Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Menyalahkan


__ADS_3

Suasana rumah sakit tempat Jasmine di rawat, di ruang VIP. Masih setia ditemani oleh lelaki yang menabraknya itu, bahkan lelaki itu rela meninggalkan pekerjaannya demi tanggung jawabnya pada Jasmine. Dia duduk di sofa tak jauh dari Jasmine berada.


Beberapa kali lelaki itu mengusap wajahnya, sesekali melihat jam ditangannya dan tak henti menatap Jasmine, berharap dia membuka matanya.


"Sampai kapan wanita ini sadar? Ini sudah dua jam," gumam lelaki itu sambil menghela nafasnya cukup berat.


Tak lama pintu ruang rawat pun terbuka.


"Maaf mengganggu, Tuan Atha. Saya hanya menyampaikan pesan utusan dari Amerika. Apakah Tuan masih tidak akan melanjutkan keberangkatan ke sana? Karena meeting kali ini adalah pemilihan pimpinan di kantor pusat, Tuan!" ucap Billy, sang asisten pribadi dengan sangat sopan pada bosnya.


"Saya nggak akan ke Amerika jika kondisi dia saja masih belum membaik," ucap Atha sembari menatap Jasmine iba.


"Lagian kursi pimpinan itu tidak akan pernah jadi milik saya selama paman masih berkuasa di sana," Atha mengalihkan pandangannya ke arah Billy dengan kekehan kecilnya santai.


Billy cukup cemas dengan situasi yang dihadapinya bahkan Atha sekaligus.


"Tapi dia tidak berhak atas...," ujar Billy yang belum terselesaikan tiba-tiba dipotong langsung oleh Atha.


"Ssttt, biarkan saja. Saya ingin melihat sampai dimana paman bertahan," kata Atha dengan tenangnya.


Nyatanya, lelaki yang menabrak Jasmine adalah Atha Bamantara. Dia adalah seorang CEO di sebuah perusahaan ternama di Indonesia dan pusat perusahaan terbesarnya ada di Amerika. Ada permasalahan yang terjadi pada perusahannya sekarang ini, tapi sayangnya Atha harus membatalkan keberangkatannya ke Amerika untuk meeting besarnya, itu semua karena kecelakaan yang terjadi.


Bagaimanapun juga seorang Atha tidak akan mementingkan masalah pribadinya. Saking baik hatinya dan tanggung jawabnya dia pada Jasmine, maka hal yang paling penting bagi dia adalah keselamatan seseorang, apalagi seseorang itu ada sangkutan dengannya.


Atha mempunyai akhlak yang baik, sopan dan banyak dikagumi oleh kaum hawa disekitarnya. Apalagi perawakan Atha yang berwajah blasteran Amerika. Bahkan orang-orang begitu heran jika melihat Atha dari sudut kehidupannya yang belum menikah di usianya yang terbilang matang, yakni 28 tahun.


Entah kenapa Atha masih saja betah melajang. Alasannya bukan karena kriteria Atha yang pemilih untuk memiliki seorang istri tetapi Atha adalah lelaki yang begitu taat agama yang cukup baik. Tentunya wanita pilihan Atha sudah pasti yang berhijab dan sholehah, ya mungkin saja.


"Beritahukanlah pembatalan keberangkatan saya ke sana pada paman, maka dia akan bahagia setelah mendengarnya," pinta Atha  bernada datar, tapi jelas sekali bisa dilihat bahwa Atha sangat sedih harus mengambil keputusan yang sebenarnya tidak dia inginkan.


Billy begitu murung dan sangat kecewa.

__ADS_1


"Baiklah, akan saya sampaikan pesan Tuan!" Billy pun berjalan hendak keluar dari ruang rawat dengan perasaan bimbang juga simpati terhadap Atha.


Bisa dibilang, Billy Sukma adalah asisten yang paling loyal dan begitu menghormati dan menghargai semua orang terutama kepada keluarga Atha Bamantara. Billy tahu jika Atha adalah orang yang hidupnya paling tidak beruntung di dunia bisnis semenjak meninggalnya sang kakek dari garis keturunan ibunya.


Sungguh malang nasib Atha Bamantara yang kehilangan kedua orang tuanya terutama sang kakek yang paling menyayanginya. Sebenarnya sang kakek lah yang paling berkuasa atas perusahaan keluarganya. Tapi sayangnya seorang anak yang lain dari sang kakek, yakni paman dari Atha Bamantara merebut hak waris darinya hingga kedudukan yang menjadi milik Atha masih dikuasai oleh pamannya.


"Aku berharap semoga kau mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya kau dapatkan, Tuan Atha!" batin Billy lirih dan sesekali membalikan tubuhnya melirik Atha, lalu berjalan kembali dan kali ini meninggalkan bosnya yang terlihat letih itu.


