkan. PERTUNANGANMU DENGAN JANE HARUS TERLAKSANA BAGAIMANAPUN CARANYA!!!" tegas Darwish tak ingin dibantah.


Byan terdian sejenak. Untuk kali ini, dia sudah tidak bisa mundur lagi. Kesalahannya menjadikan Jane sebagai kekasihnya membuat dirinya dilema. Apalagi meminta Jane untuk bertunangan dengannya adalah sebuah kesalahan. Dan akhirnya mau tidak mau, cepat atau lambat, pertunangan mereka memang harus diadakan.


"What? Tahun depan? Kenapa tidak menikah saja sekalian?" tanya Darwish dengan mata yang membulat kaget ke arah Byan.


Mata Byan membulat kala mendengar perkataan sang papi hampir sama dengan apa yang dikatakan oleh Jane.


"TAHUN DEPAN, tidak ada penawaran, TITIK!!!" seru Byan dengan suara menekan dalam.


Darwish pun hanya menggeleng lemah dan menghela nafasnya berat.


"Pertunangan apa yang membutuhkan waktu begitu lama? Dasar otak error!" gumam Darwish pelan. Dia pun melangkah pergi dari ruangan Byan.


Sejak saat itulah, atas desakan Jane dan juga Darwish, setelah satu tahun terlewati, Byan dan Jane mulai mempersiapkan semuanya untuk acara pertunangan mereka. Mengingat Jane yang berkebangsaan Indonesia, maka pertunangan akan dilaksanakan di Jakarta. Byan pun sangat setuju dengan permintaan dari Jane kali ini.

__ADS_1


Apalagi Sakha yang mendengar bahwa Byan akan datang ke Jakarta, begitu senangnya dia. Byan juga sangat merindukan Sakha. Tapi mengingat itu juga, hati Byan terkadang sakit bila melihat Jasmine yang telah bahagia bersama saudaranya, Atha. Entah mengapa, ada sesuatu yang masih belum terselesaikan bila terbayang wajah Jasmine.


"Om Abiiii," teriak Sakha saat dia masuk ke rumah utama keluarga Wiratama bersama Atha, Jasmine dan juga Ziva.


Byan yang sedang berdiskusi bersama Jane dan juga Darwish seputar pertunangan di ruang keluarga, menghentikan perbincangan mereka lalu menoleh ke sumber suara.


"Hei Sakha, sayang!" seru Byan yang dikagetkan oleh Sakha yang berlarian ke arahnya.


Sakha memeluk Byan yang tengah duduk di sofa.


"Kau tambah gemuk saja, Sakha. Apa kabarmu, sayang?" tanya Byan sembari membalas pelukan Sakha.


"Seperti yang Om lihat, aku sehat. Aku merindukanmu Om Abi," ucap Sakha yang hanya teralihkan pada Byan seorang.


Jane yang merasa diabaikan mulai bertanya tentang sosok Sakha yang asing baginya, walau Jane sudah tahu mengenai Sakha dari Byan. Tapi Jane mencoba untuk mencari perhatian terhadap Sakha yang sepertinya sangat dekat dengan Byan itu.


"Dia siapa, sayang?" tanya Jane berbasa-basi.


"Dia Sakha yang pernah aku ceritakan padamu," sahut Byan.


"Hai Sakha, kenalkan saya Jane calon tante kamu," ucap Jane senang.


Sakha beralih menatap Jane dan perlahan melepaskan pelukannya dari Byan.


"Hai tante Jane, aku Sakha!" sapa Sakha singkat sambil tersenyum.


Saat terlihat wajah Sakha dengan sempurna, mata Jane mulai menyipit. Dia melirik Sakha dan Byan bergantian.


"Astaga, wajah kalian begitu mirip. Apa Sakha benar keponakanmu, sayang? Bahkan kalian bisa dikatakan sebagai ayah dan anak," ujar Jane dengan heran.

__ADS_1


Sedangkan Darwish dari tempat duduknya di depan Byan, dia pun melihat seksama wajah Sakha.


"Semakin hari, Sakha memperlihatkan wajah Abyan sewaktu kecil. Seperti mustahil saja jika status mereka sebatas keponakan dan paman," batin Darwish yang menaruh curiga.


__ADS_2