Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Hanya Mimpi


__ADS_3

Sejak memasuki usia 7 bulan kehamilan, suasana hati Jasmine terkadang buruk. Dia sering merasa gelisah dan tak tenang. Satu hal yang dia sadari, yaitu Jasmine merasa dirinya sendirian. Dia mulai terbebani oleh tidak adanya kehadiran seorang pendamping.


Dia baru menyadari bahwa hidup sendiri itu tidak mudah apalagi kondisinya yang sedang mengandung tanpa adanya suami di sisinya. Dan sekarang rasanya Jasmine sangat membutuhkan sosok suami untuk dia dan anaknya nanti.


"Hei ... kenapa kamu menangis, sayang? Ada apa, hah?" tanya Atha sembari mengusap air mata Jasmine.


"Aku takut," ucap Jasmine lirih.


"Takut kenapa, hem?" tanya Atha dengan sangat lembut dan penuh perhatian.


"Aku takut saat lahiran nanti kamunya malah dinas ke Luar Negeri," ujar Jasmine begitu sedih yang nyatanya masih menitikan air matanya.


Atha tersenyum lalu memeluk Jasmine dan membelai rambutnya dengan mencoba menenangkannya.


"Kok kamu mikirnya gitu sih, sayang. Hei, dengerin aku. Aku nggak akan ninggalin kamu sampai kapanpun. Aku akan menunggu sampai anak kita lahir. Aku akan menggendongnya lalu mengadzaninya. Aku kan ayahnya," ucap Atha mempertegas.


Jasmine perlahan melepaskan pelukannya lalu menatap Atha dalam.


"Kamu janji? Kamu nggak bohongi aku, kan?" tanya Jasmine memastikan.


Atha tersenyum lebar sembari menyelipkan rambut Jasmine ke belakang telinga wanita itu dengan lembut.

__ADS_1


"Iya, aku janji sayang. Aku bakal jaga kamu sampai kamu lahiran, sampai anak kita besar nanti, sampai kita tua nanti dan selamanya kita akan bersama-sama, nggak ada yang bisa memisahkan kita kecuali Sang Maha Kuasa," Atha menatap manik mata Jasmine meyakininya, tersenyum lalu mencium kening Jasmine dengan lembut.


Jasmine begitu bahagia dan senang mendapatkan perhatian yang besar oleh Atha.


"Terima kasih ya, sayang!" Jasmine melebarkan senyumnya, dia terlihat lega mendengar ucapan Atha.


Atha pun membalas senyuman itu dengan lebar kemudian memeluk Jasmine dengan hangat. Mereka terlihat bahagia satu sama lain.


"Jadi tolong jangan takut dan jangan pernah ragukan cinta dan kasih sayangku padamu. Ini tanggung jawabku untukmu. Ini sudah kewajibanku. Inilah bukti ketulusanku," tutur Atha meyakinkan Jasmine.


"Maaf, aku begini karena aku nggak mau lagi kehilangan orang yang berharga di hidupku," ungkap Jasmine.


Atha merenggangkan pelukannya lalu menatap Jasmine dengan intens.


Jasmine menerbitkan senyuman bahagia atas penuturan Atha.


"I love you more," balas Jasmine penuh cinta pula.


Cup


Jasmine mengecup bibir Atha, namun Atha malah membalas dengan ciuman dahsyat yang memperdalam ciuman mereka, cukup lama kemudian terlepas juga ciuman itu saat keduanya butuh oksigen.

__ADS_1


"Ingat, aku akan selalu ada untukmu Jasmine!"


"Jangan menangis, aku selalu menjagamu dan bayi kita!"


"Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama!"


Ucapan Atha terngiang-ngiang di telinga Jasmine tiada henti.


"AKHHHHH!!!" teriak Jasmine lalu bangkit dari tidurnya.


Keringat bercucuran mulai membasahi wajah dan tubuh Jasmine.


Nafas Jasmine memburu cepat. Jasmine melihat jam di dinding yang ternyata jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


"Ya Allah, itu hanya mimpi? Kenapa seperti nyata?" gumam Jasmine lirih.


"Andai saja itu terjadi, maka...," gumam Jasmine lagi yang kali ini menggantungkan kalimatnya.


Hiks...hiks...hiks...


Tiba-tiba dada Jasmine terasa sakit. Nafasnya pun terasa sesak. Dia pun bangkit berdiri dari ranjang lalu berjalan terbata-bata menuju kamar bi Narti dan membangunkan pelayan itu dari tidurnya.

__ADS_1


Tok tok tok


"Bi ... Bibi ... Bi Narti...!" panggil Jasmine dengan nafas tersengal-sengal.


__ADS_2