Setelah itu, Atha membaringkan tubuhnya di sofa hingga terlelap di sana.


Tak berapa lama kemudian, Jasmine membuka matanya lalu menatap langit-langit atap kemudian beralih menatap sekeliling ruangan yang dianggapnya asing itu. Dia bingung dan sejenak melupakan kejadian kecelakaan mengenai dia.


Jasmine bangkit duduk dan tiba-tiba merasakan sakit di kaki kirinya, hingga seketika itu dia pun mengingat kejadian waktu dia berada di depan bandara. Kecelakaan yang dia alami begitu jelas di ingatannya. Seketika itu pula dia mengingat satu nama, yaitu Byan.


"Aku harus bertemu Byan sekarang," gumam Jasmine panik.


Jasmine hendak turun dari ranjang, namun kakinya tak mampu untuk berjalan, sehingga dia jatuh ke lantai.


Suara jeritan Jasmine terdengar oleh Atha yang tengah tidur di sofa. Seketika Atha terbangun dan menatap arah suara jeritan yang ia dengar, kemudian dia bangkit dan dengan cepat dia mendekati Jasmine membantunya berdiri.


"Astagfirullah, jangan bergerak, kaki kamu masih sakit!" seru Atha begitu cemas dan panik.


Atha pun langsung membantu Jasmine berdiri, tapi ditepis langsung oleh Jasmine.


"Lepaskan, aku harus ke bandara sekarang!" ujar Jasmine tak mempedulikan kehadiran Atha maupun ucapannya.


Jasmine masih saja mencoba bangkit berdiri, tapi lagi-lagi dia jatuh tersungkur ke lantai.


"Akhhhh...!" teriak Jasmine kesakitan kembali.


"Sudah aku bilang, jangan bergerak!" seru Atha yang kembali membantu Jasmine untuk membuatnya berdiri.

__ADS_1


"Tapi aku harus ke bandara sekarang, tolong jangan halangi aku!" teriak Jasmine memberontak.


"Kau masih lemah dan kakimu tidak sanggup untuk berdiri apalagi berjalan!" cegah Atha.


"Lepaskan, aku harus pergi sekarang!" Jasmine masih saja berontak.


Atha terpaksa harus mencekal kedua tangan Jasmine karena Jasmine begitu keras kepala. Atha sangat takut akan terjadi hal buruk pada kandungan Jasmine bila wanita itu terjatuh berulang kali di lantai.


"Kenapa wanita ini bersikeras untuk pergi ke bandara sampi berulang kali terjatuh? Dia seolah tidak peduli dengan kandungannya. Apa mungkin wanita ini belum mengetahui kehamilannya?" batin Atha bertanya-tanya.


Atha bingung dan harus berbuat apalagi untuk membujuk Jasmine agar tidak bergerak sementara waktu mengingat kakinya yang masih cidera.


"Hei, lepaskan aku!" teriak Jasmine lantang.


Atha tersentak dengan teriakan Jasmine, tapi sebisa mungkin Atha bersikap tenang pada Jasmine yang selalu berontak.


"Jangan membantah, jika kau memaksakan dirimu maka kau tidak akan pernah bisa berjalan dengan kakimu lagi," teguran kasar oleh Atha dengan kalimat yang terlontar begitu saja.


Seketika tubuh Jasmine mematung atas perkataan Atha. Dia pun sadar jika saat ini memang kakinya tak bisa berdiri karena sakit yang dia rasakan.


"Tapi aku harus ke bandara, aku harus bertemu dengan dia, hiks...hiks...!" Jasmine menangis dengan lemah.


Atha menjadi cemas melihatnya, tangisan Jasmine membuat dirinya merasa iba. Karena niat Atha hanya ingin membantu Jasmine yang sedang lemah, tanpa aba-aba dan sangat terpaksa, Atha langsung menggendong Jasmine dan membawanya ke ranjang tempat tidur.


"Kau istirahatlah dulu, jangan kemana-mana, aku akan panggilkan dokter," titah Atha hendak meninggalkan Jasmine di ruang rawat.


"Tunggu!" Jasmine menghentikan langkah Atha.


"Kau yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini, bukan? Jika kau tidak menabrakku, maka sudah pasti aku bertemu dengan dia," ujar Jasmine mengarahkan pandangan matanya pada Atha seolah menyalahkannya.


Atha menghela nafasnya dalam tak mempedulikan perkataan Jasmine. Atha malah melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Apa wanita itu tidak sadar bahwa yang salah bukan hanya aku saja, tapi dia juga," gumam Atha dengan sabarnya sembari berjalan memanggil dokter untuk Jasmine.


__ADS_2