Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Sudah Terlambat


__ADS_3

Tubuh Jasmine bergetar kala Byan terus saja memaksanya untuk menjawab apa yang menjadi pertanyaannya. Jasmine tidak berpikir jernih saat ini, dia tidak bisa pula mencari alasan untuk membohongi Byan, karena pasti lelaki itu akan segera mengetahuinya. Apalagi mereka pernah tinggal bersama.


Byan lagi-lagi menyeringai dengan tatapan tajam.


"Lihatlah, aku bisa melihat gerak gerikmu sedang berpikir. Apa kau ingin menjawab dengan jujur kali ini, atau sebaliknya," ucap Byan yang sudah memulai memperingatkan kalau-kalau Jasmine mengatakan dengan kebohongannya.


Byan menatap dalam wajah Jasmine hingga wajahnya semakin mendekat ke wajah Jasmine. Rasanya begitu ingin mencicipi kembali bibir Jasmine walau hanya sekedar mengecupnya sekilas. Byan seolah lupa dengan posisinya sekarang yang tidak lagi mempunyai ikatan di antara mereka.


"Hentikan Byan!" Jasmine seketika mendorong tubuh Byan kala lelaki di hadapannya itu hendak menciumnya.


"Jaga batasanmu! Aku adalah istri dari saudaramu!" tekan Jasmine yang matanya mulai berkaca-kaca.


Byan memejamkan matanya menarik nafasnya dan menghembuskan dengan sedikit kasar. Dia merasa bersalah pada Jasmine.


"Ma-maaf aku khilaf. Sekarang tolong jawab pertanyaanku tadi, setelah itu aku pergi, i am promise!" ucap Byan dengan sungguh walaupun masih ingin tetap berada bersama Jasmine.


Sungguh Jasmine tak ingin mengingat masa lalunya yang memang pada kenyataannya Jasmine pernah mencintai Byan, lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Tapi perasaan itu sekarang telah berubah. Sudah terisi dengan orang lain, yakni suaminya. Tapi dia menyadari hatinya sekarang berubah menjadi tak karuan, entahlah.


"Itu sudah tidak penting, jadi tolong jangan mengungkitnya lagi," pinta Jasmine berharap.


"Bagiku penting, Jas. Kumohon sekali saja aku ingin mendengar alasan kenapa kau menyusulku ke bandara, itu saja," Byan meminta dengan kesungguhannya dengan wajah memelas.


"Ayo jawab," ucap Byan lagi dengan pelan kali ini.


Seketika Jasmine teringat sesuatu yang bisa menyelamatkan dirinya dari jawaban yang sudah tidak penting lagi dari perasaannya dulu terhadap Byan.


"Emm ... a-aku hanya ingin mengembalikan sesuatu padamu," jawab Jasmine dengan lega tapi perubahan gugupnya masih terlihat.

__ADS_1


Mendengar itu pun Byan mengerutkan keningnya dengan bingung.


Jasmine pun berjalan ke arah lemari, dimana dia menyimpan sesuatu yang dulu paling berharga sekali untuknya. Dia menyimpannya sangat hati-hati.


"Ini, aku hanya ingin mengembalikan ini saja," Jasmine menyerahkan sebuah kalung berbentuk bunga melati pada Byan. Karena lelaki itulah yang dulu memberikan pada Jasmine sebagai mahar.


"Ambil ini, dan pergilah dari kamarku," Jasmine menyerahkan kalung itu kehadapan Byan dengan menggantungkan panjang kalungnya agar bisa diraih Byan tanpa menyentuh tangannya.


Terlihat jelas di mata Byan dengan sesuatu yang dimaksud oleh Jasmine. Ternyata itu adalah sebuah kalung, dan Byan masih mengingatnya bahwa dia pernah memberikannya pada Jasmine.


Byan tersenyum dengan lebar kala melihat kalung pemberian darinya masih disimpan baik oleh Jasmine.


"Kau lupa, aku pernah bilang jikalau kau tidak menyukai kalung itu maka kau bisa membuangnya, tapi kenapa malah kau simpan?" tanya Byan yang sukses membuat Jasmine salah tingkah.


Jasmine tercekat, dia baru ingat dan dia sudah melupakan sesuatu. Bahwa benar Byan pernah mengatakan sebelumnya saat mereka hendak berpisah dulu.


