Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Lupakan


__ADS_3

Hati Jasmine begitu hancur, saat Byan tidak ada di samping tidurnya. Setelah permainan panas yang mereka lakukan, kenapa Byan malah menghilang. Padahal Byan telah berjanji akan mengisi hari-hari mereka berdua sampai hari perpisahan itu tiba.


Jasmine menyesali dirinya yang terbiasa bangun kesiangan setelah malam permainan mereka, hingga akhirnya dia tidak mengetahui keberadaan Byan.


Ini adalah hari terakhir mereka bersama. Sedangkan besok adalah hari kepergian Byan meninggalkan Indonesia. Byan akan pergi ke Luar Negeri. Entah kemana Byan akan tinggal nanti. Byan merahasiakan itu semua dari Jasmine.


Hingga kini, Jasmine sangat panik dan menangis sejadi-jadinya. Dia takut kehilangan orang yang sudah dia anggap sebagai bagian dari hidupnya. Ya, Jasmine menyadari bahwa betapa indahnya mempunyai suami seperti Byan. Jasmine telah menganggap Byan adalah suami yang sudah membuat kehidupannya kembali bahagia seperti dulu yang kehidupannya utuh bersama kedua orang tuanya.


"Byan, Byan ... loe dimana?" Jasmine bangkit berdiri lalu memakai pakaian lengkapnya.


Dengan cepat Jasmine pergi ke luar kamarnya mencari Byan.


"Loe nggak berniat ninggalin gue sekarang, kan? Loe udah janji akan temani gue sampai hari perpisahan kita? Byan, Byan loe dimana? Hiks...hiks...hiks!" tangis Jasmine sembari berjalan memasuki kamar Byan dan berkeliling ruangan itu hingga mencari ke kamar mandi tetapi tetap Byan tidak dia dapatkan.


Jasmine duduk di tepi ranjang, masih menangis meratapi kekecewaannya dan ketakutannya kehilangan sosok Byan.


"Loe jahat, Byan. Loe jahat ninggalin gue gitu aja tanpa pamit dulu ke gue. Loe pembohong, loe penipu, dasar bejat!" umpat Jasmine kesal dengan kata-kata yang tanpa sadar dia lontarkan.


"Sekarang gue sendirian, gue sendirian disini, kemana lagi gue harus mencari tempat tinggal. Mama, papa, Jasmine rindu kalian, hiks...hiks...hiks," Jasmine menangis dengan kecewanya.


Jasmine bangkit berdiri lalu berjalan kembali meninggalkan kamar Byan dan beralih melangkahkan kakinya ke arah ruang depan. Jasmine duduk di sofa sambil menangis pilu merasakan sesak dadanya.


"Byan, kenapa loe pergi terlalu cepat? Loe hanya memberi kenangan indah dengan permainan loe itu belum cukup, apalagi loe memberikan kalung perpisahan ini juga tidak ada artinya buat gue. Loe pecundang Byan, loe pecundang, hiks...hiks...hiks," tangisan Jasmine pecah dan begitu lantang hingga terdengar oleh seseorang disana.


Jasmine telah salah sangka, dia begitu ketakutan akan kehilangan seseorang hingga akal pikirannya tidak bekerja dengan baik apalagi Jasmine baru beberapa menit yang lalu bangun dari tidurnya. Mungkin karena itu yang membuatnya berpikir macam-macam tanpa melihat sekeliling dan tidak menyusuri kesegala arah apartemen Byan sebesar itu.


Seseorang menghampiri Jasmine dan memeluk erat wanita itu masuk ke dalam pelukannya.


"Kenapa loe menangis, Jasmine? Ada apa? Jangan buat gue cemas!" seru Byan dengan perhatian dan kasih sayangnya memeluk dan membelai rambut Jasmine.


Jasmine tersentak kaget, seorang lelaki yang memeluknya dengan suara khas ketegasan membuatnya luluh dan seketika hatinya tenang. Wangi tubuh lelaki itu seakan melekat dan dia mengenali parfum itu.


Jasmine sedikit mendongak memandang wajah Byan.

__ADS_1


"Byan, gue cari loe kemana-mana tapi loe nggak ada. Loe dari mana sih?" tanya Jasmine dengan nada kesal tapi hatinya lega.


"Loe tadi masih tidur. Jadi gue nggak tega bangunin loe. Kenapa sih loe nangis gitu, hah?" Byan melepaskan pelukannya perlahan lalu menatap lekat Jasmine dan meraih wajah istrinya itu.


"Kenapa loe nangis?" tanya Byan sembari mengusap sisa air mata di wajah Jasmine.


"Gu-gue takut!" sahut Jasmine terbata.


"Takut? Loe mimpi buruk?" tanya Byan kembali.


Jasmine mengangguk pelan. Dia terpaksa berbohong, padahal dia sangat takut Byan pergi dari sisinya.


"Ya sudah, sekarang ada gue disini. Jadi loe nggak usah nangis lagi. Loe udah gede Jasmine, malu dong nangis kayak anak kecil gitu!" Byan mencium kening Jasmine menenangkannya.


Sedangkan Jasmine hanya menikmati perhatian dan kehangatan yang diberikan oleh Byan.


