
Saat ini Sakha telah berada di Indonesia bersama dengan Byan yang mengantarkan anak semata wayangnya itu. Tak tanggung-tanggung, Byan selalu menuruti apa kehendak Sakha, salah satunya adalah merahasiakan kepulangan mereka ke Indonesia dari Atha maupun Jasmine. Ya, Sakha sengaja melakukan itu karena ingin memberikan kejutan kepada orang tuanya.
Ting tong Ting tong
Terdengar suara bel rumah diketuk dari luar kediaman Atha Bamantara.
Ceklek
"Subhanallah, Nak Sakha. Kamu sudah kembali. Tambah tampan saja kamu, Nak!" betapa senangnya bi Narti kala dia membukakan pintu yang ternyata sudah terpampang wajah anak majikannya.
"Ssstttt ... Mama, papa dan Ziva mana, Bi? Jangan keras-keras suaranya, sengaja Sakha pulang nggak ngabarin mereka. Sakha ingin memberi kejutan," ujar Sakha dengan suara yang sangat pelan dan tak lupa jarinya dia letakkan di mulutnya guna memberi kode pada bi Narti untuk memelankan suaranya.
Bi Narti mengangguk dan menutup mulutnya sejenak dengan tangan kanannya.
"Tuan Atha masih di kantor, sedangkan non Jasmine dan Ziva ada di ruang keluarga nonton TV," bisik bi Narti.
"Baiklah, Sakha akan ke sana. Bibi siapin makanan lezat buat Sakha, ya!" Sakha mulai melangkah masuk ke dalam rumahnya sembari memberi perintah pada bi Narti.
"Oh, tentu saja. Sudah lama Nak Sakha tidak makan masakan Bi Narti. Pasti kali ini dijamin lezat," sahut bi Narti dengan senang.
Setelah itu, Sakha langsung menggandeng tangan Byan untuk mengajaknya masuk ke rumah.
"Ayo, Om Abi. Kita masuk sama-sama, tapi pelan-pelan saja, jangan bersuara nanti mama dan Ziva bisa tahu, " titah Sakha yang mulai berjalan sembari tak lepas menarik tangan Byan untuk melangkah bersama.
Byan hanya tersenyum senang dan mengikuti apa yang ditugaskan oleh Sakha. Apalagi kesempatan untuk dirinya bisa bertemu dengan Jasmine secara langsung. Jujur dirinya sangat merindukan Jasmine yang sudah satu tahun tak dia temui. Terkadang dia melepas rindu hanya melalui foto Jasmine. Karena Byan pernah mengambil foto Jasmine lewat ponsel Sakha, lalu dia kirimkan di ponselnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Sakha. Byan sungguh nekat.
Saat mereka berdua sudah berada di ruang keluarga. Terlihat Jasmine dan Ziva sedang menonton TV sembari memakan cemilan, begitu khusuk menonton, dan itu adalah waktu yang tepat untuk Sakha memberikan kejutan kepada ibu dan adiknya.
Sakha mengendap-endap melangkah maju ke depan kursi yang di duduki oleh Jasmine dan Ziva. Kebetulan sekali di kursi yang mereka duduki memang ada sedikit celah di tengah, sehingga Sakha bisa masuk ke dalam celah itu, kemudian Sakha bergegas melangkah cepat untuk duduk di antara Jasmine dan Ziva.
"Surprise!!!" teriak Sakha memekikkan telinga.
Jasmine dan Ziva terperanjat kaget. Lalu sejurus kemudian mereka menatap orang yang berada ditengah-tengah mereka dengan terbengong. Mereka saling diam, berpandangan satu sama lain. Seolah tak percaya bahwa yang berada di tengah-tengah mereka itu adalah orang yang selama ini mereka berdua rindukan.
"Apa kabar Mama, Ziva?" tanya Sakha sambil tersenyum dibarengi dengan mencium pipi kedua perempuan yang berada diantara dirinya.
Cup cup
"Hey, aku Sakha. Kalian seperti melihat hantu saja. Apa kalian tidak suka jika aku pulang? Baiklah, aku akan pergi ke Amerika lagi," Sakha merajuk, dia hendak bangkit berdiri.
__ADS_1
Mata Jasmine dan Ziva terbelalak.
"Hey, jangan!!!" cegah Jasmine dan Ziva bersamaan.
"Sakha!" ucap Jasmine.
"Kakak!" ucap Ziva.
Dua perempuan berbeda usia itu memeluk Sakha dengan erat. Saling melepas rindu. Jasmine sampai terharu dibuatnya.
Uhuk uhuk uhukkkk
"To-long bi-sa dilepas pelukannya? A-aku kehabisan nafas," ujar Sakha mulai terasa sesak.
Mendengar itu, Jasmine dan Ziva pun mulai melonggarkan pelukan mereka dari Sakha.
"Kakak jahat, tidak bilang padaku jika mau pulang ke Indonesia. Tahu gitu Ziva bisa meminta sesuatu di sana. Hem Kakak payah," cemberut Ziva merajuk.
