Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
To the Point


__ADS_3

Ketika hari-hari begitu cerah dan terasa begitu indah, maka disitulah kebahagiaan tercipta. Kini Jasmine terlihat memancarkan senyuman disepanjang harinya. Wajahnya kini berseri-seri setelah berada di kediaman Atha. Dia begitu merasakan sesuatu yang baru, tempat tinggal baru dan orang-orang yang baik seperti bi Narti yang selalu menjaganya.


Berkat Atha yang telah mengizinkan Jasmine tinggal di istana mewahnya, kini Jasmine tidak sendiri lagi dan tidak merasa sepi. Pikirannya yang dulu selalu memikirkan Byan sekarang malah berganti dengan calon buah hatinya yang harus dia jaga sepanjang harinya. Sekarang kesedihannya berganti dengan kebahagiaan calon buah hati yang berada dalam rahimnya.


Tak peduli bagaimana kedepannya nanti, yang terpenting Jasmine harus hidup penuh suka cita agar tidak memiliki beban pikiran walaupun sebenarnya kisah hidupnya cukup rumit. Beruntungnya, Byan telah memberikan cukup uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama anaknya kelak.


Tap tap tap


Langkah kaki si pemilik rumah mewah itu berjalan ke arah meja makan dimana telah disajikan oleh pelayan berbagai makanan yang lezat dan tak lupa beberapa buah-buahan yang segar untuk sarapan pagi.


"Tuan tidak akan menginap di apartemen lagi, kan?" tanya bi Narti sembari menyajikan kopi pada Atha.


"Kenapa?" tanya Atha melirik sekilas ke arah bi Narti.


"Emm ... Bibi hanya ingin Tuan tinggal di rumah ini saja biar kesehatan Tuan terjamin, di sini juga ada Bibi yang menyiapkan keperluan Tuan," ucap bi Narti penuh kepedulian.


"Oh kirain Bibi senang jika aku tinggal di apartemen," ujar Atha dengan senyum kecilnya.


"Ya nggak lah Tuan, mana berani Bibi seperti itu."


"Ya ya, aku tahu jika Bibi sangat perhatian padaku. Aku akan tinggal di sini seterusnya, lagian ini juga rumahku," senyum Atha tak lepas dari wajahnya.


Seperti biasanya, Atha memakan sarapannya seorang diri sambil sesekali melihat ponselnya untuk mengecek email dan pesan whatsap dari beberapa client dan sahabatnya.


"Bi Narti, kemari sebentar!" titah Atha.


Bi Narti yang masih di dapur segera menghamipi Atha.

__ADS_1


"Ya Tuan!"


"Nanti suruh Jasmine sarapan di sini, temani dia sarapan!" perintah Atha berbaik hati.


"Oh, pasti Tuan. Bibi segera panggilkan non Jasmine," Bi Narti pun langsung berjalan ke kamar Jasmine setelah mendapat anggukan oleh tuannya.


Tak lama sarapan pun selesai. Atha mengelap mulutnya dengan tisu dan berdiri lalu menarik tas kerjanya ke dalam genggaman tangannya berjalan hendak keluar dari rumah.


"Selamat pagi, Tuan Atha?" sapa Jasmine tiba-tiba dengan suara semangatnya.


Atha pun berhenti seketika lalu berbalik ke arah sumber suara.


Jasmine menghampiri Atha, sedangkan Atha mengernyit heran.


"Selamat pagi ... Jasmine!" Atha membalas sapaan Jasmine dengan sedikit canggung.


"Hemm...," Atha hanya menjawab dengan dengungan.


Jasmine tersenyum sumringah, Atha melirik dengan heran.


"Hati-hati ya, Tuan dan semoga hari anda indah serta keberuntungan menyertaimu," ujar Jasmine to the point.


Atha bengong dan semakin heran mendengar perkataan Jasmine. Seperti perkataan yang sering diucapkan oleh istri pada suaminya yang akan berangkat kerja. Sungguh Jasmine begitu berani pada Atha. Tapi mau tak mau ucapan Jasmine adalah sebuah do'a untuk Atha. Dan Atha harus menjawab dari do'a Jasmine tersebut.


"Ya, terima kasih!" sahut Atha datar dan kikuk.


Atha kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Tuan tunggu!" seru Jasmine.


Atha lagi-lagi menghentikan langkahnya. Dia menghela nafasnya dengan sabar.


"Ada apa lagi?" tanya Atha tanpa menoleh ke belakang.


"Emm ... aku hanya mau ngucapin terima kasih sudah izinin aku tinggal di rumah ini," ucap Jasmine sedikit gugup tapi sambil tersenyum lebar.


"Itu sudah tanggung jawabku sampai kamu sembuh," tegas Atha kemudian hendak melangkah kembali.


"Tunggu dulu, Tuan!"


Kali ini Atha benar-benar menoleh ke arah Jasmine dengan pandangan sedikit menunduk.


"Kalau kamu manggil aku terus, kapan aku berangkatnya? Aku takut jalanan macet dan aku nggak mau sampai telat ke kantor, paham sampai sini?" ujar Atha dengan lembut tapi begitu tajam makna dibaliknya.


"Hehe, maaf Tuan. Kalau gitu silahkan berangkatlah bekerja, Tuan!" Jasmine nyengir-nyengir dengan rasa malu. Tapi Jasmine tak mempedulikannya. Toh, dia memang seorang yang tidak suka basa basi.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan. Kamu bukan PEMBANTU," tegas Atha lalu berbalik, dengan langkah cepat dia berjalan ke luar dari rumah.


"Lalu aku harus memanggil apaaaa?" teriak Jasmine bertanya, tapi nyatanya Atha sudah melewati pintu depan.


Jasmine mendengus kesal.


"Yahhh, dia pasti tidak mendengarku," gumam Jasmine kecewa.


"Hemm ... kira-kira aku harus memanggilnya apa ya?" pikir Jasmine bertanya-tanya

__ADS_1


__ADS_2