"I-itu karena...," ucap Jasmine gugup dan pikirannya masih me-loading untuk memberi alasan lain lagi pada Byan.


"Karena...," ucap Jasmine yang pikirannya sudah buntu. Dia tak tahu harus beralasan apa lagi, sementara Byan sudah mengetahui kebohongannya.


"Karena kau mencintaiku, bukan?" tanya Byan dengan percaya dirinya.


"KAU MENCINTAIKU, iya kan?" ulang Byan dengan menekan kalimatnya.


Deg


Jasmine merasa lemas hingga kalung yang dia pegang pun sampai terjatuh ke lantai. Dia tak mampu menahan air matanya hingga lolos membasahi pipinya. Jasmine begitu teringat betapa terluka hatinya saat kejadian di bandara yang seharusnya dia bertemu dengan Byan untuk mengungkapkan perasaannya dan memohon agar tetap berada di sisinya, tapi nyatanya takdir tidak mempertemukan mereka hingga dirinya berakhir di rumah sakit dan hatinya telah terisi oleh lelaki yang taat beribadah, yakni Atha.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah memaksamu untuk bilang Cinta padaku, tapi aku hanya ingin kau mengakuinya. Apakah benar jika dulu kau pernah mencintaiku walau sehari saja? Dan apakah saat kau menyusulku ke bandara karena ingin mengutarakan hal itu? Jawab iya atau tidak?" Byan mendesaknya seperti sebuah perintah.


Jasmine menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena tak ingin Byan atau lainnya mendengar tangisannya.


Byan merasa iba melihat keadaan Jasmine yang menangis pilu seperti itu.


"Ma-maafkan aku. Bukan maksudku menyakitimu. Sebenarnya aku hanya ingin kau tahu satu hal dari perasaanku, bahwa aku sebenarnya mencintaimu, Jasmine!" ungkap Byan pada akhirnya yang tak bisa ditahan lagi.


Jasmine tambah menangis terisak. Sungguh malang nasibnya, baru mengetahui perasaan seseorang yang dulu dicintainya kini ternyata orang itu juga mempunyai perasaan yang sama. Andai dulu mereka dipertemukan di bandara, maka jasmine tidak akan memohon-mohon pada Atha untuk menikahinya, dan juga Sakha bisa selalu dekat dengan ayah kandungnya.


"Semuanya sudah terlambat. Jika kau sungguh-sungguh mencintaiku, seharusnya kau tidak pernah melepaskan aku begitu saja, apalagi menyuruhku untuk melupakanmu," kata Jasmine dengan suara bergetar menatap Byan penuh amarah.


"Dan sekarang HATIKU SUDAH TIDAK ADA TEMPAT UNTUKMU LAGI," jelas Jasmine dengan penuh penekanan.


Deg


Byan tercengang, dia tidak habis pikir bahwa dia baru mengetahui jika mereka sama-sama saling mencintai dulu, entah sekarang apakah Jasmine masih mencintai atau hanya sekedar bohong belaka.


"Sekarang pergilah sebelum aku mengeluarkan kata-kata yang akan melukai hatimu," Jasmine sekuat tenaga mendorong tubuh Byan keluar dari kamarnya.


Sedangkan Byan hanya pasrah dan mengikuti arah langkah kakinya di mana dirinya didorong kuat oleh Jasmine hingga ke luar dari kamar.


Duarrr


Jasmine menutup pintu dengan sangat kuat sampai-sampai dia tidak peduli pada suara yang timbul akan membuat orang-orang di dalam rumah itu bertanya-tanya.


Jasmine menangis di dalam sana sambil memegangi dadanya yang terasa sakit hingga perlahan terduduk di lantai, dia menangis terisak.

__ADS_1


Sedangkan Byan berjalan pelan dengan tatapan nanar menuju mobilnya.


"Bodoh, bodoh, bodoh ... ternyata selama ini aku telah menyia-nyiakan kebersamaanku dulu bersama Jasmine yang rupanya juga mencintaiku. Ya Allah, aku sangat menyesal," lirih Byan sembari memukul-mukul setir mobilnya meratapi kesedihan serta penyesalannya.


__ADS_2