"Oh jadi kamu lebih mementingkan hadiah dari pada Kakak pulang, hah? Kakak beneran balik lagi ke Amerika untuk waktu yang lama nanti," goda Sakha.
"Jangan, jangan ... Ziva bercanda aja kok, Kak. Lagian juga Kakak nggak bilang-bilang sih. Tapi oleh-oleh buat Ziva ada kan?" sambil bergelayut manja dan senyum nyengir terbit di wajah Ziva pada Sakha.
"Kakak ingat pesanan Ziva, kan?" tanya Ziva tak sabaran.
"Iya, iya, pesanan kamu masih di dalam mobil. Ambil aja sendiri," kata Sakha memberitahu.
"Yeayyy, thank you Kakak sayang," ucap Ziva sambil mencium pipi Sakha lalu melenggang pergi ke arah mobil di luar rumah.
Sakha hanya menggeleng dengan senyuman bahagia.
"Sakha, Mama kangen kamu sayang. Gimana, kamu baik-baik saja selama di Amerika kan?" tanya Jasmine sembari memegangi tubuh Sakha guna memastikan bahwa Sakha baik-baik saja.
"Sakha, baik kok Ma. Om Abi dan kakek selalu memberikan yang terbaik untuk Sakha tanpa kekurangan satu apapun. Mama tenang saja," jawab Sakha apa adanya. Memang selama ini Sakha sangat bahagia tinggal bersama dengan Byan dan Darwish.
Jasmine menatap Byan yang masih berdiri di dekat sofa. Mata mereka bertemu, tapi Jasmine mengalihkan pandangan matanya secepat mungkin dari Byan. Perasaan yang selama ini menyelimuti dirinya dalam ketakutan bahwa Byan bisa saja mengambil Sakha darinya. Tapi sekarang akhirnya Jasmine bisa bernafas lega. Sakha bisa berkumpul kembali dengan dirinya.
"Sekarang Sakha istirahat ya, nanti kalau papa pulang, Mama kasih tahu, kita makan malam sama papa," jelas Jasmine sembari membelai rambut Sakha penuh kasih sayang.
Sakha pun mengangguk.
__ADS_1
"Sakha ke kamar dulu ya, Om. Terima kasih sudah mengantar Sakha," ujar Sakha pada Byan, kemudian berlalu ke kamarnya.
"Sama-sama Sayang," sahut Byan sambil memandang kepergian Sakha.
Jasmine yang masih berdiri di dekat sofa, sengaja dia menyuruh Sakha untuk beristirahat, karena dia tahu bahwa sedari tadi lelaki yang berstatus mantan suaminya itu seolah ingin menyampaikan sesuatu hal padanya.
Byan yang merasa dirinya diperhatikan oleh Jasmine menjadi salah tingkah. Jantungnya berdebar seolah bertemu dengan kekasihnya yang sudah lama dia rindukan.
"Terima kasih sudah menepati janjimu untuk mengembalikan Sakha padaku tepat satu tahun lamanya," kata Jasmine yang mengawali perkataannya pada Byan.
"Hem," sahut Byan sambil mengangguk pelan.
Mendengar jawaban singkat dari Byan, suasana hati Jasmine menjadi kesal.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku permisi," ucap Jasmine hendak melangkah pergi.
"Tu-tunggu," cegah Byan dengan ragu.
Jasmine pun berhenti seketika.
"Tepati janjimu juga untuk mengatakan pada Sakha tentang diriku bagi kehidupannya. Sesuai dengan janjiku yang tidak akan pernah menjadikan Sakha seperti diriku yang pengecut," Byan mengingatkan.
"Nanti aku bicarakan sama mas Atha dulu," jawab Jasmine.
"Baiklah, aku tunggu kabarnya secepat mungkin," ujar Byan seperti perintah.
"Kau tidak sabaran," gumam Jasmine sebal.
"Jelas dong, karena aku yang sudah membuat Sakha lahir di rahim kamu," tutur Byan mengingatkan.
"Kau, kenapa perhitungan sekali sih?" Jasmine merasa tidak suka dengan pengakuan Byan, walau kenyataannya nya memang perkataan Byan ada benarnya.
"Emm ... bu-bukan begitu. A-aku hanya mengingatkan saja. Siapa tahu kau lupa siapa ayah kandungnya Sakha," ucap Byan gugup, dia merasa bersalah dengan pengakuannya barusan.
"Hei kau, kenapa meremehkan aku? Kau sama saja seperti dulu, dasar egois!!!" tekan Jasmine dengan kesal, kemudian berlalu pergi meninggalkan Byan begitu saja.
Byan membelalakkan matanya, dia sangat merutuki mulutnya yang suka asal bicara.
"Jasmine, tunggu! Aku salah bicara tadi. Ahhh, siallll," teriak Byan sembari mengumpat dengan menyesali perbuatannya sendiri.
__ADS_1
Niat hati ingin berbaikan dengan Jasmine agar wanita itu memaafkan kesalahannya di masa lalu, tetapi malah Byan membuat Jasmine semakin membencinya. Masalah mereka semakin rumit, pikir Byan.