"Sekarang kita sarapan ya, gue udah buat sarapan untuk kita saat loe tidur tadi. Ayo buruan keburu dingin nasi gorengnya!" pinta Byan menuntun Jasmine berdiri menuju meja makan.


Jasmine tersenyum bahagia, dia sudah salah mengira tentang Byan yang telah pergi jauh darinya, rupanya Byan hanya pergi ke dapur untuk membuat sarapan mereka berdua.


Keesokan paginya kembali, tepat hari ini adalah hari dimana janji kesepakatan di antara Jasmine dan Byan berakhir. Byan akan pergi jauh dari Indonesia. Sedangkan Jasmine dia tidak tahu harus kemana kakinya melangkah setelah berpisah dengan Byan.


Byan telah memakai pakaian rapi dan wangi dengan parfum yang begitu lembut disukai oleh Jasmine. Byan menghampiri Jasmine yang telah berdiri di depan pintu sejak setengah jam yang lalu. Jasmine pun telah rapi dengan pakaiannya dan ransel seperti di awal pertemuan dia membawanya. Jasmine pun akan meninggalkan apartemen milik Byan itu.


"Jasmine, loe udah siap? Masih ada waktu 15 menit untuk kita mengucapkan perpisahan. Setelah itu gue akan ke bandara. Sedangkan loe...," Byan menggantungkan ucapannya.


"Emm, gini deh ... nanti gue suruh anak buah gue untuk temani loe cari rumah atau apartemen. Dan ini cek buat loe. Itu udah gue tulis nominalnya. Loe tinggal cairkan saja nanti," ujar Byan memberikan selembar cek pada Jasmine.


Jasmine hanya diam tapi dia meraih selembar cek dari tangan Byan. Saat melihat cek itu, Jasmine kaget dengan nominal yang telah ditulis di sana.


"Maksud loe apa kasih gue cek sebanyak ini dengan jumlah 2 milyar. Loe nggak salah, kan? Loe pikir gue wanita malam seperti wanita yang pernah loe pakai, gitu?" Jasmine marah hingga matanya merah berkaca-kaca.


"Bukan begitu, loe salah paham Jasmine. Gue kasih uang itu sebagai uang nafkah selama loe janda. Gitu doang kok. Lagian gue nggak pernah anggap loe wanita malam," ungkap Byan tanpa berpikir dulu tapi dengan jujur dan tulus memberikan uang itu pada Jasmine.

__ADS_1


Byan meraih kedua bahu Jasmine perlahan.


"Tolong jangan ada lagi pertengkaran di antara kita untuk terakhir kalinya. Gue ingin kita berpisah secara baik-baik Jasmine. Please, jangan berpikir buruk sama gue," Byan menatap wajah Jasmine meyakinkannya.


"Gue minta maaf jika uang yang gue beri membuat loe terhina. Tapi yakinlah, bahwa uang itu gue kasih karena loe wanita janda dari seorang Byan," ujar Byan mengingatkan.


Janda? Kata itu yang membuat Jasmine bersedih. Menikah diusia muda dengan pernikahan seumur jagung dan kini akan beralih dengan gelar janda. Apa kata orang nanti? Bagaimana jika orang bertanya tentang mantan suaminya? Lalu apa yang akan Jasmine jawab? Asal usul Byan saja Jasmine tidak mengetahuinya. Jasmine benar-benar frustasi oleh itu.


Byan menatap jam di tangannya lalu beralih menatap Jasmine.


"Tidak ada waktu banyak, sekarang dengarkan gue, Jasmine. Gue minta sama loe, hiduplah bahagia setelah kita berpisah. Gunakan uang itu untuk kebutuhan hidup loe," pesan Byan kepada Jasmine yang hanya menatap lekat wajah Byan untuk terakhir kalinya.


Jasmine diam tanpa kata, dia tidak mempedulikan perkataan Byan padanya.


"Hiduplah dengan nyaman, ok?" ucap Byan menambahkan.


"Jasmine, jawab perkataan gue?" Byan mengguncang bahu Jasmine cukup kuat.


Tapi lagi-lagi Jasmine diam tanpa kata, hanya anggukan yang menjadi jawaban.


"Gue harap kelak kita tidak akan pernah bertemu lagi. Jika memang kita bertemu, maka anggaplah kita hanya dua orang asing yang tidak mengenal satu sama lain," ucap Byan lirih dan getir. Ada keterpaksaan yang dia ucapkan.


Deg


Jasmine begitu sesak dadanya. Ingin rasanya dia menangis sejadi-jadinya tapi dia coba menahan.


"Lalu, bagaimana dengan kenangan yang telah kita ciptakan bersama?" tanya Jasmine berharap kejujuran dari jawaban Byan.


Byan terdiam sejenak mengingat sekilas masa lalu bersama Jasmine ketika mereka menjalin hubungan berdua. Dia pun tidak tahu akan menjawab apa.


"Lupakan ... lupakan kenangan itu jika memang tidak pantas untuk diingat, dan lupakan kenangan itu jika hanya membuat luka," ujar Byan seakan memberi perintah.


Deg

__ADS_1


Sungguh teriris hati Jasmine. Dia terdiam dan ingin rasanya dia menangis, tapi sebisa mungkin dia menahannya dengan menundukkan pandangannya. Bisa-bisanya Byan berucap dengan mudah kalimat menyakitkan itu pada Jasmine.


__ADS_2